Pagi itu hujan turun deras. Langit tampak gelap. Jalanan terlihat beberapa orang berjalan dengan payung. Ada juga orang-orang yang sudah memakai jas hujan terlihat lalu-lalang dengan kendaraan bermotornya.
Atmosfer yang terasa dingin merambat masuk di sela-sela jendela yang tidak tertutup begitu rapat. Namun terdapat tirai yang sudah tertutup hingga sama sekali tidak ada cahaya yang menerangi kamarnya. Tampak Aria duduk di sudut kamarnya. Dia meringkuk gemetaran di balik selimutnya yang tebal. Di kelilingi sunyi yang terlalu bising di kepalanya.
Daya ponselnya mati, lampu sengaja dimatikan olehnya. Bukan karena menghemat listrik, tetapi karena ia tak sanggup menatap bayangannya sendiri di cermin. Aria merasa lemah dan rapuh. Sangat sulit baginya untuk berdiri. Dia sudah mencoba untuk berpijak lagi di bumi dengan segala kesadarannya, tetapi realita kembali membunuhnya.
Terdengar suara ketukan dari luar kamarnya. “Mas Aria, bapak sama ibu sudah pergi kerja. Mereka berpesan kalau masnya nggak ada kuliah hari ini, mas Aria bisa nyusul mereka di rumah makan buat lanjut magang. Mas?” Aria tidak menghiraukan suara perempuan yang terdengar di luar kamarnya. Seluruh tubuhnya masih gemetaran.
Dia mengeluarkan tangannya dan terus melihat gelang karet berwarna kuning cerah yang terpasang di tangan kanannya. Dia berusaha menguasai diri. Tetapi tetap tidak bisa. Dia kembali menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut.
***
Satu minggu sudah berlalu. Sejak presentasi hari itu, Asia tidak melihat Aria hadir di perkuliahannya. Asia membaca obrolan chat lama di grup ponselnya.
Semenjak Aria menghilang, group-chat mendadak sepi. Dia baru sadar kalau chat mereka biasanya ramai karena ada nyawanya disana. Dan ‘nyawa' itu adalah sosok Aria. Tanpanya, obrolan mereka tak lagi asik.
Bisa diumpamakan Aria seperti micin. Makanan akan terasa semakin enak jika ada tambahan micin di dalamnya. Bagi mereka, itulah Aria. Hubungan mereka tetap baik seperti biasanya, namun terasa hambar tanpa anggota kelompok kelimanya.
“Harap perhatian semuanya!” para mahasiswa Psikologi yang semula ramai, mulai memperhatikan keberadaan Satria yang berdiri di depan kelas. “Kelas pak Inggih ganti di ruangan sebelah. Ayo, bubar! Pindah ke sebelah sekarang.”
Para mahasiswa langsung bergegas keluar kelas. Satria meminta Asia dan kedua temannya untuk mengobrol dengannya sebentar.
“Ada apa, Sat?” tanya Asia. Satria memastikan tidak ada mahasiswa yang berada di ruangan tersebut, selain dia dan ketiga temannya.
“Aku cuma menceritakan ini hanya dengan kalian saja ya. Tadi pak Inggih bertanya padaku kenapa Aria tidak hadir selama seminggu,” ungkap Satria.
Marella bingung dan nyeplos, “Lah, darimana pak Inggih tahu? Kan pak Inggih cuma ngajar sekali dalam seminggu.”
Satria menepuk jidatnya. Mayu pun menjawab, “Ya bisa jadi ada dosen yang cerita ke pak Inggih atau mungkin beliau melihat langsung absensi kehadiran mahasiswanya. Ingat, pak Inggih kan dosen wali kita.”
“Yaelah, itu masih ‘kemungkinan' kan?” celoteh Marella yang membuat Satria mengelus-elus dadanya. Mayu dan Asia juga menghela nafas singkat secara bersamaan.
“Sudahlah! Tinggalin ajah nih si oneng. Ayo ke kelas sebelah. Nanti kita telat masuk,” ajak Mayu dengan greget. Asia dan Satria berjalan keluar ruangan bersama dengan Mayu. Sementara Marella menyusul mereka di belakang.
Saat keluar ruangan, mereka melihat Aria yang sedang mengobrol dengan pak Inggih tidak jauh dari kelas sebelah. Keduanya tampak mengobrol dengan serius. Setelah itu, pak Aria berjalan duluan yang kemudian disusul Aria yang berjalan di belakangnya.
“Eh, kalian kok belum masuk? Ayo, masuk. Kelas sudah mau dimulai,” tegur pak Inggih. Satria dan Marella bergegas masuk mendahului pak Inggih.
Asia juga berjalan masuk ke dalam ruangan kelas tepat di belakang dosennya. Entah kenapa dia ingin melihat bagaimana keadaan Aria sekarang. Gadis itu melihat Aria dan Mayu yang saling menatap dalam diam. Saat Mayu menyadari jika Asia masih berdiri disana, dia segera mendorong dan mengajak gadis itu untuk segera masuk ke dalam kelas.
Saat pak Inggih menayangkan file word yang terpampang jelas di layar proyektor, membuat mahasiswanya berseru heboh.
“Ya, nggak terasa sudah bulan ke-enam ya sekarang? Pertemuan kuliah kita tinggal tersisa dua kali pertemuan lagi. Tetapi hari ini adalah kelas Antropologi terakhir kita,” jelas pak Inggih sambil membetulkan kacamatanya. Reaksi para mahasiswa menunjukkan ekspresi kecewa. Tapi ada juga yang tersenyum lebar. “Nah, saya memberikan waktu dua minggu untuk mengumpulkan dua tugas akhir individual ini. Tugas pertama kalian harus mereview teori antropologi struktural Levi Strauss. Bobot penilaiannya dua puluh persen,” sepanjang pak Inggih menjelaskan, beberapa mahasiswa ada yang mencatat dan ada juga yang hanya mendengarkan.
Pak Inggih lanjut menjelaskan sambil menggerakkan kursor, “Tugas kedua kalian bisa memilih salah satu diantara kedua pilihan yang saya berikan. Pilihan pertama, kalian harus mendeskripsikan fakta kebudayaan di sekitar. Kalian bisa melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi tentang kebudayaan tersebut. Pilihan kedua, kalian harus menarasikan cerita rakyat atau foklor yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat di sekitar. Tugas ini sama ya seperti pilihan yang pertama, harus melakukan wawancara. Bobot penilaiannya sama, tiga puluh persen. Ada pertanyaan?”
Ditra mengangkat tangannya. Pak inggih mempersilakannya untuk berbicara. “Bagaimana dengan standar pembuatannya, pak? Apakah ada ketentuannya ukuran berapa, harus menggunakan font apa, dan sebagainya?” tanya Ditra.
“Oh ya, jelas ada. Sebentar,” pak Inggih kembali menggerakkan kursornya. Kemudian menunjukkan beberapa ketentuan format penulisan. “Di word ini sudah ada ketentuannya. Ditra maju kesini. Salin file ini ke flashdisk seperti biasa dan bagikan di grup kelas ya.”
Ditra meletakkan tangan kanannya di pelipis, memberi hormat, “Siap, pak!” dengan segera, ia maju ke depan dan menyalin file tersebut ke dalam flashdisk-nya.
“Pak,” giliran Asia mengangkat tangannya. Pak Inggih melihat ke arahnya. “Wawancaranya harus dengan tetua setempat atau boleh masyarakat biasa?”
Pak Inggih berdeham,lalu menjelaskan kembali, “Pertanyaan yang bagus. Kalian bisa melakukan wawancara dengan masyarakat biasa tetapi yang mengetahui dan bisa menceritakan tentang fakta kebudayaan ataupun cerita rakyat. Ada yang ingin bertanya lagi?”
Marella mengangkat tangannya, “Pak, kata bapak kan hari ini kelas terakhir kita, berarti dua minggu ke depan kita libur dong?”
Seketika para mahasiswa langsung menyorakinya. “Huu ... Maunya!” sorak Mayu juga. Pak Inggih ikut tertawa melihat reaksi para mahasiswa bimbingannya.
Beliau berucap sambil tersenyum, “Ya, kalian libur. Tetapi kalian tetap dua kali tanda tangan absensi kehadiran saat mengumpulkan tugas mandiri di ruang fakultas ya,”