Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #8

#8 | Belajar Percaya

“Baik, bu. Terima kasih banyak karena sudah membantu kami,” ucap Asia sambil bersalaman dengan kepala sekolah dan seorang guru dari taman kanak-kanak Dharma Bhakti. Aria juga ikut bersalaman dengan guru-guru tersebut. “Kami berdua pamit dulu, bu. Mari.”

Mereka berdua keluar dari ruangan dan menyusuri jalan sampai di depan gerbang taman kanak-kanak. Asia mencentang jurnal hariannya, “Berarti surat sudah diberikan kepada kepsek, check. Panduan indikator aspek perkembangan sosial-emosional dan bahasa sudah aku buat semalam, check. Tiga hari lagi kita kesini untuk melakukan observasi dan wawancara. Kamu ada waktu kan besok saat observasi dan wawancara dengan guru tadi?”

“Bisa, kok,” jawab Aria sambil mengetik ponselnya. Asia merasa ragu dengan jawaban temannya itu. Pasalnya, terkadang Aria tidak bisa dipegang teguh janjinya. Kerja kelompok hingga presentasi pun dia bisa menghilang secara tiba-tiba.

“Yakin? Kalau kamu ada sesuatu yang lebih penting, lebih baik katakan sekarang daripada nggak sama sekali,” gerutu Asia. Cowok tinggi semampai yang semula fokus dengan handphone-nya, kini melihat ke arah Asia sambil tersenyum manis padanya.

“Nga-ngapain kamu senyam-senyum kek gitu? Tahu sih kalau kamu murah senyum, suka tertawa juga. Tapi jangan ngeliatin aku terus sambil senyum kek gitu dong. Serem anjir,” dumel Asia sambil memalingkan wajahnya. Asia sempat sedikit berdebar dan dia tidak suka hal itu. Apa yang ia ucapkan, berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya sekarang.

“Khawatir banget aku nggak datang? Tenang saja, waktu denganmu lebih penting kok daripada waktu untuk kepentinganku,” gombalnya kemudian dengan nada manja. Asia mendadak geli.

Keduanya berjalan lagi ke tempat parkir. Aria menaiki motornya, lalu menunggu Asia naik di atas motornya. Gadis itu tersadar akan sesuatu. Dia menepuk jidatnya.

“Astaga! Aku lupa bilang kalau laptopku lagi rusak. Kamu ada laptop kah?” tanyanya. Aria mengangguk. “Bagus! Kalau begitu kamu harus bawa laptop kamu saat kita melakukan observasi dan wawancara besok. Kita kerjakan langsung di taman yang nggak jauh dari sini. Okay, Aria?”

“Siap, bossss ... !!!” kata Aria langsung bersikap hormat bak tentara. Asia tersenyum singkat ketika naik ke atas motor. “Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimana tugas kelompok kita sehari-hari jika tanpamu? Kamu punya rencana yang matang dan bisa meng-handle semuanya dengan baik. Aku kagum padamu, Asia.”

Saat memakai helm, gadis itu menyembunyikan senyumannya dengan menundukkan kepala. Dia baru tahu jika Aria juga bisa berkata manis seperti itu. Namun Asia juga merasa bahwa cowok yang duduk di depannya susah ditebak dengan segala kerandomannya. Kadang lucu, kadang bawel, kadang bermulut manis, kadang kata-katanya manis, dan juga ... kadang-kadang membuatnya khawatir.

“Sudah, ah! Ayo, jalan! Bikin orang baper ajah!” sahutnya asal ceplos. Tetapi karena suaranya bersamaan dengan suara deru motor vespa milik Aria, membuatnya bertanya apa yang dikatakan oleh Asia sebelumnya. Asia juga terkejut dengan apa yang dikatakannya barusan. “Aa ... Ba ... Lab ... Lapeeerr. Maksudku laper! Kamu ini gimana sih. Ayo buruan balik ke kampus! Aku sudah lapar nih!”

Aria langsung menjalankan motornya seraya berkata, “Oh, bapeerrr ... Kukira lapeerrr!”

Asia langsung mendelik saat mendengar tawa dari Aria. Ternyata cowok itu mendengar perkataannya dengan jelas. Asia mencubit pinggang Aria dengan kesal. Cowok itu mengaduh kesakitan. Tetapi Aria tidak marah. Sepanjang perjalanan Aria terus saja tertawa dan terus saja menggoda Asia dengan banyolannya.

***

Asia bisa melihat Aria yang sudah rajin masuk kuliah lagi. Aria terlihat seperti seorang Aria yang biasanya. Cowok itu mulai tertawa lagi. Sesekali juga merecoki Asia dengan kejahilannya.

Namun entah kenapa Asia masih merasakan keganjilan dalam diri Aria. ‘Dia tersenyum tapi tatapannya terasa kosong. Seakan-akan dia tidak ingin tertawa, tetapi tetap terlihat ceria seperti biasanya. Seperti ... Dipaksa untuk gembira,’ Asia mulai melamun lagi ketika makan bersama keempat temannya di kantin. Tidak henti-hentinya dia melirik ke arah Aria yang masih saling melempar canda.

‘Setahuku Satria kan sudah berteman dengannya sejak SMA? Apa Satria juga merasakan keanehan pada diri Aria seperti aku yang juga merasakan hal itu pada Aria?’ lamunannya terus berlanjut. Asia terus mengaduk es tehnya.

Mayu yang duduk di sebelahnya menyadari bahwa pandangan Asia tidak lepas dengan seseorang yang duduk di hadapannya, yakni Aria. Gadis itu menyenggol pelan lengan Asia. “Hei, ada apa? Apa ada yang aneh dengannya?” bisik Mayu pelan. Asia menggelengkan kepala dan langsung menunduk. Dia tidak ingin Mayu berpikir macam-macam seperti ibunya kepadanya. Mayu melihat ke arah Aria sebentar. Lalu dia berbisik lagi, “Dia memang selalu aneh, bukan?”

Asia menoleh. Ternyata Mayu mengatakannya sambil tertawa kecil. ‘Aku kira dia tahu sesuatu dan sadar dengan keanehan dari diri Aria. Tapi ternyata Mayu hanya bercanda,’ pikir Asia kemudian.

“Eh, guys. Sudah jam segini. Ayo, masuk! Tujuh menit lagi kelas akan dimulai,” ucap Marella sambil melihat arlojinya. Dia buru-buru menghabiskan es jeruknya. Lalu Marella, Mayu dan Aria berjalan beriringan. Satria juga hendak menyusul, tetapi dia tidak jadi pergi setelah melihat Asia yang masih meminum es tehnya.

Guys, ayo!” Marella menyuruh mereka berdua segera menyusul.

“Duluan!” sahut Satria. Aria hendak berbalik lagi dan menunggu keduanya, tetapi Marella dan Mayu menariknya untuk segera mengikuti mereka ke kelas. Akhirnya ketiganya berjalan duluan.

“Nggak apa-apa. Duluan ajah, Sat,” kata Asia sambil menyesap minumannya.

“Nggak apa-apa kok. Nungguin kamu doang. Eh, sepulang sekolah nanti kamu jadi ya melakukan observasi dan wawancara di tk?” tanyanya. Asia menganggukkan kepala. Satria mengetuk-ngetuk jarinya menunggu Asia yang masih terus meneguk minumannya sampai habis. “Tadi kenapa kamu terus ngeliatin Aria kayak gitu?”

Asia tersedak di detik-detik terakhir menghabiskan minumannya. Satria langsung memberikannya tisu. Asia mengelap mulutnya yang basah dengan tisu pemberian dari Satria.

“Ups, sori!” seru Satria. Asia melirik ke arahnya dengan malu.

“Memangnya aku sejelas itu ya? Tadi Mayu juga menyadarinya,” ucapan Asia membuat Satria tertawa.

Please deh, Asia. Walaupun pertemanan kita masih seumur jagung, tapi aku tahu satu hal kalau kamu itu selalu nggak bisa menyembunyikan reaksi di wajahmu. Wajah takut kamu saat melihat Marella dan Mayu bertengkar di kelas, wajah merah padam kamu saat Aria menyidirmu saat ospek dulu, dan wajah kamu yang penuh barisan puisi cinta saat diam-diam melirik Aria ta .... ”

“Iya, iya! Aku memang meliriknya! Sudah, jangan diteruskan!” seru Asia sambil menutupi wajahnya yang semakin malu. Satria berdiri dan terus saja tertawa.

Keduanya beranjak pergi dari kantin dan berjalan menyusuri lorong kampus. “Jadi kamu sadar juga kalau akhir-akhir ini Aria kelihatan aneh?” cetus Asia kemudian. Gadis itu bisa melihat kebingungan di wajah temannya.

“Maksudmu, aneh yang seperti apa?”

Asia enggan untuk bercerita.

“Lupakan,” katanya. Bagaimanapun juga Asia tidak ingin menceritakan sesuatu yang belum pasti. Dia memang mengikuti kata hati dan perasaannya, tetapi dia selalu berbicara fakta kepada orang lain. Dia tidak ingin apa yang dirasakannya sesaat menjadi bumerang nantinya pada orang lain. “Aku kira ... Kamu tahu sesuatu. Karena kamu kan sudah berteman lama dengannya. Sejak SMA lagi.”

“Iya, sih. Aku sudah lama berteman dengannya sejak kelas tiga SMA. Tapi aku masih belum tahu banyak tentangnya.”

Wait ... Kelas tiga SMA?” Asia menghentikan langkahnya. Satria menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan lagi. “Hadeh, aku salah nanya orang. Berarti belum terlalu lama juga dong!”

“Eh, jangan salah ya! Aku yang lebih tahu apa makanan dan minuman kesukaan Aria. Kamu nggak tahu kan warna favorit kesukaan Aria?! Hanya aku yang tahu!”

Asia tertawa melihat wajah ngambek Satria. Lantas dia balik tanya dengan penuh canda, “Kuning kan ... ?!”

“Kok tahu?” kagetnya. Asia menggeleng-gelengkan kepala sambil penuh senyum. Bagaimana dia tidak tahu dengan seseorang yang setiap harinya diperhatikannya dengan detail.

“Kemejanya selalu berwarna kuning. Kalau nggak gitu warna bajunya selalu berwarna cerah. Oh ya, gelangnya juga berwarna kuning. Setahuku itu gelang yang sudah lama keluar kan? Power balance kalau nggak salah. Ada gambar hologram juga di dalam gelang power balance yang dirancang untuk beresonansi dan merespon medan energi alami pada tubuh. Katanya bisa meningkatkan fleksibilitas, kekuatan, dan keseimbangan.”

Satria bertepuk tangan mendengar pengetahuan Asia yang luas. “Waw! Kamu tahu banyak ya soal gelang.”

Asia berpikir lagi. “Tapi pertanyaannya gelangnya asli apa kw?” Satria tertawa lagi kali ini lebih keras. “Lah ngapa nih anak? Ketularan Aria kok ketawa mulu?”

“Lah, baru saja aku memujimu yang bisa menjelaskan tentang gelang yang aku sendiri nggak tahu spesifik itu. Tapi ternyata kamu sendiri nggak bisa bedain itu asli apa kw? Hahaa .... ”

“Idih, memangnya kamu sendiri tahu?!!” dumel Asia.

“Eh, tahu dong! Setahuku asli sih.”

“Kata siapa coba?”

“Kata sahabatnya lah!” mendengar celetukan Satria membuat langkah Asia terhenti lagi. “Sahabatnya? Siapa sahabatnya?” tanyanya penasaran.

“Lah, kan dia itu .... ”

***

Asia dan Aria masuk bersama dengan guru tk di dalam sebuah ruangan kelas yang tidak seberapa luas. Ada tempat rak untuk meletakkan tas ransel, ada papan absensi yang terlihat seperti gantungan bulat yang mungil, serta ada rak-rak buku dan tempat mainan.

Asia mulai mencatat. Sementara Aria langsung berinteraksi dengan anak-anak yang menyambut gembira kedatangannya.

“Bu! Kita diajarin sama pak guru dan bu guru baru ya ... ?!” seru seorang anak perempuan berambut cepak. Dia tampak berbeda dengan murid perempuan lainnya yang memiliki rambut lebih panjang. Perilakunya juga lebih aktif . “Iya, ini pak guru Aria dan bu guru Asia. Mereka hari ini menemani ibu guru untuk mengajari kalian. Ayo, Aliya. Duduk dulu. Duduk seperti biasanya yaa ...,” jawab guru tersebut. Kemudian anak bernama Aliya itu mengomando teman-temannya untuk duduk melingkar.

“Tapi aku mau duduk ular panjang. Nggak mau ular melingkar,” ujar salah satu temannya sambil tantrum. Aliya mendekatinya dan menarik tangannya.

“Duduk ular memanjang di luar kelas. Kalau di dalam kelas, kita duduk ular melingkar. Nanti kita duduk ular memanjang di luar kok. Iya kan, bu guru?” gurunya mengiyakan pertanyaan dari Aliya. Lalu beliau menjelaskan pada Asia kalau anak yang diijinkan oleh orang tuanya untuk diobservasi adalah Aliya.

Asia melihat bagaimana Aria sudah ikut duduk melingkar bersama dengan Aliya dan murid-murid yang lain. Dia segera ikut duduk diapit dengan kedua murid lainnya. Bersama dengan guru tersebut, mereka mulai berdoa.

Lalu mereka bernyanyi sambil tepuk tangan. Wajah anak-anak tampak sangat ceria. Setelah selesai bernyanyi, anak-anak mengambil buku bergambar yang sudah disiapkan oleh gurunya berjejer di bawah lantai. Asia membantu si guru untuk membagikan buku tersebut sesuai nama murid masing-masing.

“Hari ini kita menggambar apa, bu?” tanya Aliya.

“iya, anak-anak. Hari ini kita menggambar rumah dan anggota keluarga kita ya.”

Lihat selengkapnya