Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #9

#9 | Titik Didih

Ini bukan alasan klasik. Aria benar-benar tidak bisa berakal sehat pagi itu. Ia lelah. Bukan karena banyak tugas, tapi karena setiap kata dari ayah dan ibunya kini terasa seperti pisau tumpul yang menyayat tanpa darah, menyakitkan tanpa bekas. Hanya dadanya yang sesak. Matanya kering, karena sudah terlalu sering menangis.

Sepulang dari taman kemarin, Aria bergegas pulang ke rumah untuk berganti baju dan segera kembali ke rumah makan untuk magang. Tetapi apa yang dia lihat di depan matanya adalah hari dimana hal yang ditakutkannya sudah terjadi. Kedua orang tuanya duduk di ruang tamu dengan tatapan tajam. Mata ibunya tampak sembab. Tetapi dia yakin sekali bukan karena menangisi dirinya. Sedangkan rahang bapaknya mulai mengeras. Wajahnya tampak merah padam.

‘Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Mungkin mereka mengetahui sesuatu hal yang berkaitan dengan reputasi. Apa lagi kalau bukan tentang hal itu,” pikir Aria dengan terus mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia memberanikan diri untuk berdiri dengan kepala tegak apapun yang terjadi.

Aria terkejut sesaat ketika ayahnya membanting kertas di atas meja. “Ini apa?!!” seru bapaknya dengan geram.

“Ke ... Kenapa kertas itu bisa ada di tangan bapak? Ba ... Bapak mengacak-acak kamarku ... ?!” Aria juga mulai geram. Dia tidak menyangka kalau kedua orang tuanya bisa menemukan kertas tersebut dengan mudah. Lantas dia teringat kejadian semalam yang dimana ia tidak sengaja melupakan kertas tersebut dan meletakkannya di atas meja belajar.

Ibunya mulai membuka suara, “Ibu tidak mengira kalau kamu seceroboh itu. Ibu yang menemukannya tadi pagi di atas meja belajar saat mencarimu di kamar. Kamu memang tidak bisa dipercaya. Tidakkah kamu bisa diandalkan seperti kakakmu? Apa sih masalahmu? Selama ini kami sangat memanjakanmu. Kenapa tiba-tiba jadi orang stress sih?!”

“Ak ... Aku butuh bantuan ...,” jawab Aria dengan kepala menunduk. Dia tidak berani lagi menatap mata kedua orang tuanya. Entah kenapa dia merasa malu dan kacau.

“Bantuan apa ... ?! Kamu tuh sehat-sehat saja! Jangan malu-maluin keluarga!” bentak ibunya, kini berdiri di depannya.

“Aku nggak malu-maluin seperti yang ibu pikirkan. Tapi aku sakit! Aku nyakitin diri sendiri karena aku nggak sanggup lagi!”teriak Aria dengan suara bergetar, nafasnya hampir terputus-putus.

Bapaknya menunjuk kertas itu dengan tangan gemetar. “Anak dari keluarga ini nggak perlu ke dokter jiwa. Apa kata para tetangga kalau mereka tahu? Mau kamu kalau orang-orang tahu dan bilang kalau anakku sudah gila ... ?!”

Air mata Aria jatuh begitu saja. Bukan lagi karena rasa takut tetapi karena merasa hancur lebur. Ternyata kedua orang tuanya memiliki stigma yang cukup buruk tentang hal tersebut. Keduanya seakan-akan memandang bahwa setiap pasien yang berobat ke dokter jiwa adalah orang gila. Pandangan orang lebih baik daripada kesembuhan anaknya sendiri.

“Jadi, yang lebih penting itu omongan orang ... bukan aku?” suaranya nyaris tak terdengar.

Ibu Aria menarik napas panjang. Beliau memegang tangan Aria, “Kami nggak mau kamu bergantung dengan obat. Kamu tuh bisa kuat kalau kamu mau. Jangan kelihatan lemah kayak gitu.”

Dunia Aria runtuh. Kata-kata itu menyayat hatinya dengan lebih tajam daripada gunting di kamarnya. Ia mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Matanya menatap nyalang ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.

“Kalian nggak pernah lihat aku menangis sendirian! Nggak pernah dengar jeritan aku malam-malam! Kalian cuma peduli sama apa yang kelihatan! Aaarghhh ... !!!!” teriaknya memecah suasana.

Kedua orang tuanya tidak lagi menjawab. Bapaknya memalingkan wajah. Sementara ibunya masih terus bergeming di tempatnya berdiri. Kemudian Aria memundurkan langkahnya. Dia tampak begitu kacau. “Kalian nggak perlu malu karena aku sakit. Tapi sekarang aku yang merasa malu ... karena orang tuaku sendiri menolak aku ketika aku paling butuh."

Aria berlari ke kamarnya di lantai atas dan membanting pintu keras-keras. Di dalam kamar, tangisnya mulai meledak. Tangis yang sama seperti malam-malam panjang sebelumnya. Tetapi kali ini disertai luka yang sangat dalam.

Dia terus terduduk di sudut ruangan sampai pagi. Dunia luar terus berjalan, tetapi waktu di hatinya seperti macet di satu titik, yakni saat ia merasa tidak lagi cukup. Tak cukup pintar, tak cukup baik, tak cukup berharga untuk dicintai seperti dirinya sendiri.

Aria kembali membuka matanya dan memandang kembali gelangnya lekat-lekat. “Kak, ingin rasanya aku menyusulmu disana. Kakak tahu, ternyata meninggalkanku disini sendirian malah semakin menyiksaku. Iya, janji kita berdua saat itu juga semakin membuatku menderita. Aku kangen banget sama kamu.”

Dia mulai melihat sekeliling ruangan kamarnya yang gelap. Terlihat jendela dan tirai selambu yang masih tertutup rapat. Walaupun di dalam kegelapan, dia bisa melihat jam dindingnya yang terus bergerak tiap detik. Aria menyipitkan matanya, berusaha melihat jam dinding di dalam remang-remang kegelapan. Cowok itu terkejut dan pikirannya kembali melayang dengan bayangan Asia yang menunggu kirimannya dari semalam.

Aria mulai sadar bahwa dia telah melupakan segalanya. PowerPoint, print-out makalah yang ia janjikan, dan soft file yang seharusnya ia kirimkan dari semalam. Semua bayangan itu membuat kepalanya semakin pusing. Dia mencoba untuk berdiri, menjejakkan kakinya di lantai, tetapi tetap tidak bisa. Sekelebat bayangan Asia yang marah bercampur kecewa membuatnya berusaha untuk berdiri kembali.

“Asia, tunggu aku sekarang!” dengan langkah tertatih, dia mengambil tas ransel dan menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Asia masih meminjam laptop Mayu untuk mengetik powerpoint dengan mengandalkan ingatannya yang terbatas. Berbeda dengan pemikirannya kemarin, kini dia merasa ditipu oleh Aria. Dia mengira Aria sudah berubah. Bahkan Asia mulai belajar mempercayainya dan mengandalkan Aria sepenuhnya.

Seharusnya tiga puluh menit yang lalu, keduanya sudah maju untuk melakukan presentasi tentang wawancara dan observasi yang mereka lakukan di tk kemarin. Untungnya bu Sahara memberikannya kesempatan untuk menunggu kedatangan Aria. Saat Asia masih berada pada detik-detik menunggu kedatangan temannya itu, Satria dan Mayu memintanya untuk memiliki rencana cadangan daripada tidak berbuat apa-apa.

Awalnya Asia masih mengindahkan perkataan teman-temannya karena ia masih begitu mempercayai janji Aria. Namun melihat bu Sahara yang terus saja melihat ke arahnya karena seharusnya sudah hampir gilirannya maju ke depan, membuat Asia gelagapan. Dalam waktu sepuluh menit dia mengetik powerpoint dengan keterbatasan ingatannya.

“Aria rese. Dia nyusahin kelompoknya banget sih! Kasihan Asia,” celetuk Marella. Mayu menyuruhnya untuk diam karena bisa mengganggu konsentrasi Asia. Apalagi mereka juga tahu betapa paniknya temannya itu.

“Cukup sampai disini. Sampai bertemu lagi di semester depan,” suara bu Sahara membuat Asia berhenti mengetik dan segera berbalik mengejar beliau yang sudah berjalan menuju pintu keluar.

“Bu! Bu Sahara! Saya mohon dengarkan presentasi saya dulu. Saya sudah hampir selesai, bu,” pintanya memelas. Bu Sahara melihat arlojinya sembari menggelengkan kepalanya.

“Saya sudah cukup toleran dengan kalian berdua. Saya juga memahami kesulitan yang Aria alami beberapa bulan ini. Tapi bukan berarti kalian menyepelekan tugas akhir dari saya. Makalah tidak ada. Bahkan ppt pun juga baru membuatnya. Ibu kan sudah pernah mengatakan tentang pentingnya disiplin waktu. Saya tidak tahu masalah diantara kalian berdua itu apa sampai tugas ini kalian abaikan.”

Asia terus mendesak bu Sahara, “Bu, kami berdua sudah selesai mengerjakannya kemarin. Tetapi semua file nya ada pada Aria. Seharusnya saya memiliki salinannya kemarin. Tetapi laptop saya rusak dan flashdisk saya ketinggalan di rumah.”

“Asia, ada banyak cara yang bisa dilakukan daripada sedari tadi diam menunggu Aria. Letak kesalahan ini bukan hanya pada Aria, tetapi pada dirimu juga yang terlalu mengentengkan tugas, apalagi sepenuhnya mempercayainya tanpa memikirkan rencana lainnya apabila hari ini dia tidak hadir. Ibu harap hari ini bisa menjadi pembelajaran bagi kalian berdua. Ibu harus pergi sekarang.”

Lihat selengkapnya