Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #10

#10 | Menjadi Lebih Peka

Pertengkaran Asia dengan Aria adalah pertemuan terakhir diantara mereka. Setelah itu ada jeda waktu libur selama satu bulan hingga setelahnya memasuki semester kedua. Semenjak hari itu, group-chat benar-benar sepi. Entah karena mereka memiliki kesibukan sendiri atau merasakan seperti apa yang Asia rasakan saat ini, canggung karena situasi hari itu.

Asia sendiri juga tidak tahu harus memulai obrolan apa. Karena ‘nyawa' nya obrolan itu sendiri sudah jarang chat di grup juga. Kini Asia fokus untuk menjadi sukarelawan bersama dengan Ditra di salah satu lembaga atau komunitas di Malang.

Asia ijin berangkat bersama dengan Ditra yang menjemputnya ke rumah. Ibunya pun mengijinkannya untuk pergi dan meminta Asia untuk mengunjungi rumah ayahnya sebentar sebelum datang ke komunitas disana. Jadilah Asia dan Ditra berkunjung ke rumah ayahnya yang kini tinggal bersama dengan istri dan anaknya di Malang.

Ayahnya memiliki anak perempuan dari istri keduanya. Namanya Killa. Dia masih berusia lima tahun. Saat berkunjung kesana, Asia sama sekali tidak membicarakan masa lalunya maupun masa lalu ibu dengan ayahnya.

Dia hanya merasa perlu bertamu sebentar saja untuk menjaga tali silaturahmi. Lagipula dia juga merasa berhutang budi karena ayahnya sudah membiayai kuliahnya. Untuk pertama kalinya, Asia berpura-pura untuk menjadi orang yang menyenangkan di depan keluarga ayahnya demi menjaga hubungan yang baik, tentunya.

Ditra yang awalnya tidak tahu apapun mengenai situasi keluarga Asia, kini ia pun tahu semuanya. Tetapi dia lebih memilih untuk diam dan tidak ambil pusing untuk ikut campur urusan yang bukan di ranahnya. Ditra hanya bilang, “Aku hanya ingin memberitahu saja kalau apa yang aku tahu akan kusimpan untuk diriku sendiri.”

Asia mengenal Ditra saat ospek di Mojokerto. Mereka mulai dekat juga saat berada di kelas yang sama dan bekerjasama di Himapsi, walaupun berbeda divisi. Dia memahami pula bahwa Ditra adalah seorang gadis yang tidak banyak bicara tetapi selalu cekatan dalam bekerja. Itulah yang Asia sukai darinya.

Hingga akhirnya Ditra mengajaknya untuk menjadi sukarelawan bersama di komunitas Jelita Kasih yakni sebuah yayasan yang berfokus pada pendampingan emosional untuk remaja dengan latar belakang trauma (seperti korban kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, ataupun kehilangan orang tua).

Komunitas terbuka ini berlokasi di pinggiran kota dengan memanfaatkan rumah lama yang diubah menjadi ruang aman dan hangat bagi anak-anak dan remaja yang berusia sekitar sepuluh sampai tujuh belas tahun. Setelah menjenguk ayahnya, Asia dan Ditra melanjutkan perjalanan menuju rumah Jelita Kasih. Komunitas Jelita Kasih berfokus pada healing lewat kegiatan kreatif, pendampingan psikologis, serta support group.

Dari luar, rumah Jelita Kasih terlihat biasa saja. Dindingnya tampak kusam dan halaman depannya di penuhi dengan ilalang yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Tumbuhan liar itu tampak terawat dan seakan-akan juga dibiarkan untuk tetap hidup.

Kali pertama Asia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu, udara yang hangat berhembus ke arahnya. Tercium aroma kayu yang sudah tua. Terdengar suara gelak tawa anak-anak dari ujung lorong. Di dinding ruang tamu terdapat gambar-gambar buatan tangan seperti sketsa wajah dan kata-kata penyemangat yang ditulis dengan spidol warna -warni.

Salah satu tulisannya menggugah relung hatinya yang terdalam. Tulisan itu dibacanya pelan, “Tidak apa-apa kalau merasa sedih.” Matanya kembali beralih ke arah sudut ruangan. Disana terdapat rak buku yang berisi buku-buku psikologi ringan, novel remaja, dan boneka-boneka kecil yang kelihatannya seperti hadiah untuk para penyintas trauma.

Asia menganggap dengan belajar menjadi sukarelawan disana bisa menjadi kesempatannya untuk mencari arti dari semua yang sedang ia jalani. Tugasnya saat ini adalah membantu fasilitator dalam kegiatan ekspresi, menjadi kakak pendamping untuk seorang remaja yang memiliki trauma kehilangan orang tua, menulis jurnal mingguan tentang proses perasaan dan interaksinya dengan sesama fasilitator maupun dengan para remaja yang memiliki trauma yang beragam. Di dalam komunitas tersebut, Asia banyak belajar bagaimana cara untuk menjadi pendengar aktif dan memiliki empati yang ia dapatkan dari psikolog pembimbing.

Awalnya Asia merasa canggung dengan semua hal di lingkungan komunitas tersebut Dia merasa belum cukup ‘baik’ untuk membantu orang lain saat dirinya sendiri masih berantakan. Tetapi melalui aktivitas harian seperti menggambar ekspresi, permainan kelompok, dan sesi mendengarkan cerita, Asia mulai merasakan keterikatan. Bukan hanya dengan para remaja disana, tetapi juga dengan dirinya sendiri.

Menjadi kakak pendamping untuk seorang remaja yang memiliki trauma kehilangan orang tua tidaklah mudah. Terkadang remaja yang didampinginya itu kelihatan biasa-biasa saja. Tetapi terkadang Asia juga harus bisa memberikannya ruang keamanan dan kenyamanan saat trauma remaja tersebut muncul kembali.

Shin, seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun yang sudah berada di dalam yayasan tersebut selama lima tahun. Sekarang dia hanya sebatang kara. Tadinya dia memiliki orang tua yang lengkap. Tetapi karena ayahnya yang depresi karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), beliau tega membakar dirinya dan keluarganya.

Walaupun akhirnya Shin selamat dari kebakaran itu, namun dia mengalami luka bakar di sebagian tubuhnya. Awalnya dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah tiada dan penyebab kebakaran itu adalah ayahnya sendiri. Dia melampiaskan emosinya dengan kemarahan yang tidak terkontrol. Namun dengan bimbingan dari kakak pendamping, mulai membuatnya belajar bagaimana mengontrol kemarahannya tersebut.

Kini dia menjadi seorang remaja. Terkadang dia merasa malu dan merasa rendah diri karena penampilan fisiknya yang kurang menarik karena luka bakar. Sebagian rambutnya tidak tumbuh lagi karena luka bakar tersebut.

Kadang-kadang Asia menemukan Shin sedang berada di pojok ruangan yang dilapisi karpet tebal dan penuh bantal empuk. Disana terdapat tulisan ‘Zona Aman’ tempat dimana biasanya anak-anak bisa duduk diam, menangis, atau hanya memeluk boneka tanpa harus menjelaskan apa-apa. Asia berjalan menghampiri Shin yang sedang menangis sambil menutupi wajahnya di bantal, walaupun tidak terdengar tangisnya sama sekali.

“Shin, kamu sedang merasa sedih?” tanyanya sambil menepuk-nepuk punggung Shin pelan. Bocah lelaki itu tidak menjawab. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di bantal. Asia ikut duduk disebelahnya sambil memeluk lutut. “Ngomong-ngomong kakak juga sering loh menangis tapi tidak bersuara. Kakak seperti itu supaya tidak ada satupun orang lain yang tahu. Karena kalau mereka tahu, mereka akan mencemaskan keadaan kakak,” ucap Asia mulai berbicara. Shin melirik ke arah Asia sambil mengelap ingus dengan tangannya. Asia tersenyum kecil dan memberikannya tisu dari saku celananya.

Asia lanjut berbicara, “Kakak menangis bukan tanpa sebab. Tetapi karena kakak merasa sudah sangat capek menghadapi berbagai masalah di dalam hidup kakak. Kadang kakak bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang harus aku lakukan? Kapan masalah ini bisa selesai?’ Semua itu tidak terjawab dalam satu waktu. Namun ternyata saat kakak berani untuk menghadapinya, eh ... semua masalah yang semula kakak rasa sangatlah besar seperti bola dunia, ternyata bisa semakin mengecil seperti bola bekel dan kemudian lambat laun mulai menghilang. Kakak menjadi bahagia kembali.”

“Bagaimana caranya, kak?” tanya Shin, mulai penasaran.

“Caranya adalah biarkan waktu berjalan apa adanya. Tetapi kita tidak boleh menyerah dengan keadaan itu. Kita harus melawan dunia dengan cara baik kita. Maka nantinya dunia akan berbalik memberi kebaikan dan rasa bahagia di dalam diri kita.”

Shin tersenyum kecil mendengarnya. Dia memalingkan wajahnya lagi dan menundukkan kepalanya. “Aku tuh insecure, kak. Teman-temanku di sekolah memandangku sebelah mata hanya karena fisikku yang tidak lagi terlihat utuh dan sempurna seperti mereka,” katanya mulai bercerita.

“Memandang sebelah mata seperti apa, Shin?” tanya Asia.

“Ya itu ... Melihatku dengan tatapan aneh dan risih saat berada didekatku. Terkadang juga menertawakan penampilanku. Katanya penampilanku mirip seperti karakter antagonis di film Spiderman.”

“Menjadi karakter antagonis juga nggak selalu terlihat jahat loh, Shin. Kakak juga pernah merasa menjadi karakter antagonis saat teman-teman kuliah lebih membela teman kakak yang lain daripada kakak sendiri. Saat itu kakak merasa seperti orang yang jahat. Tetapi satu hal yang kamu harus tahu, tokoh antagonis tidak sepenuhnya jahat dan tokoh protagonis tidak sepenuhnya baik. Karena pada lumrahnya, manusia biasa memiliki sisi yang beragam. Tidak selalu sepenuhnya jahat ataupun baik. Tinggal kita saja yang bisa lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang jahat atau berbuat hal-hal yang baik.”

“Kalau begitu dianggap seperti karakter antagonis ternyata tidak terlalu buruk ya, kak,” katanya dengan tawa geli. Asia ikut tertawa mendengarnya.

“Siapa bilang kamu hanya karakter antagonis? Kamu kelihatan keren lagi! Walaupun Shin itu mudah emosi, tapi kamu bisa menurunkan kemarahan itu dalam waktu yang cepat daripada orang-orang yang biasanya."

Lihat selengkapnya