Asia dan Mayu masih saling duduk berhadapan di atas karpet yang dibatasi dengan meja yang lebar di tengahnya. Keduanya sama-sama tidak berbicara. Namun bisa dilihat bahwa mereka berdua sedang saling berkomunikasi melalui tatapan mata mereka.
Mayu mengambil handphone-nya yang berada di atas meja dengan hati-hati sambil terus menatap ke arah Asia. “Kamu mau menghubunginya?” tiba-tiba Asia mulai berbicara tanpa berkedip. Mayu meletakkan kembali handphone-nya di atas meja.
“Dasar Satria ember!” keluhnya kemudian. “Huah, jadi aku nggak boleh meneleponnya juga? Mau kamu apa sih, Asia? Aku sudah bilang kalau ini masalah pribadi Aria. Kamu, Satria, dan bahkan Marella nggak perlu tahu. Sudah cukup bu Sahara dan pak Inggih yang tahu tentang Aria,” Asia terkejut saat mengetahui kebenaran bahwa pak Inggih dan bu Sahara sudah mengetahui permasalahan Aria.
“Kok dosen-dosen sudah tahu? Tapi Aria nggak pernah cerita apapun tentangnya padaku?” tanyanya gusar.
Mayu menggigit bibirnya sesaat. “Dengar, Asia. Aku kan sudah pernah bilang kalau ada hal-hal yang kamu tidak tahu. Maaf juga ya, melihat kepribadianmu yang mudah emosional itu membuatku sadar kalau kamu tidak akan tahan menghadapi hari terburuk Aria. Dan menurutku, sebenarnya kalian tidak pernah terlihat sedekat itu. Seperti hubunganku dengan Aria.”
“Serius? Kamu mau membicarakan hubungan asmaramu dengannya? Tenang saja. Aku tidak berminat menjadi pesaing cintamu. Aku tidak mau dengar. Aku hanya ingin kamu bercerita sebenarnya apa yang terjadi dengannya?”
“Aku bukan ... Ugh! Kenapa kamu mulai berpikiran sama seperti Marella sih? Kami murni bersahabat, tetanggaan, sekaligus teman masa kecil, Asia. Nggak lebih.”
“Nggak ada yang murni dari persahabatan di antara pria dan wanita,” balas Asia sambil melipat kedua tangan di dada.
“Ada! Aku dan Aria! Dan itu nggak bisa diganggu gugat! Daripada Aria, aku lebih suka kalau dibilang ada apa-apanya sama si ember itu!” serunya menggebu-gebu. Lalu mulutnya tertutup rapat seakan-akan dia jujur soal perasaannya dengan Satria.
Asia tersenyum kecil. “Oke. Ini sudah di luar pembicaraan kita. Aku ingin kamu tahu kalau ada sesuatu yang mendorongku untuk terus peduli pada Aria. Aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sudah mulai menganggapnya sebagai teman yang baik, bukan sebagai penghalang masa depanku. Lambat laun pandanganku mulai berubah tentangnya.”
“Kamu merasa ... seperti itu?” tanyanya sambil tertegun. Asia menganggukkan kepalanya. “Rasa kemanusiaan atau rasa cinta?” tanya Mayu lagi. Asia menghela nafas sambil memutar bola matanya.
“Mayu, cobalah untuk lebih serius. Sekarang kamu yang semakin mirip dengan pemikiran Marella.”
Mayu tertawa mendengarnya. “Sori,” katanya sambil terus tertawa.
Asia meneruskan kata-katanya sambil setengah melamun, “Lagipula aku terus kepikiran tentang kemarin. Tangan Aria gemetaran. Aria juga kelihatan sangat capek. Lalu saat ada jeda waktu pergantian matkul, kelas sedang kosong. Marella dan Satria pergi ke kantin. Sementara Aria mengajakmu mengobrol berdua di luar kelas.”
Mayu mencoba mengingat lagi. ‘Oh, mungkin saat Aria yang bertanya soal kos-kosan padaku kemarin. Apa Asia .... ’
“Apa jangan-jangan kamu menguping pembicaraan kami ya?” tebaknya.
“Aku nggak sekepo itu ya,” perkataan Asia membuat Mayu kembali tergelak. “Serius nih. Kemarin kita mendapatkan tugas refleksi pribadi di kelas Psikologi Kepribadian. Setelah kelas usai, aku memang akan keluar kelas. Tetapi melihat kalian berdua yang berbicara dengan serius membuatku kembali ke kelas. Tanpa sengaja aku melihat kertas refleksi milik Aria ada di atas mejanya dalam keadaan terbuka. Aku penasaran. Makanya diam-diam aku membaca kertas yang berisi tentang pengalamannya menyimpan rasa sakit dalam senyum.”
Catatan Refleksi Diri:
Berpisah dengan kak Aquara membuatku kehilangan sosok seorang kakak di dalam hidupku. Janji itu masih terus kupegang teguh sampai aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku benar-benar takut karena sudah mengecewakan banyak orang. Kedua orang tuaku dan mungkin teman-temanku sekarang juga sedang merasakannya.
Bahkan Asia sudah mengatakannya dengan lantang bahwa aku hanyalah beban baginya. Padahal sudah lama aku berusaha untuk menjadi kuat dan menyembunyikan semua apa yang kuderita di balik topeng joker itu, full senyum. Seperti janjiku pada kak Aquara.
Semenjak bertemu Asia, aku menjadi semakin kewalahan. Asia membuatku mengenal apa arti emosi yang sesungguhnya. Ada emosi marah, kagum, konsentrasi, bingung, kepuasan, keinginan, keraguan, keterkejutan, dan berbagai emosi lainnya.
Berbeda dengan duniaku yang hanya mengenal emosi senang dan gembira. Karena aku selalu merasa bahwa hal itu satu-satunya janji yang bisa kutepati untuk kak Aquara sekaligus dapat memberikan kesan yang positif pada banyak orang di sekitarku.
Mendengar cerita dari Asia membuat Mayu tanpa sadar mulai terisak. Asia memberikannya tisu dari saku celananya seraya berkata, “Maaf ya, aku sudah lancang membacanya. Aku hanya mengikuti dorongan hati. Tidak pernah aku seperti ini.”
Mayu mengelap ingusnya dengan tisu pemberian temannya itu. Lalu dia melihat lagi ke arah Asia, “Aku merasa kamu memiliki perasaan padanya, Asia.”
“Nggak kok. Aku .... ”
Mayu segera memotong perkataan Asia dengan cepat, “Kalau kamu nggak suka sama dia, kamu nggak akan terlalu peduli sama dia. Kamu juga nggak pernah tuh terlalu peduli dengan aku, Satria, dan Marella. Kamu tidak pernah menyetrika pakaian kami walaupun pakaian kami terlihat lebih kusut darinya. Apa kamu masih terus menyangkalnya?”
“Aku ... Nggak tahu. Aku benar-benar nggak tahu. Yang aku ingin tahu sekarang adalah keinginan hati untuk membantu Aria sebisa aku. Sekarang aku sedikit tahu apa masalahnya. Tetapi aku ingin mendengar tentangnya darimu juga, teman terdekatnya.”
Mayu terperangah sesaat. Kemudian dia melihat kembali tatapan Asia yang penuh dengan kesungguhan di matanya. ‘Padahal aku sudah sedikit membuatnya tidak nyaman dengan mengatakan kalau mereka tidak terlihat sedekat itu. Tetapi Asia tetap bersikukuh untuk ingin tahu,’ pikir Mayu. Dia kembali menggigit bibirnya.
“Baiklah. Kalau kamu kesulitan untuk bercerita, aku akan terus mencari tahu sendiri,” Asia hendak beranjak dari duduknya, namun Mayu menahannya. Gadis itu kembali duduk.
Mayu siap untuk bercerita, “Aku hanya bisa memberitahumu bahwa sudah lama Aria memiliki gangguan mental smiling depression. Hanya dia dan dokternya yang mengetahui diagnosa yang sebenarnya. Semenjak SMA, aku menyadari ada yang salah dengannya. Aria selalu menjalani hari dengan senyuman lebarnya dan selalu tertawa lebih keras daripada teman-temannya. Namun yang sebenarnya terjadi adalah dia selalu berpura-pura untuk kuat karena satu hal, yaitu Aria takut membebani orang lain jika dia menunjukkan sisinya yang rapuh. Selain itu dia juga memiliki janji yang tidak pernah bisa dilepaskannya sampai saat ini. Awalnya aku menyarankannya untuk pergi ke psikolog untuk meringankan beban dan segala tuntutan orang tuanya di dalam hidupnya. Tetapi tidak tahu kenapa Aria berakhir dialihkan dengan psikiater. Sejak itu, Aria diam-diam berobat tanpa sepengetahuan dari orang tuanya sampai .... ”
“Sampai ... ?” ulang Asia. Mayu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.