Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #12

#12 | Masa Lalu

Aria dipindahkan ke ruang rawat inap untuk dirujuk lebih lanjut. Hal itu dikarenakan kecurigaan dari pihak rumah sakit bahwa Aria telah melakukan tindakan bunuh diri. Dokter disana menanyakan awal kejadian ditemukannya Aria dalam kondisi tersebut.

Kedua orang tua Aria ikut mendengarkan Asia dan Mayu yang menceritakan kejadian serta kondisi saat ditemukannya Aria di kamar kos tersebut. Melihat riwayat Aria yang sebelumnya sudah beberapa kali kontrol di dokter jiwa disana, pada akhirnya Aria kembali dirujuk ke dokter jiwa tersebut. Dokter yang pernah menangani Aria bernama dokter Aneema.

Namun karena hari sudah malam, dokter Aneema akan menemui dan melihat kondisi Aria besok pagi. Kedua orang tua Aria duduk menemani Aria di kursi sofa. Ibunya terus menatap Aria yang sedang mengobrol dengan Asia dan Mayu. Sementara bapak Aria sedang menonton TV.

Tak lama ibu Aria mengajak ayahnya untuk pergi beribadah bersama di masjid terdekat. Aria yang semula banyak menunjukkan tawanya, kini menarik nafas lega setelah orang tuanya pergi.

“Kamu capek kan rasanya tertawa terus? Sama. Aku juga capek melihat kamu tertawa paksa seperti itu, ” ucap Asia kemudian. Mayu menyenggol bahu Asia, memberinya isyarat untuk tidak membicarakan hal yang sensitif untuk sementara waktu.

“Tidak apa-apa, Mayu. Lagipula aku senang malah kalau Asia juga berhak berbicara tentang apa saja yang ada dipikirkannya,” Setelah mengatakan hal itu, dia melihat ke arah Asia lagi. “Iya, aku capek. Tapi kata kak Aquara aku harus selalu tersenyum.”

“Ha ... ? Maksudnya ... ?” tanya Asia tidak mengerti. Aria dan Mayu saling melihat sambil tersenyum.

“Maaf ya, Aria. Tadi aku sudah menceritakan sebagian kisah hidupmu padanya. Tetapi sepertinya Asia masih belum bisa menghubungkan semuanya,” kata Mayu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aria menganggukkan kepala.

“Asia, sudah saatnya kamu tahu. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan semua ini darimu. Semua bermula dari kedua orang tuaku yang menaruh harapan besar pada kak Aquara untuk meneruskan usaha ayam goreng. Kamu tahu kan rumah makan ayam goreng Aquaria Rasa?”

Asia berpikir sesaat. Lalu matanya terbelalak lebar saking terkejutnya, “Rumah makan yang memiliki beberapa cabang di daerah Jawa Timur dengan mengunggulkan ayam goreng sebagai rekomendasi menu paling enak sedaerah Jawa ... ?! Aria ... Jadi kamu adalah anak ...,”

Aria terkekeh. “Iya. Aku adalah anak dari pak Hanggono, pengusaha rumah makan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Sekarang aku kelihatan lebih keren kan?”

Asia mencibir sambil memutar matanya dengan kesal saat melihat Aria bergaya sok keren di depannya. Melihat reaksi kedua temannya, membuat Mayu tertawa.

“Waktu itu kak Aquara masih kuliah semester satu, sama sepertiku. Kakak itu ... selalu tersenyum dan tertawa di depan kami. Seperti tidak pernah ada beban dimatanya. Senyumannya seperti malaikat bagiku. Awalnya keluarga kami baik-baik saja. Kak Aquara menjalani kuliah dengan prestasi yang memuaskan dan melakukan magang di rumah makan dengan baik. Aku ingat betul, sesulit apapun dia di bagian dapur hingga tangannya terluka karena tersenggol wajan sekalipun, dia tetap tersenyum. Sampai suatu hari, kak Aquara terlihat berbeda. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda dari gejala depresi. Ia sering menyendiri, nilai-nilainya juga menurun, hingga suatu saat kak Aquara ketahuan menyakiti diri sendiri dengan pisau tajam di dalam kamar. Namun karena dia pintar menyembunyikan keadaannya dengan tawa dan prestasi akademik yang membaik sesekali, bapak dan ibu hanya menganggapnya berada di ‘fase remaja'. Saat itu aku masih kelas 1 SMP dan aku tahu betul, terkadang kak Aquara suka terdiam sendirian di kamarnya dalam waktu yang cukup lama.”

Mayu ikut menimpali, “Aku juga ingat hari-hari dimana aku dulu sering bermain denganmu di rumah kamu, Aria. Biasanya kak Aquara selalu senang menyambut kedatanganku dan ikut bermain bersama dengan kita. Tetapi suatu saat, kak Aquara hanya tersenyum tipis saat melihatku datang. Dia lebih memilih menonton TV sendirian. Kulihat tatapannya kosong. Tidak seperti orang yang terhibur saat menonton TV.”

Aria mengangguk, “Iya. Aku juga dulu bingung melihat kak Aquara yang seringkali menyendiri dibandingkan bermain bersamaku seperti biasanya. Tetapi saat berhadapan dengan bapak dan ibu, dia selalu tersenyum,” ungkap Aria dengan wajah sedih. Asia bisa merasakan kerinduan dari mata Aria. Kehilangan anggota keluarga bisa menjadi kesedihan terbesar bagi keluarganya yang masih hidup.

Asia menjadi teringat Shin yang mengungkapkan penyesalan terbesarnya setelah kehilangan kedua orang tuanya. Anak sekecil itu merasa sedih kenapa hari sebelum malam naas itu terjadi, Shin meminta ayahnya untuk membelikannya mainan robot-robotan seperti milik temannya. Shin yang sudah remaja kemudian menyadari bahwa dulu ayahnya pasti semakin merasa terbebani karena mainan mahal yang diinginkannya.

Shin merasa terpukul dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Shin yang sekarang menganggap mainan hanyalah mainan yang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi kedua orang tuanya. Maka dari itu, sekarang dia benci dengan barang seperti mainan.

Aria melanjutkan kisahnya lagi, “Suatu malam, kak Aquara dengan tegas menolak untuk menjadi penerus usaha milik kedua orang tua kami. Mereka bertiga bertengkar hebat. Bahkan kak Aquara juga mengancam akan bunuh diri kalau orang tua kami tidak mengabulkan permintaannya. Aku ingat sekali, ibu menampar pipinya dengan keras. Lalu kak Aquara pergi keluar rumah dengan tangisan keras. Aku berlari mengejarnya dan tidak peduli dengan teriakan kedua orang tua kami. Kak Aquara duduk di taman yang sepi dengan lampu-lampu temaram di sekelilingnya. Aku ikut duduk di sampingnya. Kuhapus air matanya. Tapi kak Aquara masih terus saja menangis. Lalu dia memelukku dan berkata ‘Aria, kamu harus janji, apa pun yang terjadi ... kamu harus jadi anak yang kuat, ya. Selalu senyum. Kamu tahu kalau sebenarnya hidup ini berat. Tetapi kamu harus tetap kelihatan bahagia. Itu cara terbaik untuk terus bertahan.’ Saat itu aku hanya mengangguk dan merasa sedikit lega karena setelahnya kak Aquara kembali tersenyum sambil memelukku. Namun siapa sangka, malam itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya.”

Asia tertegun sesaat. “Apa ... yang terjadi dengannya, Aria?”

Aria menjawab lagi, kali ini wajahnya semakin sedih, “Pagi harinya kak Aquara ditemukan meninggal karena bunuh diri di kamar mandi. Dia mengiris kedua pergelangan tangannya sepertiku.”

Asia pun terkejut mendengarnya. Apa yang dialami oleh Aria hampir mirip dengan apa yang dialami oleh riwayat hidup kakaknya. Seakan-akan Aria menyalin kisah hidup kakaknya kembali.

Mayu kembali berkata, "Sebenarnya aku bisa melihat sosok kak Aquara melalui dirimu, Aria. Tidak lama setelah kepergian kak Aquara, aku tidak lagi melihat seorang Aria yang kukenal sebelumnya. Tetapi tubuh Aria yang sebagian besar didominasi oleh kepribadian kak Aquara.”

Aria hanya tersenyum singkat mendengar perkataan Mayu. Kemudian kedua orang tua Aria masuk kembali ke dalam ruangan. Asia berkata, “Kami pamit pulang dulu ya. Sudah malam juga, Aria. Ingat, tetaplah kuat dan istirahat yang cukup malam ini. Stop berpikir yang berlebihan. Pikirkan saja masih banyak orang yang masih peduli dan sayang padamu. Cepatlah kembali ke kampus ya. Kami semua menunggumu.”

Ditepuknya bahu Aria. Mayu juga melambaikan tangannya pada Aria. Setelah membantu Aria berbaring kembali dan menyalami tangan kedua orang tua Aria, mereka berdua pun segera pamit pulang.

“Kita mengambil motor di kosan Aria dulu. Baru kita lanjut ke kampus untuk mengambil motormu ya, Asia,” kata Mayu saat mereka sudah berada di dalam gokcar. Asia hanya mengangguk tanpa menjawab apa-apa lagi.

Sepanjang perjalanan dia masih memikirkan perjalanan hidup yang dilalui oleh Aria.

'Tanpa sadar Aria tumbuh dengan luka yang tertutup rapi. Ia merasa, ‘Kalau aku sedih, itu berarti aku mengkhianati pesan kak Aquara.’ Ia memaksakan diri untuk selalu terlihat ceria, jadi pusat perhatian, dan mudah disukai. Karena baginya, itulah artinya ‘kuat'. Tetapi sebenarnya, ia terjebak dalam topeng yang bahkan ia sendiri sulit untuk melepaskan,’ pikir Asia tenggelam dalam lamunannya.

***

Seorang dokter yang didampingi dengan perawat masuk ke dalam ruang opname. Keduanya tersenyum ketika kedua orang tua Aria mengetahui kedatangan mereka.

“Bapak, ibu. Perkenalkan saya dokter Aneema, psikiater rumah sakit ini. Bagaimana keadaan mas Aria semalam? Apa mas Aria tidur dengan nyenyak?” tanya dokter tersebut setelah memperkenalkan dirinya di hadapan bapak dan ibu Aria. Keduanya menyalami tangan dokter Aneema.

Aria terbangun dan terkejut dengan kehadiran psikiater tersebut. Dia berusaha untuk duduk dari tempat tidurnya. “Dokter ... ?” panggilnya. Perawat segera membantunya untuk duduk bersandar.

“Mas Aria, kita bertemu lagi. Bagaimana kabarnya hari ini?” tanya dokter Aneema kemudian.

Aria menganggukkan kepala seraya berkata dengan canggung, “Baik, dok.” Melihat kedatangan dokter Aneema membuat Aria merasa canggung sekaligus takut jika dokternya menceritakan beberapa hal yang pernah diceritakannya tentang orang tuanya di hadapan mereka. Tetapi dokter Aneema tidak berkata apapun. Beliau menghampirinya sambil tersenyum.

“Mas Aria, kamu sempat tidak sadarkan diri karena kedua pergelangan tangan kamu yang terluka sampai berdarah. Kamu ingat apa yang terjadi kemarin sore?” pertanyaan dokter Aneema membuat Aria terdiam sembari melirik ke arah kedua orang tuanya sebentar. Dokter Aneema menyadarinya. “Apa kamu lebih nyaman jika bapak dan ibu kamu keluar dari ruangan ini?” tanya beliau lagi. Aria mengangguk. Kemudian dokter Aneema meminta kedua orang tua Aria menunggu di luar ruangan. Mereka pun keluar dari ruangan dengan tatapan kecewa.

“Saya ... agak stres. Saya tidak bisa tidur sampai pagi. Saat saya merapikan barang-barang di kos baru, saya melihat-lihat album foto dan teringat kembali dengan kak Aquara. Saya akui saya mengiris kedua pergelangan tangan saya dengan pisau. Tapi saya nggak berniat serius kok. Saya hanya ... ingin merasa lega.”

“Ada sesuatu yang membuatmu sulit tidur belakangan ini?”

“Sebulan yang lalu saya bertengkar besar dengan kedua orang tua saya. Mereka melarang saya menemui anda lagi dan menganggap ... Maaf, dokter jiwa hanya mengobati pasien yang tidak waras. Selain itu, saya juga bertengkar dengan teman saya karena tugas akhir kami yang berantakan. Saya pergi dari rumah, fokus mencari tempat kos dan pekerjaan. Lama-lama saya menjadi tidak terkontrol lagi. Tubuh saya sering gemetaran. Tangan saya juga kadang tremor. Mungkin kurang lebih itu yang terjadi pada saya akhir-akhir ini.”

Lihat selengkapnya