Jurnal Februariku,
Dulu aku pikir diam itu tandanya aku kuat. Tetapi sekarang dalam diamku, aku justru merasa kehilangan arah. Terkadang aku iri pada Aria ... bukan karena hidupnya tampak bebas, tapi karena dia berani jujur dalam caranya sendiri. Mungkin aku juga harus mulai belajar untuk jujur, bukan ke orang lain, tapi ke diriku sendiri.
Tulisannya terhenti saat Mayu menggeser kursi di dekatnya. Asia langsung menutup buku jurnal hariannya. “Selama satu minggu ini, kulihat kamu cukup sering mencatat jurnal harianmu ya,” ucap Mayu terus terang. Asia hanya tersenyum, lalu memasukkan buku jurnalnya ke dalam tas.
“Entah kenapa dengan menulis di buku itu dan kembali membacanya bisa membuatku kembali berpijak di bumi dan menjadi sebuah refleksi diri bagiku. Aku bisa semakin mengenal siapa sejatinya aku,” cerita Asia. Mayu mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Asia berkata lagi, “Tapi tetap jadwal terencana untuk hari-hari ke depan tetap kutulis secara rinci. Yah, walaupun aku sudah mengurangi kebiasaan itu sampai nanti berhenti dengan sendirinya.”
“Kenapa harus berhenti? Tetap lanjutkan saja kalau kamu suka menulis target dan rencanamu untuk ke depannya. Kebiasaan itu juga nggak buruk kok. Itu berarti kamu mempunyai rencana cadangan untuk rencana awal secara teratur. Tetapi kamu juga harus tahu bahwa tidak semuanya harus sesuai dengan kendalimu. Seperti yang pernah Aria bilang kan kalau kamu selalu terlihat terlalu mengatur?” mendengar ucapan Mayu membuatnya teringat kembali pertengkarannya dengan Aria saat semester lalu.
Mayu lanjut berbicara, “Bagiku, menjadi seorang perfeksionis yang terencana tidak masalah selagi aku sendiri tidak menyesali keadaan yang tidak sesuai dengan rencanaku. Dengan begitu, kepala kita nggak akan sakit dan kita bisa terus berjalan ke depan, ke rencana selanjutnya. Tidak terpaku dengan rencana yang gagal.”
Asia mendengarkan Mayu dengan seksama. Diam-dian dia merasa kagum dengan Mayu yang ternyata bisa melihat hal-hal kecil darinya. Kali pertama mengenalnya, Mayu adalah mahasiswa yang kelihatan ceroboh dan banyak bicara. Tetapi setelah mengenalnya lebih lama, rupanya Mayu lebih tenang daripada Marella yang cukup cerewet dan kocak.
Mayu yang sekarang dikenalnya lebih banyak memperhatikan teman-teman terdekatnya dalam diam. Gadis itu juga tidak segan menegur temannya jika ada hal yang menurutnya kurang. “Makasih ya, May. Saranmu sangat membantuku,” ucapnya sambil tersenyum. Mayu juga ikut membalas senyum sambil memberi isyarat dengan jari tangannya ‘oke'.
“Kata ibunya Aria, dua minggu yang lalu, Aria sudah kembali ke kampus lagi. Tapi dia sama sekali belum kelihatan masuk ke dalam kelas. Apalagi setelah ini matkul akan segera dimulai lagi. Sepertinya dia tidak akan datang lagi deh,” celetuk Marella.
Satria ikut menambahi, “Aku kira dia bakalan duduk di pojok belakang lagi. Tapi aku masih belum melihat batang hidungnya disana.”
“Tenang, guys. Mungkin yang dimaksud tante, Aria akan kembali ke kampus minggu depan atau minggu depannya lagi. Yang terpenting sekarang kita mendoakan agar Aria bisa segera pulih kembali,” ujar Asia mencoba menenangkan teman-temannya yang tampak gelisah dan menjadi tidak sabaran.
Tak lama dosen yang mengampu mata kuliah Psikologi Sosial masuk ke dalam ruangan. Mereka berempat segera berbalik lagi dan menghadap ke depan secara bersamaan.
Terdengar ketukan dari depan pintu kelas. Mereka berbalik lagi. Aria sedang berdiri di ambang pintu. “Maaf, bu. Saya terlambat.”
“Baik. Silakan masuk dan segera duduk ya,” ucap dosen tersebut. Ke empat temannya sedikit gugup ketika Aria melangkah masuk. Mereka berharap Aria mau duduk kembali di kursi lamanya. Rupanya Aria terus berjalan sampai bangku depan dan meminta Mayu menggeser duduknya. Dia ingin duduk di sebelah Asia. Teman-temannya mendadak senang dan Mayu memilih untuk berpindah di kursi Aria. Setelah Aria duduk, Asia tidak sanggup menengok ke arah Aria secara langsung. “Ini terlalu dekat. Ini ... Terlalu dekat,” gumamnya pelan.
“Sekarang ini matkul Psikologi Sosial kan? Siapa nama dosennya ya?” Asia menyadari Aria yang berbisik di sebelahnya. Asia melihat kembali ke arah dosen yang sedang menggerakkan kursornya.
“Bu Sophia Maharani,” jawab Asia tanpa menengok ke arah Aria. Gadis itu langsung membuka bindernya. Bersiap-siap jika nanti materi dimulai dan ada hal penting yang harus dicatat.
“Baiklah. Kita mulai pembahasan hari ini tentang ‘Psikologi Sosial dan Hukum'. Bu Sophia menekan tombol dan slide mulai berpindah. Para mahasiswa berseru “Wow ... !!!” secara bersamaan. Terlihat gambar tangan seseorang yang ditusuk jarum suntik dan dua orang yang meminum minuman keras. “Ini belum seberapa,” ucap beliau. Slide selanjutnya membuat mata mereka semakin terpana. Terdapat gambar beberapa gadis yang sedang merokok diselingi dengan meminum bir. Foto disebelahnya juga mengganbarkan sejumlah pemuda laki-laki dengan usia yang beragam. Mereka memiliki model rambut mohawk dan mengenakan pakaian yang cukup unik.
“Waw, ada anak punk juga!” sahut Marella takjub. Saat slide selanjutnya ditayangkan membuat mereka semakin bersemangat. Para mahasiswa serentak mengucapkan “Wawawawaaa ...,” dan bahkan ada beberapa dari mereka yang tidak sengaja tersedak sampai terbatuk-batuk setelah melihat gambar-gambar tersebut. Foto pertama yang menggambarkan beberapa gadis berpakaian minim dan menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. Foto kedua yang menunjukkan gambar dua orang gadis yang juga berpakaian minim. Keduanya saling bertatapan sambil mendekatkan wajahnya sampai beberapa senti.
“Waduh, ciuman nggak tuh ... ?!” seru Marella lagi.
Teman-teman sekelas langsung menyorakinya. “Terhibur banget, neng ... ?!!” sahut mereka sambil terkekeh.
“Nah, kalian sudah bisa lihat kan? Dengan adanya hukum saja, masih ada dari mereka yang melakukan penyimpangan. Bagaimana kalau negeri ini tanpa adanya aturan hukum? Pastinya akan semakin tidak terkendali karena adanya kebebasan dan tiadanya aturan hukum yang berlaku,” terang bu Sophia. Asia menulis beberapa hal yang menurutnya penting.
Aria membaca sebaris kalimat dari tulisan Asia, “Dengan adanya hukum bisa mengurangi berbagai penyimpangan dari masyarakat.”
Melihat Aria yang terlihat ingin membaca tulisannya, gadis itu langsung menggeser bukunya ke meja Aria. Cowok itu tersenyum singkat, lalu membaca tulisan Asia. Gadis itu tersenyum melihat Aria yang sedang menyalin tulisannya. ‘Dia tidak lagi tersenyum palsu. Aku bisa melihat dia belajar untuk mengendalikannya. Ada perasaan lega ketika melihat matanya yang tulus dan tidak berkabut lagi.’ pikirnya.
Gadis itu belajar untuk menyesuaikan caranya menghadapi Aria, yakni bukan dengan teguran, tetapi dengan perhatian yang tenang. Dan untuk pertama kalinya, Asia belajar bahwa rencana hidup tak selamanya harus rapi dan melakukannya dengan mengerahkan segala tenaga untuk mencapainya. Namun cukup dijalani dengan hati saja.
Asia kembali mendengarkan penjelasan bu Sophia, “Nah, itulah pendahuluan definisi dari hukum. Kita bisa lanjut untuk memahami bahwa ada tiga peran psikologi dalam bidang hukum itu sendiri. Dituturkan oleh Mark Constanzo bahwa psikologi berperan sebagai penasehat, sebagai evaluator, dan sebagai pembaharu. Maksud dari berperan sebagai penasehat adalah ...,”
“Asia, ini tulisannya apa? Nggak bisa dibaca,” tanya Aria.
“Oh, ini ... Hukum dijadikan alat untuk mencapai tujuan, misal ...,”
“Oh, cukup. Aku sudah bisa membacanya. Makasih,” Asia membalasnya dengan anggukkan kepala. Kemudian Asia mendengarkan penjelasan bu Sophia lagi, “Nah, lantas kenapa orang berbuat kejahatan? Pada umumnya ada dua hal yaitu terencana dan tidak terencana. Di dalam tidak terencana terdapat unsur-unsur seperti emosional dan reaksi cep ...,”
Belum selesai mendengarkan, Aria kembali memanggilnya. Tiba-tiba Asia menjadi sedikit kesal karena Aria terus saja mengajaknya berbicara. Cowok itu terus menyenggol lengannya. ‘Sabar, Asia. Bukankah kata adik Shin kalau aku harus bisa lebih bersabar ...,’ Asia langsung menoleh sambil berusaha menepis kekesalannya.
“Iya, Aria ...,”
Aria mengembalikan buku binder Asia. “Maaf sudah meminjam terlalu lama. Sebaiknya kamu buat untuk mencatat dulu saja. Daripada nanti kamu terlambat mencatat,” perkataan Aria membuatnya hanya mengangguk dalam diam. Dia tidak menyangka jika Aria sepeka itu. Disenggolnya lagi bahu Asia. Gadis itu menoleh lagi ke arahnya. “Tapi nanti aku pinjam catatannya dong. Ternyata catatanmu lengkap juga ya. Good,” katanya sambil mengacungkan jempol ke arahnya.
Asia menghela nafas. Kekesalannya mulai kembali lagi, ‘Kukira dia peduli padaku, tapi ternyata dia hanya peduli dengan catatanku yang lengkap,’ dumelnya di dalam hati.
Setelah itu, Aria tidak mengganggunya lagi. Mereka tampak fokus memperhatikan ceramah dosen yang berdiri di depan kelas.
Bu Sophia terus menjelaskan sambil mengganti slide secara berurutan, “Pendekatan psikologi yang kedua adalah teori belajar sosial Bandura. Kalian masih ingat kan tentang teori dari Albert Bandura? Nah, Bandura menyatakan kalau peran model dalam melakukan penyimpangan cenderung dari rumah, media, dan subkultur tertentu seperti gank yang merupakan contoh baik dalam terbentuknya perilaku kriminal orang lain. Dimulai dari observasi yang kemudian melakukan imitasi dan identifikasi yang merupakan cara yang biasa dilakukan hingga terbentuknya perilaku menyimpang tersebut.”
Asia masih terus memperhatikan bu Sophia di depan. Tetapi matanya sesekali melirik ke arah Aria yang masih tampak fokus mendengarkan. Bahkan Aria juga menyalakan perekam suara dari handphone-nya untuk merekam suara bu Sophia.