Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #14

#14 | Membuka Diri

Sore ini adalah minggu kelima Aria menjalani terapi dengan dokter Aneema. Aria merasakan keadaan dirinya yang kian membaik daripada sebelumnya. Bahkan dia memiliki pemikiran untuk kembali magang di rumah makan milik kedua orang tuanya. Hal itu masih menjadi rencana di dalam pikirannya.

“Mas Aria, minggu lalu kita sudah bahas soal ekspektasi dari lingkungan. Kali ini, maukah kamu membicarakan soal hubungan dengan orang tua?” mendengar pertanyaan dokter Aneema membuat Aria menghela nafas panjang.

Aria mengatakan apa yang dirasakannya dengan mata berkaca-kaca, “Saya capek, dok. Capek jadi ‘pengganti’ kakak saya. Sejak kak Aquara meninggal, rumah menjadi ... seperti museum kenangan. Saya harus kuat, harus ceria, harus meneruskan usaha keluarga, padahal saya ... tidak pernah ditanya saya maunya apa.”

“Kamu merasa tidak diberi ruang untuk menjadi dirimu sendiri?” tanya dokter Aneema lagi. Aria mengangguk setuju.

“Ya. Bahkan waktu mereka tahu kalau saya pergi berobat ke psikiater, bapak saya bilang seperti, ‘Kamu kenapa? Kamu gila?’ Mereka pikir saya lebay. Padahal saya hanya ingin didengarkan, bukan untuk dibanding-bandingkan terus.”

Dokter Aneema mendengarkan sambil menulis sesuatu di bukunya.

“Ketika kamu dengar kata ‘gila’ dari orang tuamu, apa yang langsung muncul di pikiranmu?” tanya beliau kemudian. Aria mencoba untuk menahan air matanya yang hampir keluar dari sudut matanya.

“Saya jijik sama diri sendiri. Saya berpikir kalau mungkin saya memang rusak. Mungkin saya gagal jadi anak yang mereka inginkan.”

Aria tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia menangis sesenggukkan. Dokter Aneema memberikan tisu padanya.

Kemudian beliau berkata, “Mas Aria, perasaan itu sangat berat. Tapi itu bukan fakta. Perasaan itu adalah pikiran otomatis yang terbentuk dari trauma berulang. Kalau kita tantang pikiran itu, adakah bukti bahwa kamu rusak?”

Aria terdiam. Hanya air matanya yang masih mengalir. Dia berusaha mencerna kata-kata dokter Aneema.

Lantas Aria mulai berbicara, “Saya masih kuliah. Saya juga bekerja sebagai pramuniaga di toko roti. Saya datang ke sini. Saya hidup.”

“Benar. Kamu hidup dan terus bertahan, meskipun dengan membawa beban yang besar. Hal itu bukanlah tanda kerusakan. Malah sebaliknya, hal itu bisa menjadi sebagai tanda kekuatan. Tapi ... kekuatan itu juga butuh ruang untuk rapuh.”

“Kalau saya bilang semua ini ke bapak dan ibu, saya yakin mereka pasti bilang kalau itu cuma ada di dalam pikiranmu, Aria. Entahlah, dok,” ucapnya dengan senyum canggung.

Dokter Aneema meletakkan pena di atas meja seraya berkata, “Dan itulah mengapa kamu di sini, mas Aria. Untuk menguatkan diri sebelum nantinya kamu sudah siap, kita bisa bantu komunikasikan ini ke orang tuamu lewat sesi keluarga. Bagaimana menurutmu Aria?”

Aria mendadak termenung mendengarnya. Membayangkan kedua orang tuanya juga ikut berada disini membuatnya sedikit takut. Cowok itu tidak ingin jikalau nantinya dia memantik api kepada orang tuanya. Dia sudah cukup bersyukur bahwa saat ini orang tuanya mulai bersikap lebih lunak padanya. Walaupun mereka masih jarang mengobrol. Ketiganya masih merasa canggung saat berkomunikasi di dalam satu ruangan.

Dokter Aneema memberikan saran lainnya, “Atau bisa juga dengan menulis surat kalau kamu belum siap berbicara langsung.”

Kemudian mata Aria menjadi berbinar-binar. “Kalau saya menulis surat, bolehkah saya bawa ke sini dulu untuk dibaca bersama dengan dokter?” Dokter Aneema mengangguk senang.

“Tentu saja. Kita bisa membaca bersama-sama. Kita perbaiki kalau perlu dan kamu bisa memilih cara terbaik untuk menyampaikannya. Yang terpenting adalah kamu tidak lagi menanggung semuanya sendirian.”

Aria merasa terharu ketika mendengar perkataan dokter Aneema. Sebelum dokter menutup pembicaraannya, Aria memberanikan diri untuk berucap dengan mata berkaca-kaca, “Terima kasih, dokter Aneema.”

***

Seminggu yang lalu, bu Sophie selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi sosial tidak bisa hadir di kelas. Jadi para mahasiswa tidak jadi melakukan presentasi, tetapi tetap diminta untuk mengumpulkan makalah di kantor fakultas Psikologi.

Hingga tiba waktunya dimana hari ini bu Sophie bisa hadir kembali di kelas. Para mahasiswa di kelasnya mulai menyiapkan laptop dan membagikan hard file ppt untuk masing-masing kelompok. Asia dan kelompoknya yang pertama kali maju untuk melakukan presentasi duluan.

Presentasi dibuka oleh Aria dengan gaya klasiknya, “Selamat pagi semuanya. Baiklah, bersama dengan kami kembali yaitu kelompok satu yang saling berselisih paham tapi tetap satu.”

Marella tiba-tiba berceletuk, “Hah, apaan sih Aria? pembukaannya kok lebay banget!”

Asia menyenggol lengannya sembari berkata, “Hush! Biarkan saja dia. Teman-teman juga jadi terhibur kan?”

“Iya juga sih,” jawab Marella. “Teman-teman, beri applause dong untuk kami! Biar makin semangat nich!” teriak Marella juga sambil mengerlingkan mata. Teman-teman bertepuk tangan dengan keras. Aria juga terlihat semakin bersemangat. ‘Duh! Marella. Dia malah lebih lebay daripada Aria,’ pikir Asia, menyembunyikan wajahnya karena merasa malu.

Satria menekan tombol panah di keyboard laptop sehingga bergeser ke slide berikutnya. Asia mulai menjelaskan, “Adakah diantara kalian yang pernah melakukan agresi? Seperti yang kita lihat melalui slide ini bahwa agresi merupakan perasaan marah atau tindakan kasar akibat rasa kecewa ataupun merasa gagal dalam mencapai pemuasan atau tujuan yang dapat dilampiaskan kepada orang lain ataupun melalui benda.”

“Alaaah ... Sok tahu kamu, Asia,” suara teriakan Mayu membuat seisi kelas terkejut. Gadis itu menghampiri Asia dengan angkuh. “Kalau menjelaskan definisi saja lebih mudah bagiku. Ini mah kecil. Nggak perlu tuh pakai lirik-lirik di slide lagi.”

Mendadak kelas menjadi heboh. Mereka tidak mengira jika Mayu telah merusak presentasi mereka.

Aria langsung mendorong pundak Mayu dengan pandangan tajam. “Maksudmu apa bicara begitu dengan Asia? Kamu nggak lihat kita lagi presentasi ... ?!”

Giliran Mayu yang mendorong-dorong pundak Aria dengan jarinya seraya berbicara lebih keras, “Belain saja terus! Memang diantara kami, Asia yang paling spesial kan bagimu. Padahal baginya, kamu tuh cuma dianggap sebagai ‘kutu pengganggu'.”

Wajah Aria mulai memerah menunjukkan amarahnya. Tiba-tiba dia tangannya melayang hampir menonjol wajah Mayu. Seisi kelas langsung menahan napas. Bu Sophie juga bersiap untuk berdiri dan melerai.

Asia langsung berteriak, “STOP!” mendadak Aria dan Mayu berhenti bergerak dan mulai diam seperti patung. Asia berjalan melewati mereka seraya menjelaskan, “Nah, inilah salah satu contoh dari bentuk-bentuk dari perilaku agresi. Iya kan, Marella?”

Marella ikut melangkah maju dan berjejer dengan Asia. “Yap! Apa yang dilakukan oleh Mayu tadi disebut agresi verbal yaitu agresi yang dilakukan dengan cara menyerang secara verbal. Contohnya seperti mengejek, membentak, menghina. Lalu bentuk perilaku agresi apa yang dilakukan oleh Aria tadi?”

Satria pun ikut berjejer di samping Marella. Dia ikut menjelaskan, “Aria melakukan agresi fisik yakni agresi yang dilakukan dengan menggunakan kemampuan fisik seperti menonjok, menendang, melempar, dan menggigit.”

Para mahasiswa menjadi bernafas lega. Ada yang masih shock sampai berdiri dan ada yang langsung minum air putih dari botolnya. Bu Sophie yang semula hampir marah, kini tersenyum malu. Beliau merasa terkecoh dengan adegan presentasi dari kelompok satu.

Satria kembali melanjutkan slide berikutnya. Tubuh Aria dan Mayu kembali bergerak. Aria ikut menjelaskan, “Lantas apa sih faktor penyebab adanya perilaku agresi, May?”

Mayu pun menjelaskan, “Ya tentu saja bisa karena disebabkan oleh amarah, lingkungan, dan proses pendisiplinan yang keliru.”

“Loh, amarah bisa menjadi penyebab dari perilaku agresi toh?” tanya Marella. Mayu mengangguk.

“Ya, karena pada saat seseorang merasa marah cenderung memiliki perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan, maupun timbul pikiran kejam lainnya. Apabila perasaan itu tersalurkan, maka terjadilah perilaku agresi.”

Lihat selengkapnya