Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #15

#15 | Terima Kasih, Diriku

Asia dan ibunya duduk berdampingan di kursi sofa panjang. Gadis muda itu memegang kedua tangan ibunya dengan penuh kasih. Dia begitu menyayangi ibunya. Tidak pernah sekalipun dia berharap akan menyakiti ibunya hari itu.

Setelah semua yang sudah terjadi, ibunya tetap mau berbicara dengannya. Walaupun beliau tetap bersikukuh untuk tidak lagi menyetir maupun memberikan keputusan untuk anaknya lagi. Asia merasa ini saatnya ia berbaikan dengan ibunya.

Dia tidak ingin membiarkan luka ibunya semakin dalam seperti apa yang dirasakan oleh Aria dan kedua orang tuanya. Luka batin yang menjadi jurang pemisah di antara mereka sehingga semakin lama hubungan keluarga bisa menjadi asing. Asia mulai menitikkan air mata.

“Bu, aku ingin berterima kasih kepada ibu. Berkat ibu, selama ini aku bisa belajar banyak hal. Merancang jadwal, selalu berpikir maju ke depan, dan membantuku memikirkan masa depan yang terbaik untukku. Aku sadari bahwa ibu tidak pernah gagal membesarkanku. Ibu berhasil mengajariku untuk menjadi wanita yang lebih kuat, mandiri dan tidak bergantung pada siapapun,” ucapnya memulai pembicaraan. Ibunya melihatnya dengan tatapan bingung karena tiba-tiba anaknya mengajaknya berbicara serius dengannya. Dan kini anaknya malah berterima kasih padanya.

“Asia, kamu tidak sedang sakit kan? Kamu demam?” tanya ibunya sambil memegang kening anaknya, mengira-ngira suhu tubuh anaknya. Asia memegang tangan ibunya lagi sambil terkekeh.

“Ibu, aku tidak sedang sakit ataupun demam,” katanya.

“Ibu rasa kamu kelihatan aneh hari ini,” ucap ibunya lagi. Sudut matanya terlihat mengamati keadaan anaknya sampai detail.

“Ibu, hari ini aku ingin berbicara baik-baik dengan mengatakan semua yang ada di pikiranku. Aku tidak akan lagi menyalahkan ibu yang dulu sering mengambil alih keputusan untukku. Semenjak ibu memutuskan untuk berhenti memberikan keputusan apapun padaku, jujur ... rasanya aku menjadi kesulitan dalam banyak hal. Seperti orang yang buta arah tanpa kompas penunjuk arah,” mendengar hal itu, membuat ibunya mendengarkan penjelasan Asia dengan lebih seksama.

Asia mengungkapkan semua yang dirasakannya, “Tetapi dari situ, aku bisa belajar banyak hal baru. Karena ibu yang selalu mengajariku kalau sebagai wanita harus pantang menyerah membuatku kembali bangkit, walau tertatih. Awalnya aku merasa hancur, tetapi sekarang aku bisa mengatasinya dengan baik. Aku menemukan diriku yang baru di sepanjang perjalananku yang sekarang.”

Ibunya terus mendengarkan dalam diam. Asia menelan ludah sesaat. ‘Ini saatnya aku membahas hal yang sedikit sensitif. Aku harus mengatakannya selagi sempat. Karena tidak akan ada hari lagi dimana aku bisa berani meluahkan perasaanku pada ibu,’ Asia mencoba memantapkan hatinya untuk bisa berbicara di hadapan ibunya.

Gadis itu kembali melanjutkan kata-katanya, “Pandanganku tentang masa depan masih terasa samar. Tetapi aku sadar akan satu hal, diriku masih berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aku ingin ibu tidak perlu terlalu mencemaskan masa depanku. Karena mulai hari ini, Asia yang baru, akan tetap melangkah maju dan berpikir ke depan. Aku akan melakukan berbagai hal yang positif, lalu memupuknya hingga tumbuh seperti tanaman dengan bunga yang mekar sempurna. Semua pengalaman yang aku alami itu akan mengantarkanku sampai menuju ke masa depan yang sudah menungguku disana.”

Untuk pertama kalinya Asia memberanikan diri untuk mengatakan semua hal yang ia pendam selama ini kepada ibunya. Asia merasa bahwa ibunya juga berhak tahu jikalau anaknya masih belum tahu mau kemana dan bagaimana gambaran masa depannya secara jelas. Tetapi Asia juga menjelaskan bahwa dia tidak hanya akan diam menunggu masa depan itu datang. Asia dengan dirinya yang baru akan tetap berjalan dengan tangguh dan semakin berani menghampiri masa depannya kelak.

Tangan ibunya tidak bergerak. Beliau hanya menatap Asia dalam diam. Tetapi sorot matanya mulai berubah.

Diam-diam Asia merasa takut jikalau dia akan dimarahi lagi. Ibunya mulai membuka mulutnya, “Ibu senang mendengarnya. Kamu bisa mengambil keputusan masa depanmu sendiri dengan tegas. Awalnya ibu ragu karena melepasmu itu tidak mudah. Tetapi semakin lama ibu menjadi sadar kalau kamu sudah bukan anak kecil lagi. Kamu sudah tumbuh dewasa dan sudah saatnya bisa memiliki keputusan sendiri. Maaf ya, nak. Karena selama ini ibu sudah berbohong padamu dan juga berbohong dengan banyak orang. Ibu tidak akan mempermasalahkan lagi bagaimana cara kamu menjalani hidupmu, yang terpenting kamu tidak membohongi dirimu sendiri.”

Asia langsung menangis keras. Bukan karena sedih, tetapi karena merasa lega. Dia tidak menyangka kalau ibunya ternyata sangat sayang padanya dan memahami keadaannya. Gadis itu memeluk erat ibunya. Begitu pula dengan ibunya yang juga membalas pelukan anaknya sembari mengelus-elus rambut anaknya dengan lembut.

“Terima kasih, bu. Aku sayang banget sama ibu,” ungkapnya di sela tangisnya. Ibunya mengangguk.

“Ibu juga. Selamanya juga selalu sayang padamu.”

***

Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan kamar yang tampak gelap gulita. Beliau berjalan sampai di depan tirai yang tertutup rapat. Dengan sigap, wanita itu menggeser tirai selambu dengan kedua tangannya hingga seberkas cahaya terang masuk menembus ruangan kamar itu. Wanita itu tersenyum kala menemukan anaknya perlahan membuka matanya dan terbangun karena cahaya dari sinar matahari memenuhi ruangan kamarnya.

“Aria, ayo bangun. Pagi ini kamu ada kelas kan?”

Aria manggut-manggut di sela kantuknya. Matanya masih setengah tertutup. Ibunya segera memberikannya handuk dan mendorongnya sampai masuk ke dalam kamar mandi.

“Dasar. Anak itu masih saja seperti dulu. Susah sekali dibangunkan. Andai saja Aquara masih ada, pasti saat ini dia yang membangunkan Aria. Aih, anak-anakku,” kata ibunya berbicara sendiri.

Saat ia hendak keluar kamar, langkahnya terhenti dan melihat kertas yang sudah dilipat dalam bentuk pesawat. Ibu Aria mengingat masa lalu dimana dulu suaminya yang mengajari anak-anaknya membuat pesawat terbang. Namun Aquara lebih memilih bermain kapal kertas daripada pesawat kertas.

Kala itu suaminya tidak sesibuk sekarang. Dia masih memiliki banyak waktu luang untuk bermain dengan anak-anaknya. Saat dilihat lebih jelas, pesawat kertas itu terdapat tulisan yang membuat ibu Aria penasaran.

Ibunya menoleh ke arah pintu kamar mandi. Masih terdengar suara Aria yang sedang mengguyur badannya dengan air. Diam-diam ibunya melangkah keluar kamar dan bergegas menemui suaminya di dalam kamar.

“Bapak, coba lihat ini,” kata ibu Aria sambil menunjukkan pesawat kertas di depan wajah suaminya yang baru saja mengencangkan ikat pinggangnya. Bapak Aria tersenyum melihatnya.

“Pasti Aria yang membuatnya ya, bu? Anak itu ... sudah besar kok masih suka bikin pesawat kertas.”

Ibu Aria berseru dengan gemas, “Bukan pesawat kertas ini, bapak! Tetapi tulisan ini. Ibu penasaran ingin baca apa yang tertulis di dalamnya.”

Bapak Aria melihat sederet kalimat yang tidak lengkap karena tulisannya terlipat ke dalam. Bapak Aria mulai membaca tulisan tersebut, “Saya takut bicara, takut dianggap lemah, takut dicap ... Ah! Iya, bu. Tidak bisa terbaca dengan jelas. Buka saja. Siapa tahu tulisan ini berkaitan dengan keadaan Aria sekarang.”

Ibu Aria membukanya perlahan. Saat kertas itu terbuka, terdapat tulisan panjang seperti sebuah surat. Ibu dan bapak Aria duduk di atas ranjang, membaca surat itu bersama-sama.


     Surat Aria untuk Bapak dan Ibu

Bapak, ibu, saya minta maaf kalau surat ini mengejutkan kalian berdua. Saya menulis karena saya tahu, selama ini saya terlalu sering diam. Saya takut berbicara, takut dianggap lemah, takut dicap anak durhaka. Tapi saya lelah karena terus berpura-pura kuat.

Sejak Kak Aquara meninggal, saya tahu ibu dan bapak kehilangan bagian penting dari hidup kalian. Tapi sejujurnya, saya juga kehilangan arah. Saya sering merasa seperti bayangan kak Aquara yang selalu harus sebaik dia, secerdas dia, sekuat dia. Padahal saya bukan dia, pak, bu.

Saya cuma Aria, anak bapak dan ibu yang sering menangis diam-diam di kamar karena merasa tidak pernah cukup. Saya tahu kalian ingin yang terbaik untuk saya. Tetapi saya ingat sekali saat bapak bilang, “Kamu nggak kenapa-napa, kamu cuma cari perhatian,” rasanya seperti luka yang tak terlihat menjadi semakin berdarah.

Saya sudah empat tahun ke dokter jiwa bukan karena saya gila, pak, bu. Tapi karena saya ingin tetap hidup. Saya ingin sembuh. Saya ingin tetap jadi anak bapak dan ibu dalam versi saya yang utuh, bukan versi yang kalian berdua harapkan.

Saya tahu kata ‘depresi’ dan ‘dokter jiwa’ terdengar menakutkan. Tapi lebih menakutkan lagi kalau saya harus menjalani semuanya sendirian. Saya nggak minta bapak dan ibu mengerti semuanya sekarang.

Saya hanya minta sedikit ruang untuk didengarkan, untuk dihargai, untuk merasa cukup sebagai diri saya sendiri. Saya sayang bapak dan ibu. Tetapi sekarang, saya juga sedang belajar menyayangi diri saya sendiri. Tolong jangan jadikan saya musuh hanya karena saya sedang mencoba sembuh.


Dari anak bungsu kalian,

Aria


Bapak dan ibu Aria membaca surat itu sampai berderai air mata. Mereka tidak pernah tahu bahwa selama ini anak bungsunya mengalami rasa sakit yang dalam. Anak keduanya yang selama ini berusaha bangkit sendiri dari luka yang dideritanya.

Ibu Aria melihat suaminya yang masih meneteskan air mata. Beliau mengusap air mata yang meleleh di pipi suaminya. Bapak Aria juga mengusap air mata istrinya.

“Kita harus berbicara lagi dengannya,” ucap bapak Aria. Ibunya mengelus pundak suaminya. “Tetapi tidak untuk memarahi, membentak, ataupun menghakiminya lagi.”

Lihat selengkapnya