Let Me Love You in Another Life

Red Blossoms
Chapter #2

Chapter 01 [Kembali?]

"... lyn.”


“..."


“Roselyn!”


Gsap!


Roselyn tersentak kala merasakan tubuhnya terhuyung pelan ke samping. Kedua matanya mengerjap beberapa saat, berusaha menstabilkan kesadarannya yang terasa seakan baru saja terhempas jatuh dari ketinggian.


Sepasang mata emerald-nya pun menatap sekeliling dalam kebingungan; memperhatikan setiap sudut area di sana. Ia bisa melihat beberapa orang menatap ke arahnya dengan pandangan aneh.


Roselyn memang tidak mengenal sebagian besar dari mereka, namun dirinya merasa familiar dengan beberapa dari mereka. Terutama mereka yang mengenakan jas hitam dengan logo kecil di bagian dada kanan.


‘B-Bagaimana mungkin?’ batin Roselyn seketika diliputi kebingungan.


Meski sepuluh tahun telah berlalu, namun ingatannya tidaklah seburuk itu. Ia tidak mungkin melupakan lambang dari perguruan tinggi tempatnya menimba ilmu hingga dirinya mendapatkan gelar S1 sebagai Sarjana Desain.


Bukankah seharusnya dirinya sudah mati? — Sebuah pertanyaan itu terlontar dalam pikiran Roselyn.


“Roselyn, kau ini kena —"


Plak!


Suara benturan kulit terdengar nyaring; cukup keras hingga mengalihkan perhatian sebagian besar orang di tempat itu. Berbagai macam ekspresi tercetak pada wajah masing-masing dari mereka. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka tampak mengerutkan kening dengan tatapan bingung.


Apa ini?


Kenapa gadis yang dijuluki “Dewi Kampus” itu menampar wajahnya sendiri? — Sekiranya itulah yang ada dalam benak mayoritas orang di sana.


Dan seolah telinganya menjadi tuli, Roselyn beranjak dari kursinya dan berlari keluar dari area kantin.


“R-Roselyn, k-kenapa kamu — lho? Mau kemana? Roselyn? Hei!”


Roselyn mengabaikan suara yang memanggil namanya di belakang sana, memacu langkah tanpa tujuan. Kemanapun itu, asal cukup tenang untuk mencerna situasi bersamaan dengan pecahan-pecahan ingatan yang berputar dalam kepalanya.


Langkah kakinya tanpa sadar membawa dirinya ke sebuah koridor kosong yang mengarah ke ruang aula serba guna. Gerak kakinya melambat hingga akhirnya terhenti saat dirinya berdiri tepat di depan pintu aula yang tertutup.


Ia kemudian mendudukkan diri pada salah satu bangku tunggu di depan ruang aula. Kedua tangannya terangkat, memijat pelan kedua pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


Setelah melompat dari atap gedung pemerintahan di Ibu Kota Negeri Caldera, seharusnya Roselyn menemui akhir hidupnya. Setidaknya begitulah yang diyakininya.


Namun, alih-alih pergi ke Neraka, dirinya malah kembali ke masa perkuliahannya. Bukankah ini terlalu tidak masuk akal? — pikirnya.


Roselyn mengusap kasar wajahnya. 'Apa-apaan ini?’ batinnya frustasi.


Mau tidak percaya, tapi ia mengalaminya sendiri. Dan kalaupun semua ini tak lebih dari sekedar delusi, tidak mungkin kan ia merasakan sakit saat menampar dirinya sendiri tadi.


Dengan tangan gemetar, Roselyn merogoh tasnya, mengambil ponsel miliknya. Diabaikannya notif pesan tampil memenuhi sebagian besar layar saat ia menekan tombol lockscreen. Pandangannya terfokus sepenuhnya pada waktu dan tanggal yang tertera di sana.


11:10 AM


3 November 2025.


Bibirnya seketika mengatup rapat. Ekspresinya pun mendadak berubah tegang.


Roselyn berusaha bersikap tenang. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan; begitu seterusnya hingga pikirannya terasa sedikit lebih jernih.


Dalam pikirannya, Roselyn berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk fenomena ‘ajaib’ yang dialaminya saat ini.


‘Baiklah. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Coba pikir ... seaneh apapun kejadian ini, pasti ada penjelasan ilmiahnya kan?’ batinnya, berusaha mendukung sisi logika dalam dirinya.


“Tapi mau dipikirkan bagaimanapun, ini tetap tidak masuk akal logika manapun!” ucap Roselyn; pada akhirnya mulutnya tak tahan lagi untuk tidak menyanggah pernyataan dari batinnya sendiri.


Berpikir bahwa kematiannya itu adalah mimpi, juga hal yang mustahil. Pasalnya, benturan yang meremukkan seluruh tulangnya terasa terlalu nyata untuk sekedar disebut sebuah bunga tidur. Rasa sakit itu bahkan tercetak sebagai trauma yang memenuhi isi kepalanya.


Roselyn kembali mengatur nafasnya; menariknya dan mengeluarkannya perlahan. Debaran keras dalam dadanya pun perlahan tergantikan dengan degup yang lebih halus.


Disaat isi pikiran dan batinnya berangsur menjadi jernih, Roselyn dikejutkan dengan dering singkat dari ponsel pintarnya.


Klung!


Roselyn segera mengecek ponselnya. Tadi dirinya terlalu sibuk dengan pergolakan batin dan pikirannya sampai-sampai mengabaikan segala hal di sekitar.


Namun, sesaat setelah melihat rentetan notifikasi pesan di layar lockscreen ponselnya, ekspresi Roselyn berubah kaku. Tatapan sepasang mata hijau pudar miliknya pun melebar melebar sesaat, sebelum akhirnya tampak memicing tajam.


Fokusnya bukan pada isi dari sebagian pesan yang tampak di sana, melainkan pada nama si pengirim. Kedua tangan Roselyn seketika mengepal erat. Tanpa sadar meremas smartphone yang masih dalam genggamannya.


Lihat selengkapnya