Beberapa hari sebelumnya...
"Udah nyiapin semuanya, 'kan? Jangan sampai ada yang ketinggalan, loh."
Suara Frans memecah keheningan kamar. Ia berdiri santai, membiarkan satu bahunya menempel pada kusen pintu sambil memperhatikan Erika yang tengah berjongkok di sisi tempat tidur.
Cahaya matahari menerobos lewat jendela, memantul lembut di kulit kuning langsat Erika. Di ambang pintu, Frans tampak tenang. Dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter dan tubuh atletis yang proporsional, ia terlihat seperti pria yang sangat menjaga kebugaran tanpa harus terlihat berlebihan. Potongan rambut quiff-nya rapi—sisi tipis dengan bagian atas disisir pendek—membingkai wajah tegas dengan rahang kokoh yang menonjolkan bayangan halus di bawah cahaya pagi.
Matanya yang berwarna cokelat tua berbentuk almond tampak tenang tapi tajam, seolah sanggup membaca apa yang tersembunyi di balik setiap ucapan. Sebuah senyum miring muncul di bibir tipisnya, menyiratkan kesan antara godaan dan rahasia kecil. Kaus polo biru tua yang ia kenakan melekat pas di tubuh, berpadu dengan celana jeans gelap yang memberikan kesan dewasa namun tetap santai.
"Udah donggg. Emangnya anak-anak yang lain udah pada ngumpul di rumahnya Dita?" sahut Erika tanpa mengalihkan pandangan.
Tangannya sibuk menjejal barang-barang ke dalam ransel kuning. Di antara tumpukan baju dan camilan, ia memastikan powerbank dan charger terselip aman—dua benda yang bagi Erika jauh lebih sakral daripada kotak make-up.
Erika, yang baru saja menginjak usia dua puluh dua tahun, bergerak dengan ketangkasan yang teratur. Tubuhnya tinggi dan ramping. Rambut hitam lurusnya dikuncir kuda sederhana, meski beberapa helai nakal terlepas di pelipis dan bergetar setiap kali ia bergerak. Kulitnya bersih dengan rona pipi alami yang segar meski tanpa riasan. Hari itu, ia memilih crop jacket putih dan celana pendek hitam yang memamerkan kaki jenjangnya—sebuah tampilan kasual yang entah bagaimana selalu berhasil mencuri perhatian.
Bersama Frans dan lima teman lainnya, Erika sudah merencanakan perayaan ulang tahunnya di sebuah vila di kawasan perbukitan. Sebuah pelarian kecil untuk menutup semester kuliah yang menguras energi.
"Nggak tahu sih," jawab Frans. Ia mulai melangkah masuk, mendekati Erika dengan langkah perlahan. "Kamu tahu sendiri, anak-anak nggak pernah bisa tepat waktu kalau udah soal ngumpul."
Erika berhenti sejenak, lalu mengangkat ransel kuningnya yang kini tampak menggembung berat. Ia memamerkan tas itu dengan raut wajah yang bimbang antara ragu dan bangga. "Kebanyakan nggak sih aku bawa barang-barangnya, Frans?"
Frans terkekeh. Ia mengulurkan tangan, mengambil alih ransel itu. "Wah, berat juga," komentarnya sambil menimbang-nimbang beban di tangannya. "Tapi nggak papa, mending kelebihan daripada ada yang ketinggalan pas udah sampai sana."
Frans menyampirkan tas itu di pundaknya, lalu memberikan isyarat dengan dagu ke arah pintu. "Yuk, kita berangkat."
"Bentar," balas Erika cepat. Ia segera menghempaskan tubuh di pinggir kasur, jemarinya bergerak lincah mengetik di layar ponsel. "Aku kabarin dulu di grup WhatsApp biar anak-anak pada cepet ngumpul."
***
"Yah, jadi mendung gini sih harinya."
Mira mengeluh pelan sembari melemparkan pandangan ke luar jendela kaca. Di luar sana, langit tampak kelabu dan berat, seolah hanya menunggu hitungan detik sebelum menumpahkan hujan. Di hadapannya, secangkir cappuccino masih mengepulkan uap tipis yang berbaur dengan hawa dingin coffee shop pagi itu.
Perempuan berkulit sawo matang cerah itu tampak menonjol di tengah suasana kedai yang sendu. Wajahnya polos, namun bibirnya yang penuh dan sensual memberikan daya tarik alami, terutama saat ia mengerucutkan bibir untuk menyeruput minumannya—sebuah gerakan kecil yang tanpa sadar memikat mata di sekitarnya. Rambut bob pendek bertekstur membingkai wajahnya, menciptakan perpaduan antara kesan tomboy dan feminin. Dengan sweater abu-abu tanpa lengan dan celana panjang hitam, Mira terlihat menawan dalam kesederhanaan yang effortless.
Di seberang meja, Fani duduk santai. Tangan kanannya sibuk memainkan sedotan di dalam gelas blueberry milkshake, sementara tangan kirinya tak lepas dari layar ponsel yang terus ia gulir.
"Eh, si Erika dah ngabarin di grup tuhhh, dia sama Frans otw ke rumah Dita katanya. Kita berangkat juga, yuk?" ujar Fani tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada rentetan pesan di layar.