"Hahaha, maaf ya, guys. Tadi malam aku harus nyelesein editing video di kos, jadinya bangun kesiangan," ucap Rian sambil melempar tawa canggung.
Ia tampil dengan hoodie hitam dan jogger senada, sebuah setelan yang seolah menegaskan kepribadiannya yang santai dan sedikit berantakan. Rian mengusap tengkuknya, mencoba menetralisir tatapan teman-temannya yang sudah menanti sejak tadi.
"Lama banget tauuu kami nungguinnya. Harusnya udah berangkat dari tadi ini kita," keluh Fani.
Tangannya yang mungil mengangkat ransel berwarna pink ke dalam bagasi mobil Frans yang sudah hampir penuh. Pipi putihnya menggembung cemberut, menciptakan guratan kesal yang kentara.
"Aaah. Duhh. Iyaa, maaf ya, Fani," sahut Rian merasa tidak enak. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berdiri kaku di sisi mobil.
"Dahhh, yang penting semuanya udah ngumpul sekarang. Pastiin barang-barangnya jangan sampai ketinggalan ya, guys," sela Dita. Ia ikut sibuk merapikan tumpukan tas di bagasi, memastikan setiap sudut ruang terisi efisien.
Tiba-tiba, gerakan tangan Toni terhenti. Ia menarik sebuah benda panjang dari dalam ransel milik Dita. "Eh, ini kamu bawa ginian buat apaan, Diiit?"
Toni mengangkat sebuah pentungan bisbol berbahan kayu. Permukaannya mulus, mengilap terkena pantulan cahaya siang itu, dan terasa cukup solid di genggaman. Bobotnya yang berat sempat membuat tangan Toni sedikit turun saat menimbangnya.
"Yaa... yaaaa buaat, buat apa ya? Ya kali aja di sana ada penjahat, kan? Atau hewan buas gitu, buat kita jaga diriii," jawab Dita. Matanya yang bulat menerawang ke langit-langit teras, sementara jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk bibir bawahnya, seolah sedang mencari alasan yang lebih masuk akal.
"Penjahat? Hewan buas?? Emangnya kita mau ke hutan belantara, hahaha." Toni tertawa renyah, meski ia sempat terdiam sejenak melihat pantulan dirinya di kayu yang mengilap itu. Ia mencoba mengayun-ayunkan pemukul itu ke udara, membelah angin layaknya pemain bisbol profesional. "Tapi ini kamu berarti niat beli ginian sebelum kita berangkat ke vila??"
"Ya enggak donggg. Aku udah beli lama, buat di kamar. Jaga-jaga kalau ada maling atau rampok masuk rumah kan. Hihi," jawab Dita santai.
"Aneh-aneh aja bawaanmu, Dit," Mira ikut menyahut.
Kedua tangannya mengangkat satu dus minuman beralkohol—soju—yang berdentang pelan saat ia hendak memasukkannya ke bagasi. "Eh, minta ruang buat ini dulu dong di bagian bawah, bantuin mindahin tas-tasnya dulu," pinta Mira pada yang lain.
"Asiiik ada sojuuu! Nice, ada dua dus donggg," seru Dita sumringah. Matanya berbinar melihat satu dus lainnya yang masih tertahan di skuter Mira. "Pake KTP siapa btw belinya??"
"KTP Frans lah, tadi sama dia juga belinya naik motor, gara-gara nungguin dia nihh," jawab Mira sambil memonyongkan bibirnya ke arah Rian.
"Bentar-bentar, ini punya Dita nyembul pentungan ginian, mending kita taruh belakangan deh, turunin dulu lah sebagian. Terus ini gitarku taruh paling atas aja entar," instruksi Toni. Ia mulai menurunkan beberapa ransel untuk memberi ruang bagi dua dus soju di bagian paling bawah bagasi—menyembunyikannya di balik tumpukan barang lain.
"Ookayy guys! Balik lagi di channel-ku, DailyRian. Kali ini kita mau jalan-jalan ke salah satu tempat buat healing nih, guys. Nahh ini kita lagi persiapan sebelum berangkat ceritanya. Kenalin temen-temenku di sini yuk. Guys, ngadep kamera bentar donggg," pinta Rian.