Liburan Teakhir: Rahasia di Balik Vila

Sugianes
Chapter #4

Part 3 - Kiri atau Kanan?

Pukul 20.40. Di rest area.

"Ahh, kenyaaang. Lumayan ganjel perut sebelum sampai Vila," ujar Dita sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi plastik.

"Ini rest area terakhir sebelum masuk daerah perbukitan, kan, Fan?" tanya Frans. Ia berdiri sedikit menjauh, mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. Ujung rokoknya menyala merah, kontras dengan kegelapan yang mulai mengepung area parkir.

"Iyaa, masih dua jam-an lagi sih kayaknya baru nyampe Vila," jawab Fani sambil sesekali mengetuk layar jam tangannya, memastikan waktu.

"Ayuk lanjut, badanku udah pegel semua. Kalian udah siap belum?" timpal Mira. Ia menekan puntung rokoknya ke asbak hingga padam sepenuhnya, lalu berdiri sambil meregangkan otot-otot lengannya.

"Si Rian masih ke toilet kayaknya," jawab Toni sembari mengedarkan pandangan, menghitung satu per satu temannya yang masih bertahan di meja outdoor itu.

"Hayuukk, udah selesai ini." Tiba-tiba suara Rian muncul dari belakang Toni, membuat pria itu sedikit tersentak.

Sedetik kemudian, suasana berubah. Titik-titik air mulai jatuh menghantam permukaan aspal yang panas—gerimis tipis yang beraroma tanah, namun cukup untuk membasahi pakaian jika mereka tidak segera bertindak.

"Yahhh, kok malah hujan sih. Udah mau nyampe juga," keluh Dita sambil menengadah.

"Yuk, guys, kalian mau nunggu di sini atau kita jalan aja bareng ke mobil?" Frans membuang sisa rokoknya dan menginjaknya hingga mati. Ia menunjuk ke arah SUV hitam mereka yang terparkir sekitar seratus meter di depan.

"Udah, jalan aja, belum terlalu deras kok ini," tandas Erika, yang segera disetujui oleh yang lain.

Ketujuhnya berjalan cepat, setengah berlari di bawah siraman air yang mulai menderas. Mereka menutupi kepala dengan tangan atau tas seadanya. Frans memimpin di depan, langkahnya lebih lebar, bersiap membuka kunci pintu otomatis agar teman-temannya tidak perlu menunggu lama di bawah hujan.

"AKHH!"

Sebuah pekikan melengking memecah suara hujan. Frans mendadak berhenti dan menoleh. Di belakangnya, Mira sudah dalam posisi tertelungkup di atas aspal yang basah. Fani segera berjongkok di sampingnya, berusaha membantu Mira berdiri.

"Mobil itu, Frans!" pekik Erika dengan nada gemetar. Telunjuknya mengarah pada sebuah mobil van hitam yang melaju cepat, menyapu genangan air tepat di sisi tempat Mira terjatuh. Tampaknya, mobil itu baru saja menyerempet Mira.

"Heiii! Berhenti!!" Rian berteriak kencang, suaranya bersaing dengan deru mesin.

Namun, tidak ada lampu rem yang menyala. Mobil van itu justru tetap melaju lurus.

Frans tidak tinggal diam. Ia bersiaga, berdiri di lintasan yang cukup dekat saat van itu melintas di sampingnya. Dengan gerakan refleks yang penuh amarah, ia melayangkan hantaman keras pada kaca samping depan mobil itu.

BUK!

"WOOI BERHENTI!!" bentak Frans.

Mobil van itu tidak langsung kabur. Ia melambat perlahan, lalu berhenti beberapa meter di depan Frans. Lampu belakang berwarna merah menyala kontras di tengah guyuran hujan yang kian menderas, seperti sepasang mata iblis yang menatap mereka di kegelapan malam.

Mobil itu diam membeku. Mesinnya masih menderu halus, namun tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Tidak ada yang turun untuk meminta maaf.

Lihat selengkapnya