"Paling salah jalan juga sih mereka," ujar Toni santai. Ia memutar lehernya, mencoba melirik lewat kaca belakang. Di kejauhan, hanya tampak sepasang lampu depan yang berpendar pucat di balik tirai hujan deras.
"Kalau mereka mau ke vila lain, berarti kita yang salah jalan. Tapi kalau vila pamannya Fani satu-satunya di depan, berarti mereka yang salah. Gitu kan?" sahut Dita. Ia menaruh jari telunjuk di depan bibir, ekspresinya tampak serius memikirkan logika sederhana itu.
"Atau jangan-jangan... mereka ngikutin kita?" celetuk Rian tiba-tiba.
"Yee, nggak lucu sih, Yan," ketus Mira. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, tidak menyukai arah pembicaraan itu.
"Tau ih, Rian, jangan dong ah!" Fani ikut menimpali, suaranya naik satu oktav karena cemas.
"Hehehe, canda, guys. Biar nggak terlalu tegang, ya kannn," balas Rian sambil nyengir, meski tak ada yang ikut tertawa.
Keheningan kembali menyergap kabin mobil selama beberapa menit. Hanya ada suara mesin yang mengerang pelan dan derak wiper yang konsisten.
"Harusnya udah sampai nggak sih ini kita?? Duhhh, Fani sih... masa bisa lupa sama jalan," Erika memecah keheningan dengan nada yang mulai tidak sabar.
"Huhu, maaf, kan udah dibilang udah lama nggak ke sini," sahut Fani pelan, kepalanya tertunduk sedikit.
"Harusnya sih iya. Tapi hujan deras gini bikin mobil nggak bisa jalan cepat. Jalan di depan sana gelap banget, ngeri kalau dipaksa," Frans mencoba menengahi sambil terus fokus menatap aspal basah di depan.
"Nah, bisa jadi tuh mobil di belakang cuma pengen kita nyinarin jalan buat mereka, hahaha," Toni mencoba melucu, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
"Bisa jadiii. Apa kita mau menepi dulu? Biar mereka jalan duluan? Gimana?" tanya Frans. Jemarinya sudah bersiap di tuas lampu sein, berniat memberi jalan.
"Eh, nggak usah deh, Frans. Gimana kalau mereka beneran ngikutin kita?" Erika menahan lengan Frans, matanya menatap spion samping dengan gelisah.
"Nahhh! Itu dia vilanya!"
Seruan Fani membuat semua orang tersentak. Gadis itu mencondongkan badannya ke depan, mengintip dari samping kursi pengemudi. Mobil mereka akhirnya tiba di ujung jalan yang lebih luas. Area itu berbentuk melingkar, dikelilingi oleh bayang-bayang tinggi pohon pinus yang tampak seperti raksasa diam di kegelapan malam.
Di sisi kanan, beridiri sebuah bangunan dua lantai berbahan kayu. Bangunannya besar dan kokoh, namun terlihat sangat sunyi dalam balutan warna gelap gulita. Frans memutar mobilnya, lalu memarkirkannya tepat di depan pintu masuk.
"Akhirnya sampai juga... huhh," Mira mengembuskan napas panjang, badannya lemas karena lega.
"Aku turun duluan ya, mau bukain pintu buat kalian," ujar Fani. Ia segera melesat keluar, berlari kecil menembus gerimis menuju pintu depan vila. Teman-temannya yang lain mulai turun satu per satu, menghirup udara pegunungan yang dingin dan basah.
Frans berjalan ke belakang, membukakan pintu bagasi. Namun, tepat saat mereka hendak mengangkut barang, sorot lampu jauh dari mobil di belakang tiba-tiba menghantam mereka.
"Mobil yang tadi... ngapain sih mereka?" Frans menyipitkan mata, mengangkat sebelah tangan untuk melindungi pandangannya dari silau yang menusuk.
"Tau, kayaknya mereka cuma mau mastiin jalan sih," balas Rian yang berdiri di sampingnya, juga ikut menyipitkan mata.
"Ah, paling bentar lagi mereka balik arah, nyadar kalau salah jalan," imbuh Toni. Ia mulai menurunkan tas-tas dari bagasi dengan cekatan. "Ayuk, guys, bantuin masukin barangnya, keburu kebasahan."
Frans melangkah sedikit ke tengah jalan, menghadap ke arah sorot lampu itu. Ia menyilangkan kedua lengannya di atas kepala—sebuah sinyal universal bahwa jalan ini buntu.