Liburan Teakhir: Rahasia di Balik Vila

Sugianes
Chapter #6

Part 5 - Suara Aneh

Pukul 08.15. Vila itu tampak seperti ditelan oleh kabut tebal akibat hujan semalaman. Tetesan embun membasahi kaca-kaca jendela besar, menciptakan tirai buram yang menyembunyikan pepohonan pinus di luar. Hawa dingin pegunungan merayap masuk lewat celah-celah kayu, menandakan pagi yang masih enggan menampakkan matahari.

Di lantai satu, Fani dan Mira sudah memulai aktivitas. Sebagai tuan rumah, Fani merasa memikul tanggung jawab atas kenyamanan teman-temannya. Mengenakan tank top putih yang melekat ringan dan celana pendek kain yang santai, ia bergerak lincah di dapur. Aroma cokelat panas mulai memenuhi ruangan saat ia mempersiapkan teko dan beberapa cangkir keramik.

Di sebelahnya, Mira tampak cekatan mengolah adonan panekuk. Lengan kaus panjang ungunya sesekali tersingkap saat ia mengocok adonan dengan ritme yang teratur. Celana pendek santainya memperlihatkan betisnya yang lentur, terutama saat ia harus sedikit berjinjit untuk meraih spatula di rak atas.

Sementara itu, lantai dua masih sunyi. Kelelahan dari perjalanan panjang kemarin tampaknya masih membelenggu sebagian besar penghuni kamar. Pintu kamar Rian yang terletak paling dekat dengan tangga masih tertutup rapat, kontras dengan pintu kamar Fani dan Mira di sebelahnya yang sudah terbuka lebar.

Tepat di seberang kamar Rian, adalah kamar yang menjadi pilihan Dita dan Toni.

"Uhhh..." Toni mengerang perlahan. Kesadarannya ditarik paksa oleh sensasi hangat yang tidak biasa di balik selimut. Ada gerakan naik-turun yang ritmis di area bawah pusarnya, sesuatu yang membuat matanya yang masih lengket terpaksa terbuka.

"Ditaaa... Tadi malem kan udah, emang nggak capek apa?" gumam Toni serak. Ia menyingkap selimutnya, dan di sana tampak sosok Dita tanpa sehelai benang pun, tengah asyik dengan aktivitas paginya.

"Habisnyah... Slrrrph... Harinya dinginnn. Aku kan cuman nyari kehangatannn~" jawab Dita pelan, ia mendongak sebentar dan memberikan senyum manis yang nakal sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.

***

"Ayo banguuun, Frans. Aku laperrr, pengen sarapan," rengek Erika di kamar sebelah.

Erika sudah berpakaian rapi, siap untuk memulai hari. Hoodie oversize biru muda membungkus tubuh rampingnya, dipadukan dengan celana pendek putih yang menonjolkan kaki jenjangnya. Meski rambutnya hanya diikat kuda sederhana, wajahnya yang segar tanpa polesan berat tetap memancarkan pesona khas selebgram.

Frans masih bergeming. Ia berbaring malas dengan hanya mengenakan celana tidur kotak-kotak yang kusut. Dada bidangnya yang sedikit berotot naik-turun perlahan. "Ssshh! Coba denger deh, ada suara aneh," bisiknya tiba-tiba dengan nada serius.

Keduanya terdiam sesaat. Di balik dinding kayu yang memisahkan mereka dengan kamar sebelah, terdengar suara-suara samar yang cukup jelas untuk dikenali.

"Ah... Ahh. Ahhh!! Enakh... Mmmhh."

Disusul bunyi plok... plok... plok... yang ritmis.

"Ehh... Suara Dita itu ya?? Semangat bener teriaknya," Erika berbisik, sebuah senyum geli tertahan di bibirnya.

"Ihh, ngapain sih pagi-pagi nguping orang! Ayoo buruu banguuun," Erika merengek lagi, kali ini sambil mengguncang bahu Frans.

"Enak ya, pagi-pagi dingin kayak gini udah olahraga. Pasti jadi hangat deh," ujar Frans, matanya menatap Erika dengan binar penuh harap. Ada gurat iri yang tak bisa ia sembunyikan setelah mendengar "konser" pagi dari kamar sebelah. "Harusnya momen kayak gini sambil kita nikmatin juga kayak mereka loh, Ka."

"Ahh udah nggak usah bawel, nanti kan bisa. Lagian lagi laper kayak gini nggak bakal ada nafsu buat ML," jawab Erika ketus, meski pipinya sedikit merona. "Bangun nggak?! Kalau nggak, aku jalan sendirian nih ke bawah!"

"Hahhh~ Ya udahhh, ya udah. Tunggu aku pakai baju dulu. Pagi-pagi udah marah-marah aja," keluh Frans sambil bangkit dengan enggan. Ia meraih kausnya, merasa sedikit kecewa karena pancingannya mental begitu saja.

***

"Pagi semuaaa~ Wih, udah wangi makanan aja nih."

Erika melangkah riang menuju meja makan kayu yang berat dan kokoh. Kilau permukaan meja itu menandakan kualitas kayu kelas atas, bukan barang sembarangan. Mira sedang sibuk menyusun piring-piring berisi panekuk hangat di sana.

"Eh, Rian mana??" tanya Erika sambil mengambil posisi duduk.

"Ini apa, Fan? Cokelat?" tanya Frans yang baru saja muncul dan langsung menuju teko di atas meja.

"Iya, cokelat. Kalau kamu mau kopi, bikin di dapur aja, yak," sahut Fani. "Rian belum keliatan deh. Coba aku cek ke atas, sekalian mau mandi sih ini. Kalian duluan aja sarapannya."

"Eh, aku titip handphone-ku dong, tadi di-charge di kamar," pinta Mira sembari menyesap cokelat panasnya.

"Okie doki~" balas Fani ringan sambil mulai menaiki anak tangga kayu.

"Toni sama Dita juga belum turun deh," Mira berujar sambil menopang dagu.

"Mereka lagi olahraga tadi sih kayaknya," celetuk Frans dari arah dapur, suaranya terdengar agak menyindir.

"Olahraga? Di lantai dua?" Mira mengerutkan kening, tidak menangkap maksudnya.

"Olahraga ituuu... olahraga gulat maksudnya. Hihi," Erika menimpali, tawanya pecah.

"Ooohh, 'gulat', hahaha. Mentang-mentang dingin ya harinya. Tapi... kalian tau darimana?? Ngintip yaaa??" Mira ikut tertawa setelah menyadari maksud pembicaraan itu.

"Ngintip gimana?? Orang teriakan si Dita kedengeran nembus dinding kok, hahaha~"

Cekrek.

Erika mengarahkan ponselnya, memotret sarapan di depannya. Sebagai orang yang hidup di balik lensa, privasi seolah menjadi barang langka baginya; setiap momen harus terdokumentasi.

"Kamu ngefotoin gitu juga nggak bakalan bisa upload sih, Ka," sindir Mira.

"Hahhh?? Astaga, iyaa. Kok nggak ada sinyal di sini. Tapi ada Wi-Fi kan??"

"Ada."

"Yes! Bagi password-nya dong."

"Ada, tapi lagi gangguan kata Fani. Hehe," Mira menyelesaikan kalimatnya dengan nada meledek.

"Ihhh, bakalan bete dong kita di sini!" Erika mengesampingkan piringnya dengan wajah cemberut.

"Yee, kan tujuannya retreat kayak ginian emang buat kita menikmati hidup tanpa gadget, Ka. Ya nggak, Mir??" Frans kembali ke meja makan dan duduk di samping Erika.

"Iya, mending rehat dulu sih. Mana sih Fani, lama banget," keluh Mira.

"Halah, rehat dari gadget, tapi sendirinya minta ambilin handphone sama Fani."

"Buat nyetel musik aja sihhh, mau jogging rencananya," jawab Mira sambil bangkit merenggangkan tubuh.

"Ehh, ikutan donggg!" Erika ikut berdiri.

Lihat selengkapnya