Pukul 08.15. Vila itu tampak seperti ditelan oleh kabut tebal akibat hujan semalaman. Tetesan embun membasahi kaca-kaca jendela besar, menciptakan tirai buram yang menyembunyikan pepohonan pinus di luar. Hawa dingin pegunungan merayap masuk lewat celah-celah kayu, menandakan pagi yang masih enggan menampakkan matahari.
Di lantai satu, Fani dan Mira sudah memulai aktivitas. Sebagai tuan rumah, Fani merasa memikul tanggung jawab atas kenyamanan teman-temannya. Mengenakan tank top putih yang melekat ringan dan celana pendek kain yang santai, ia bergerak lincah di dapur. Aroma cokelat panas mulai memenuhi ruangan saat ia mempersiapkan teko dan beberapa cangkir keramik.
Di sebelahnya, Mira tampak cekatan mengolah adonan panekuk. Lengan kaus panjang ungunya sesekali tersingkap saat ia mengocok adonan dengan ritme yang teratur. Celana pendek santainya memperlihatkan betisnya yang lentur, terutama saat ia harus sedikit berjinjit untuk meraih spatula di rak atas.
Sementara itu, lantai dua masih sunyi. Kelelahan dari perjalanan panjang kemarin tampaknya masih membelenggu sebagian besar penghuni kamar. Pintu kamar Rian yang terletak paling dekat dengan tangga masih tertutup rapat, kontras dengan pintu kamar Fani dan Mira di sebelahnya yang sudah terbuka lebar.
Tepat di seberang kamar Rian, adalah kamar yang menjadi pilihan Dita dan Toni.
"Uhhh..." Toni mengerang perlahan. Kesadarannya ditarik paksa oleh sensasi hangat yang tidak biasa di balik selimut. Ada gerakan naik-turun yang ritmis di area bawah pusarnya, sesuatu yang membuat matanya yang masih lengket terpaksa terbuka.
"Ditaaa... Tadi malem kan udah, emang nggak capek apa?" gumam Toni serak. Ia menyingkap selimutnya, dan di sana tampak sosok Dita tanpa sehelai benang pun, tengah asyik dengan aktivitas paginya.
"Habisnyah... Slrrrph... Harinya dinginnn. Aku kan cuman nyari kehangatannn~" jawab Dita pelan, ia mendongak sebentar dan memberikan senyum manis yang nakal sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.
***
"Ayo banguuun, Frans. Aku laperrr, pengen sarapan," rengek Erika di kamar sebelah.
Erika sudah berpakaian rapi, siap untuk memulai hari. Hoodie oversize biru muda membungkus tubuh rampingnya, dipadukan dengan celana pendek putih yang menonjolkan kaki jenjangnya. Meski rambutnya hanya diikat kuda sederhana, wajahnya yang segar tanpa polesan berat tetap memancarkan pesona khas selebgram.
Frans masih bergeming. Ia berbaring malas dengan hanya mengenakan celana tidur kotak-kotak yang kusut. Dada bidangnya yang sedikit berotot naik-turun perlahan. "Ssshh! Coba denger deh, ada suara aneh," bisiknya tiba-tiba dengan nada serius.
Keduanya terdiam sesaat. Di balik dinding kayu yang memisahkan mereka dengan kamar sebelah, terdengar suara-suara samar yang cukup jelas untuk dikenali.
"Ah... Ahh. Ahhh!! Enakh... Mmmhh."
Disusul bunyi plok... plok... plok... yang ritmis.
"Ehh... Suara Dita itu ya?? Semangat bener teriaknya," Erika berbisik, sebuah senyum geli tertahan di bibirnya.
"Ihh, ngapain sih pagi-pagi nguping orang! Ayoo buruu banguuun," Erika merengek lagi, kali ini sambil mengguncang bahu Frans.
"Enak ya, pagi-pagi dingin kayak gini udah olahraga. Pasti jadi hangat deh," ujar Frans, matanya menatap Erika dengan binar penuh harap. Ada gurat iri yang tak bisa ia sembunyikan setelah mendengar "konser" pagi dari kamar sebelah. "Harusnya momen kayak gini sambil kita nikmatin juga kayak mereka loh, Ka."
"Ahh udah nggak usah bawel, nanti kan bisa. Lagian lagi laper kayak gini nggak bakal ada nafsu buat ML," jawab Erika ketus, meski pipinya sedikit merona. "Bangun nggak?! Kalau nggak, aku jalan sendirian nih ke bawah!"
"Hahhh~ Ya udahhh, ya udah. Tunggu aku pakai baju dulu. Pagi-pagi udah marah-marah aja," keluh Frans sambil bangkit dengan enggan. Ia meraih kausnya, merasa sedikit kecewa karena pancingannya mental begitu saja.
***
"Pagi semuaaa~ Wih, udah wangi makanan aja nih."
Erika melangkah riang menuju meja makan kayu yang berat dan kokoh. Kilau permukaan meja itu menandakan kualitas kayu kelas atas, bukan barang sembarangan. Mira sedang sibuk menyusun piring-piring berisi panekuk hangat di sana.
"Eh, Rian mana??" tanya Erika sambil mengambil posisi duduk.