Ketujuh sekawan itu mendadak beku. Suasana sarapan yang tadinya penuh tawa cabul dan candaan ringan seketika sirna, berganti dengan kesunyian yang mencekam. Mereka saling lirik, sebelum akhirnya semua pasang mata tertuju pada Fani.
"Siapa, Fan? Tamu?" tanya Mira dengan suara nyaris berbisik.
"Hah? Nggak ada tamu deh. Siapa juga pagi-pagi bertamu ke vila terpencil gini?" Fani menggeleng cepat, wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus kegelisahan yang nyata.
"Bukain gih, Frans," perintah Erika.
"Wait, biar aku aja," sela Rian. Ia berdiri, merasa tertantang untuk menunjukkan keberanian. "Tolong pegangin dong kameranya," imbuhnya sambil menyerahkan gimbal kamera kepada Dita.
"Yuhuuu, ku pake ngerekam yak," balas Dita, mencoba mencairkan suasana meski tangannya sedikit gemetar saat menerima alat itu.
Rian melangkah perlahan menuju pintu depan. Ia berhenti tepat di depan daun pintu kayu yang tebal itu, mengatur napas sejenak. "Siapa?" teriaknya.
Tok... tok... tok...
"Permisi." Suara pria dari luar terdengar berat, diredam oleh rintik hujan yang masih tersisa.
Rian menoleh ke arah Fani, mencari semacam persetujuan. Fani mengangguk pelan, jemarinya meremas handuk mandi yang ia sampirkan di bahu untuk menutupi tank top-nya.
Klek.
Pintu terbuka. Di hadapan Rian berdiri seorang pria berusia sekitar 40-an. Posturnya kurus, sedikit membungkuk dengan rambut tipis yang disembunyikan di balik topi kumal. Ia mengenakan jumpsuit biru tua—seragam khas teknisi yang tampak kusam dan bernoda oli.
"Ah, permisi, Dek. Maaf mengganggu. Kami dari teknisi pipa air ledeng, katanya ada kerusakan saluran air di rumah ini? Betul?"
"Errr. Kerusakan saluran air? Fan??" Rian menoleh ke belakang, bingung.
Fani merapatkan handuk di dadanya, lalu melangkah mendekat. "Permisi, Dek. Tadi malam ada yang nelpon, katanya di sini ada kerusakan pipa air, apa benar?" ulang pria itu dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata. Matanya tampak berkilat aneh.
"Eh? Aduh, kayaknya Bapak salah alamat deh. Di sini nggak ada yang rusak kok, Pak. Mungkin vila di tempat lain ya," ujar Fani, mencoba tetap ramah meski ia merasa tidak nyaman. Matanya bolak-balik melirik Rian, mencari perlindungan.
"Bapak yakin alamatnya di sini?" Rian memastikan lagi.
"Iya. Satu-satunya rumah di jalan ini kan cuman ini ya?" sahut teknisi itu. Pandangannya mulai liar, ia sedikit menjulurkan kepala, mencoba mengintip ke bagian dalam vila di belakang bahu Rian. "Mungkin ada orang tua di sini yang bisa saya tanyain, Dek? Bapak atau Ibu kalian mungkin yang nelpon kantor kami."
Rian menangkap gelagat tidak beres. Gerakan mata pria itu terasa terlalu menyelidik. Dengan sigap, Rian menggenggam lengan Fani dan menariknya mundur ke belakang tubuhnya.
"Maaf, Pak. Tidak ada yang pernah menghubungi Bapak untuk membetulkan gangguan apa pun di sini. Bapak salah alamat, silakan pergi dari sini. Permisi," ucap Rian tegas.
Tanpa menunggu jawaban, ia menutup pintu depan dengan dentuman keras. Ceklek. Suara kunci yang diputar Rian terdengar final.