Pukul 13.05.
Dita menguap lebar, menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu yang hangat. "Habis makan, kenyang, harinya sejuk, bawaannya jadi ngantuk dan pengen tidur, ya nggak sih?" Keenam temannya yang lain tampak setuju, semuanya tenggelam dalam kenyamanan vila itu.
"Masa liburan kita cuman buat tiduran deh," sela Mira sambil menenggak soju di tangannya. Ia duduk menyandar, menyilangkan kaki ke atas di sofa tunggal yang empuk. "Coba bikin hiburan dong, siapa aja coba, nyanyi kek, joget kek, atraksi apaan kek. Haha."
Pandangan Frans teralih ke atas perapian, menengadah menatap sebuah benda yang terpajang di sana. "Pamanmu pemburu apa gimana, Fan?"
Frans duduk di ujung sofa panjang, membiarkan Erika bersandar lembut pada tubuhnya. Di sisi lain Erika, ada Dita yang terlihat nyaman dengan sweater abu-abu panjang dan legging hitamnya, duduk berdampingan dengan Toni yang mengenakan hoodie abu-abu senada.
"Pemburu? Oh itu, setahuku enggak sih, palingan beli itu pajangan kepala beruangnya," sahut Fani dari sofa di seberang Mira.
"Terus senapan di bawahnya? Masih berfungsi??" Frans masih penasaran.
"Enggak sih kayaknya... Eh, nggak tahu deh. Nggak peduli dan nggak nanya juga sih aku ke Paman hal-hal kayak gini. Hehe."
Rian yang duduk bersila di lantai menyambar percakapan. "Kalaupun berfungsi, kayaknya pelurunya juga nggak ada sih." Tubuhnya menghadap meja yang penuh dengan botol soju—beberapa sudah kosong, beberapa masih menanti untuk dibuka. Ia meraih kamera mirrorless-nya, mulai merekam tawa dan obrolan teman-temannya.
"Guys, mending kita main game deh, apa kek gitu yang seru. Kamu punya board game, Fan? Di Vila ini?" Rian mengarahkan lensa kamera ke arah Fani.
"Yahh, nggak ada sih, keluarga Paman pas ngumpul di sini nggak ada yang main begituan soalnya."
Dita mendesah kecewa. "Kok kita nggak kepikiran bawa permainan, yak? Kartu kek, monopoli kek, ular tangga kek. Duhhh."
"Ah main gituan nggak seru juga sih, ngebosenin," timpal Erika cepat.
"Terus yang seru apah?" Frans melirik pacarnya itu.
Erika menjulurkan lidah dengan nakal. "Yang menantang dong. Kayak, truth or dare kek."
"Aku sih ayok aja!" Rian langsung menyetujui.
"Ngikuttt~" Dita tak mau ketinggalan.
Erika melihat ke sekeliling. "Yang lain? Kalau cuman dikit orangnya mana seru lah. Toni? Mira?"
"Kalau Dita ikut ya aku udah pasti ikut sih," jawab Toni sembari melirik Dita yang sudah senyam-senyum di sebelahnya.
"Loh, aku nggak ditanyain?" celetuk Frans.
Erika mencubit pipi pacarnya itu dengan gemas. "Kamu nggak usah ditanya juga emang wajib ikut dong!"
Hanya Mira yang terlihat ragu. "Boleh nggak ikutan, nggak?"
"Yeee takut ya??" tantang Erika. "Buat seru-seruan doanggg kali. Katanya mau ada hiburan? Katanya liburan jangan dipakai buat tidurrr."
"Bukannya gitu, lagi males ajaaa," keluh Mira, namun Fani segera membujuknya. "Udah ikut aja, Mir, kita having fun bareng!"
Mira akhirnya menghela napas, "Hmm... ya udah deh, bentaran doang ya."
Erika bertepuk tangan pelan, matanya berbinar licik. "Nahhh gitu donggg. Tapi, rules-nya: sekali kamu udah ngambil tantangan truth, kalau kamu kena giliran lagi, selanjutnya kamu harus nerima tantangan dare ya. Dan tantangan dare-nya harus beneran dikerjain, nggak boleh curang! Setuju??"
"Yeeey! Setujuuu!" seru Dita penuh semangat.
"Tapi kalian jangan aneh-aneh ya ngasih tantangannya, hehe," Fani mengingatkan sembari tertawa kecil.
Frans bangkit berdiri, mulai mengatur posisi. "Berarti ini sofa sama mejanya kita geser-geser dulu kali ya? Mainnya di depan perapian sini aja biar nyaman."
"Ayok! Dit, seperti biasa, pegangin kameranya dulu ya?" Rian menyerahkan kameranya pada Dita saat ia, Frans, dan Toni mulai menggeser furnitur.
"Yuhuuu, sini serahin ke Dita si cameragurl." Dita menerima kamera itu dengan girang. Sementara itu, Rian membereskan botol-botol soju ke dalam dus di lantai. "Pakai botol soju ini aja yak buat muternya."
"Atuuurrr."
***
Ketujuh sekawan itu kini duduk melingkar di atas karpet hangat di depan perapian.
"Okayyy. Aku yang pertama kali nge-spin ya?" Tangan lentik Erika meraih satu botol soju kosong, meletakkannya di tengah, dan dengan senyum lebar ia memutarnya sekuat tenaga.
Botol kaca itu berputar cepat, menciptakan bunyi gesekan halus di lantai kayu sebelum akhirnya melambat dan ujungnya menunjuk tepat ke arah Mira.
"Duh, capek banget, malah kena pertama dong," keluh Mira lemas.
"Okeee, Mira. Truth or dare?" Erika bertanya dengan nada yang sangat antusias.
Mira tampak berpikir sejenak sebelum menjawab malas, "Hemm. Dare deh."
"Wihhh baru aja mulai udah berani tantangan aja, kereeen!" Dita bersorak dari balik kamera.
"Yakin?? Deal ya! Oke. Mira, I dare you to... cium bibir Frans di sini." Erika menunjuk pacarnya sendiri yang duduk tepat di sebelah Mira.
Suasana mendadak hening. Mira membelalak, Fani spontan menutup mulut dengan kedua tangan, sementara Dita dan Toni saling lirik dengan mata membulat.