"Hah? Paling jahat? Apa ya...?" Mira terdiam sejenak, matanya menerawang ke langit-langit ruangan seolah sedang membolak-balik lembaran masa lalu. "Kayaknya sih nggak ada," jawabnya kemudian dengan nada datar.
Toni tertawa kecil, menyambar dengan cepat, "Ah, pas SMA banyak, Mir. Haha."
Dita yang duduk di samping Toni langsung menyikut lengan pacarnya itu dengan keras. "Eh, jangan gitu ah!" tegurnya.
Dita, Toni, dan Mira memang memiliki sejarah panjang. Mereka berasal dari sekolah yang sama, bahkan jalinan asmara Toni dan Dita sudah dimulai sejak seragam putih abu-abu masih melekat di tubuh mereka.
"Ah... Pas zaman SMA emang aku jahat?? Enggak ah. Hahaha," Mira tertawa, mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku. "Aku cerita dikit aja kali ya soal kenakalanku dulu, hehe."
Teman-temannya yang lain seketika mencondongkan tubuh, tampak antusias. Mira memperbaiki posisi duduknya sebelum memulai. "Jadiii, di sekolah dulu tuh kan masih zaman geng-gengan ya. Ada anak-anak yang populer, yang doyan olahraga, pinter, wibu, dan lain-lain deh. Nah, kebetulan aku tuh ketua geng anak-anak populer ini."
Mira berhenti sejenak, menyesap minumannya. "Biasa kan tuh anak remaja, banyak kenakalannya. Dari yang sering bolos rame-rame, dipanggil guru, sampai berantem sama geng cewek lain. Haha."
"Terus? Mana bagian yang paling jahatnya? Hahaha," sela Rian sambil terkekeh.
"Terusss," Mira melanjutkan, suaranya sedikit merendah. "Kan ada tuh salah satu adik kelas, cewek, aku lupa namanya sih. Pengen gabung sama gengku. Ya biasa, namanya mau masuk geng kan harus ada tesnya ya? Kayaknya waktu itu kami kelewatan pas bikin tesnya deh. Hahaha."
Mira tertawa lagi, namun kali ini ada nada yang berbeda. "Soalnya cewek itu sampai bikin drama besar di sekolah, guru-guru bikin investigasi dan ngelarang adanya geng-gengan. Terus, akhirnya itu anak bikin ulah dengan curhat dan jelek-jelekin sekolahnya di Facebook. Tapi bukannya dapat dukungan, malah makin di-bully karena anak-anak lain nganggepnya salah sendiri pengen masuk geng, udah risikonya. Di mata orang-orang, itu cewek dipandang kayak ratu drama yang lebay dan alay."
Dita yang dari tadi memegang kamera perlahan-lahan menurunkan lensanya. Ia berhenti merekam, seolah instingnya mengatakan bahwa bagian selanjutnya bukan untuk dikonsumsi publik.
"Nah... Ending-nya, tuh cewek jadi jarang masuk sekolah. Sekalinya ke sekolah pun urakan, kayak nggak pernah mandi, sering nangis-nangis dan teriak-teriak nggak jelas, sering berantem dan bikin masalah duluan sama murid lain. Akhirnya sama pihak sekolah, tuh cewek yaa... dikeluarkan."
Suasana mendadak dingin. Erika, yang sejak tadi bersembunyi di balik bantal yang ia peluk erat, akhirnya bersuara. Wajahnya masih separuh tertutup, ujung telinganya masih merah sisa malu dari kejadian sebelumnya. Ia memaksakan diri ikut bicara untuk menormalkan debaran jantungnya, meski matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah Dita.
"Hah?? Kok malah dikeluarkan deh. Sekolahnya aneh," gumam Erika dengan nada setengah jengkel dan sedikit gugup. Suaranya terdengar lebih lembut dan rapuh dari biasanya.
"Ya mungkin karena dianggap udah nggak dalam kondisi mental yang stabil buat masuk sekolah sih. Haha," jawab Mira enteng. Ia menatap Rian dengan tatapan menantang. "Gimana? Udah masuk kriteria jawaban buat pertanyaan Rian kan?"
"Emm... Emang tesnya kamu apain, Mir, sampai bikin anak orang jadi kayak gitu??" tanya Fani dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang campur aduk dengan ngeri. Dita dan Toni hanya saling tatap dalam diam.
"Errr, jangan diceritain deh. Lagian udah masa lalu, hehe. Yang jelas itu hal paling jahat yang pernah kulakukan selama sekolah... enggak—selama hidup sih," ujar Mira menutup ceritanya sembari menenggak sisa soju di sampingnya.
"Oke oke, kayaknya udah cukup ya... giliranmu sekarang, Mir," sahut Rian.
Mira bangkit dari duduknya, meregangkan tubuh. "Ah, udah ah. Capek. Aku udahan aja mainnya, mau istirahat dulu ke kamar. Lagian aku udah kena dua kali juga."
"Yahh, Frans sama Fani aja belum kena giliran kokkk," keluh Erika sambil cemberut manja ke arah Mira yang sudah mulai melangkah pergi.
"Yes!" Frans mengepalkan tangan, tampak sangat lega.
"Yeyyyy!" Fani ikut bersorak, pipinya berseri-seri karena lolos dari tantangan.
Di tengah riuh itu, Erika masih memeluk bantalnya. Ia melirik pelan ke arah Dita yang tengah rebahan santai dengan posisi yang sangat rileks. "Ditaaa... tapi aku penasaran, kenapa tadi kamu pilih aku sih?" tanyanya pelan.