"Astaga. Mereka datang lagi?? Apa sih sebenarnya yang mereka mau?" Frans mendecak kesal.
"Mereka turun dari mobil??" tanyanya kemudian.
"Nggak tahu, aku nggak lihat. Pas lihat mobilnya parkir di pinggir jalan, aku langsung lari ke sini. Kayaknya mereka lihat aku deh dari dalam mobil, soalnya jendelanya gede banget," Erika menyahut cemas, jemarinya saling bertaut erat dan gemetar.
"Sialan!" ujar Frans seraya bergegas turun ke lantai 1 dengan langkah-langkah lebar yang menghentak.
"Tunggu, Frans!" Rian mengikuti dari belakang, kamera masih bertengger di tangannya, berusaha menjaga keseimbangan saat menuruni tangga.
Frans segera membuka pintu depan vila itu dan mendapati seorang pria dengan jumpsuit biru tua yang sama sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Ada apa lagi, Pak?! Kan tadi pagi sudah dibilang kalau di sini nggak ada gangguan!" ucap Frans dengan lugas. Ia membusungkan dada, memberikan tatapan yang mengintimidasi.
"Hehehe, tapi tadi atasan saya bilangnya ya memang di sini alamatnya, Dek. Coba saya lihat ke dalam dulu sebentar kalau boleh," ujar pria itu dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan.
"Anda ngerti kata-kata saya nggak sih?! Mending Bapak pergi dari sini sekarang sebelum saya telepon polisi!" ancam Frans, telunjuknya menunjuk lurus ke arah jalan raya.
"Hehehe. Memangnya di sini ada sinyal, Dek?" jawab pria itu pelan sambil terkekeh, kepalanya sedikit miring menatap Frans dengan tatapan mengejek.
"Sialan! Malah nantang!" Frans menyergap kerah baju pria paruh baya itu dengan kedua tangan dan mendorongnya beberapa langkah ke depan. Pria itu terjerembap ke tanah karena tak kuat menahan keseimbangan, membuat topi yang ia kenakan terlempar.
"Silakan Bapak pergi dari sini sekarang juga, sebelum kesabaran saya habis!!" Frans berteriak, napasnya memburu hebat.
"Frans. Lihat ke arah mobilnya," ujar Rian sambil menyentuh bahu Frans perlahan.
Tampak dari dalam, pintu sopir mobil van itu terbuka. Keluar seorang pria berumur sekitar 30-an. Badannya tinggi dan kekar, bahkan lebih dari Frans. Kacamata hitam dan berewok tebal menghiasi wajah kerasnya. Ia berjalan perlahan mendekati mereka, setiap langkahnya terasa berat dan mengancam.
Rian menurunkan kamera di tangannya, menelan ludah saat merasakan bahaya mulai mendekat.
Buk!
Terdengar bunyi benda berat jatuh menghantam tanah di dekat kaki Frans. Sebuah pentungan bisbol.
"Ambil, Frans! Buru!" Dita berteriak dari arah balkon atas. Ia tampak menunjuk ke bawah dengan panik. Di sebelahnya tampak Erika dan Toni yang juga mengawasi dengan tegang.
Frans dengan sigap mengambil pentungan itu dan bersiap melindungi diri. Ia memegang gagang pentungan itu erat-erat dengan kedua tangan.
"Aduh aduh, sepertinya memang kami yang salah di sini ya, Dek," ucap pria paruh baya itu sembari bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk seragamnya yang kotor sebelum mengambil topinya kembali.
Pria itu berpaling dan memberi isyarat kepada temannya dengan anggukan kepala agar kembali ke mobil van.
"Baik, terima kasih ya, Dek. Maaf mengganggu sekali lagi. Kami izin permisi kalau begitu ya. Hehehe. Selamat sore," ucap pria itu sambil tersenyum dan mengangguk kecil, namun sorot matanya tetap terasa ganjil.
"Jangan pernah balik ke sini lagi ya, Pak!" pinta Frans sambil tetap mengangkat pentungannya waspada.
Pria itu berbalik dan masuk ke dalam mobil van tanpa sepatah kata lagi.
***