Klek.
"Ton, tungguin, jangan cepet-cepeet," ujar Dita yang berjalan di belakang Toni sambil mencengkeram ujung kaos Toni erat-erat, seolah takut tertinggal satu inci pun.
"Eh, jangan kuat-kuat nariknya, entar robek itu bajunya, Diit," keluh Toni. Ia menoleh ke belakang sekilas, memastikan kekasihnya itu tidak tersandung dalam kegelapan. Di lorong lantai dua yang suram, Mira dan Rian sudah berdiri di depan pintu kamar masing-masing dengan wajah bingung.
"Listriknya mati ini?" tanya Toni kepada mereka, sambil mengangkat ponselnya ke atas untuk menerangi jalan.
"Entah. Tapi bukannya di sini pakai generator?" ujar Rian. Ia menekan tombol pada kamera di tangannya, menyalakan lampu eksternal yang seketika membuat lorong itu terang benderang dengan cahaya putih yang tajam.
"Yang lain mana?" tanya Mira, tangannya bersedekap melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang mulai menusuk.
"Nggak tau, di bawah kali. Yuk kita cek," jawab Toni, memberi isyarat dengan kepalanya agar mereka segera bergerak.
Keempatnya berjalan beriringan menuruni tangga kayu yang berderit. "Fraans? Erikaaa? Fanii?" panggil Rian, suaranya bergema di ruang tengah yang sunyi. Lantai satu itu tampak hening, hanya suara rintik hujan di luar yang terdengar samar.
"Mungkin ke basement kali," ujar Dita, ia semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Toni.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki yang berlari cepat dari arah lantai dua—arah yang baru saja mereka tinggalkan.
"Ton!" pekik Dita sambil berlindung di balik punggung Toni. Toni dan Rian kompak membalikkan badan, mengarahkan cahaya senter masing-masing ke atas tangga.
"Guys! Tega kalian ya ninggalin aku sendirian di lantai dua!" rengek Erika yang muncul dari kegelapan. Wajah dan rambutnya tampak kusut. Ia mengenakan kaus panjang merah dan celana pendek bermotif bunga, tangan kanannya mengucek mata yang masih terlihat mengantuk.
"Ehh, kami kira kamu udah turun duluan sama Frans loh, Ka. Hahaha," ujar Rian terkekeh, ia menurunkan kameranya setelah menyadari itu bukan ancaman.
Beberapa saat kemudian, lampu di vila mulai berkedip dan menyala satu per satu. "Yeahhh, akhirnya terang lagi!" seru Dita kegirangan, ia langsung melepaskan cengkeramannya dari baju Toni dan melompat kecil.
"Frans mana?" tanya Erika seraya melangkah turun ke lantai satu, ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jemarinya.
"Di sini," sahut Frans. Ia muncul dari tangga basement dekat dapur diikuti oleh Fani. Frans tampak menyeka tangannya yang sedikit berminyak ke celana.
"Kok bisa mati listrik sih?" tanya Mira.
"Bahan bakarnya habis. Untungnya di gudang basement masih banyak stoknya sih," jawab Fani sambil merapikan sweater-nya yang sedikit berantakan.
Ting!
Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Fani. "Eh, guys, Wi-Fi-nya udah bisa nyambung nih," ujarnya sambil mengecek ponsel dengan wajah lega.
"Asikkk, password-nya apa, Fan?" tanya Erika antusias, ia segera merogoh saku celananya mencari ponsel.
"Coba vilawijaya8. V-nya huruf kecil, nyambung semua tanpa spasi. Bisa nggak? Ehh, delapannya pakai angka ya," jelas Fani.
Erika, Frans, Toni, dan Mira sibuk memasukkan password itu ke ponsel masing-masing. "Yeeyy, bisa!" ucap Erika girang sambil menggoyang-goyangkan ponselnya. "Berarti aku bisa live streaming dong?"
"Errr... Kalau itu kayaknya nggak kuat sih, internetnya nggak stabil. Tau sendiri kan kita di mana, hehe," jawab Fani sambil menggeleng pelan.
"Yaaaahhh, tapi nggak papa deh. Ini juga udah mendingan." Erika kemudian menoleh ke arah Frans dan mencubit lengannya gemas. "Frans! Kamu kok ninggalin aku sendirian di kamar iihh!"
"Aw... Ya habisnya kamu tidurnya cepet banget, aku bete dong," keluh Frans sambil mengusap lengannya yang terkena cubitan.
"Nahhh, karena semuanya udah ngumpul, gimana kalau kita makan malam barengan aja, guys??" ajak Dita, ia menepuk tangannya sekali dengan riang.
"Boleh! Pas banget ini perutku laper," ujar Erika sambil mengelus perutnya yang rata. "Mira ikut kan?"
Mira hanya mengangguk pelan, matanya masih terlihat menyimpan sedikit rasa tidak nyaman.
***
"TV itu bisa nyala nggak sih, Fan?" ujar Mira kemudian sambil menunjuk sebuah TV berukuran 32 inci yang tertempel di dinding dekat meja makan. Tampak juga sebuah pemutar Blu-ray bertengger pada meja kecil yang terletak di bawahnya.