Liburan Terakhir: Rahasia di Balik Vila

Sugianes
Chapter #14

Part 13 - Danau

2,5 tahun yang lalu...

"Iyaaa, cakep sih. Tapiii kayaknya Kak Randy nggak bener-bener suka sama aku sih, Sa. Dia tipikalnya kayak yang bad boy gitu nggak sih?? Emang bawaannya friendly ke semua orang. Huhhh." Heni mencurahkan isi hatinya kepada Lisa. Keduanya sedang menikmati minuman dingin di kantin pada jam istirahat siang di sekolah itu.

"Emang kalian udah deket berapa lama?" tanya Lisa sambil menyeruput minuman di hadapannya menggunakan sedotan.

"Baru dua bulanan ini sih, pernah ngajakin jalan juga, tapi belum kuterima. Aku takuuut," jawab Heni.

"Takut kenapa emangnya? Kan bisa jadi momen yang pas buat kamu kenal lebih deket sama dia. Kayaknya dia baik sih. Hehe."

"Nggak, bukan takut sama Kak Randynya. Takut sama diriku sendiri. Kamu tahu sendiri kan aku orangnya kikuk banget, apalagi kalau sama lawan jenis. Hahhh." Keluh Heni.

"Ehh, kamu tuh ya. Coba deh liat cermin ini," ujar Lisa menyodorkan wadah bedak kecil berwarna merah muda yang ia ambil dari saku baju seragam sekolahnya.

"Cermin?" ujar Heni sambil membuka wadah bedak itu.

"Apa yang kamu liat di cermin itu, Hen?" tanya Lisa.

"Apa? Err... cuman mukaku sendiri deh."

"Coba deh kamu perhatiin. Apa yang kurang dari sana? Kamu tuh cantik loh. Bahkan wajahmu bener-bener bersih untuk ukuran usia remaja kayak kita."

Heni memandangi wajahnya beberapa saat lamanya di cermin itu, sambil mendengarkan kata-kata dari sahabatnya, Lisa.

"Ah, tapi kan aku tuh nggak pandai sosialisasinya, Sa," ujar Heni tersipu sambil menutup wadah bedak itu.

Lisa menggenggam kedua tangan Heni, lalu berujar,

"Justru ituuu, jangan jadikan itu kelemahan kamu. Jadi dirimu sendiri aja. Toh cinta datangnya dari hati, bukan dari kata-kata. Biarkan dia lihat versi kamu yang apa adanya, yang polos dan kikuk kayak gini. Kalau memang Randy suka sama kamu, dia pasti nggak akan masalah kok. Percaya deh."

"Hemm... bener juga. Aku takut dia jadi ilfil aja sih, Sa. Tahu sendiri dia kan supel banget, nah aku yang nggak pandai ngomong gini, apa bisa nyambung nantinya sama dia." Heni tetap merasa ragu pada dirinya sendiri.

"Ahhh bisa kookkk, banyak loh pasangan yang kayak gitu. Kayak di novel-novel atau drama-drama Korea, hihi. Jalanin aja sih dulu kalau kata ku, biarin Randy nunjukkin effort-nya ke kamu, nanti kamu bisa menilai sendiri kok. Lagian aku hafal sifatmu kok, Hen. Kamu kalau udah nyaman sama orang, bakal bisa ngalir kok ngobrolnya, kayak kita sekarang nih. Jadiii, coba bikin hatimu nyaman dulu sama dia yaa~" ujar Lisa meyakinkan.

"Ah... iya juga sih. Iya dehh nanti kucoba. Andai aja aku kayak Kak Mira yang populer di sini. Huhu."

"Oh iyaaa, kakakmu bikin grup buat anak-anak cewek ya katanya. Isinya cantik-cantik lagi. Kamu nggak gabung, Hen?? Apa sih namanya, ada lebah-lebahnya gitu."

"Ah? Aku?? Hahaha, jangan ngelucu deh, Sa. Aku nggak akan cocok sih di grup itu. Nahhh kalau kamu nihh cocok sebenernya. Apa mau kubilangin Kak Mira?? Namanya apa ya... Queen-Bees kalau nggak salah sih. Jadi disingkat QiBi sama Kak Mira."

"Errr, tertarik sih. Kayaknya seru. Tapiii, mungkin nanti aja deh pas kita udah naik kelas, semester depan. Kayak terlalu pagi nggak sih kalau kelas X udah ikut geng-gengan gituan, hihihi," ujar Lisa terkekeh.

Lihat selengkapnya