"Aku nggak tauuu! Aku nggak tau kalau Mira nggak bisa renang, beneran aku nggak tau!" ujar Erika yang tampak cemas melihat keadaan Mira yang terbaring telentang di tanah. Suaranya bergetar menahan tangis, kedua tangannya meremas ujung baju jumpsuit-nya dengan gelisah.
Sementara Rian yang sedang bersimpuh di samping Mira mencoba menyadarkan perempuan itu sambil menggoyangkan tubuhnya cukup keras. Tampak sosok Fani dan Dita berlari kecil menghampiri, keduanya ikut duduk di samping Mira dengan ekspresi wajah cemas.
"Mira kecebur??" tanya Dita, napasnya tersengal-sengal.
"Kenapa Mira, Ka??" Fani bertanya pada Erika yang sedang menangis di belakang mereka, matanya membelalak menatap tubuh Mira yang tak bergerak.
Frans yang sudah berada di samping Erika kemudian mencoba menenangkannya dengan merangkul bahu gadis itu, meski tatapannya sendiri terpaku pada Mira.
"Kamu bisa, Yan??" tanya Dita kepada Rian. Ekspresi wajahnya tampak tak tenang, ia berkali-kali menoleh ke arah danau dan ke arah Mira bergantian.
Rian hanya diam dan tetap fokus mendongakkan kepala Mira serta membuka jalan napasnya dengan mencubit hidungnya. Lelaki itu kemudian memberikan napas buatan dari mulut ke mulut sebanyak lima kali, membuat dada Mira tampak terangkat.
Nihil. Mira tampak belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Bibirnya mulai terlihat sedikit membiru.
"Jangan mati, Mir..." ucap Dita lirih. Toni yang menyadari itu mencoba mengelus lengan Dita dari samping untuk memberikan kekuatan. Sementara Fani hanya menggigiti kuku jempolnya sambil gemetar. Matanya tampak berair, sesekali ia menatap wajah Rian yang sedang berusaha keras menyelamatkan Mira.
Rian beralih mencoba memompa jantung Mira dengan melakukan resusitasi jantung paru. Ia meletakkan kedua tangan tepat di tengah tulang dada Mira, lalu menekannya beberapa kali, sambil sesekali memberikan napas buatan. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Rian.
"Bangun, Mir!" ujar Rian sambil terus memompa dada temannya itu. Ia melakukan CPR selama beberapa menit, sementara yang lain hanya bisa menonton dan berharap yang terbaik. Suasana hening, hanya terdengar suara pompaan dada dan isak tangis Erika.
"Siaaalll!" Frans berteriak sambil melemparkan batu kecil ke arah danau. Batu itu memantul beberapa kali sebelum akhirnya tenggelam, mencerminkan rasa frustrasi yang memuncak.
"Uhuk! Uhuk uhuk..." Tiba-tiba Mira mulai sadar dan memuntahkan air dari dalam mulutnya.
Dengan cepat, Dita membantu Rian memiringkan tubuh temannya itu agar saluran napasnya lancar. Mira terbatuk keras hingga tubuhnya terguncang.
"Miraaa..." ujar Dita seraya memeluk Mira, menumpahkan rasa leganya dalam pelukan erat.
***
Pukul 11.30. Hari Kedua, di Vila
Tampak sosok Mira yang masih berbalut selimut tebal duduk di sofa dekat perapian Vila untuk menghangatkan badannya. Di tangannya bertengger secangkir cokelat panas yang belum juga ia minum, uapnya mengepul tipis di depan wajahnya yang pucat.
"Mira, maafff... Aku bener-bener nggak nyangka bakal nyelakain kamu. Sumpah," ujar Erika memelas di sampingnya. Fani dan Dita juga duduk di sofa itu. Erika mencoba menyentuh tangan Mira, namun Mira bergeming.
Mira hanya menunduk. Tatapannya kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih dingin daripada air danau tadi.
"Mir! Seenggaknya ngomong dong, jangan diemin aku kayak gini," rengek Erika.
"Kamu yang naruh foto itu kemarin di kamarku, 'kan?" tanya Mira datar. Matanya hanya terfokus pada perapian di hadapannya, memperhatikan lidah api yang menari.
"Fotooo?? Enggak lah, Mir! Kok malah ke foto sih larinya?? Aneh ih!" Erika mendengkus, ia membuang muka dengan gusar.
Frans yang dari tadi duduk merokok di meja makan kemudian menghampiri Erika. Ia mematikan rokoknya di asbak dengan sekali tekan.
"Ka, yuk ke kamar. Biarin Mira istirahat dulu," ajak Frans.
"Tapi kan—"