2 tahun yang lalu... Jumat. Pukul 07.35.
"Lisa!" Heni memanggil Lisa yang hendak memasuki gerbang sekolah di dekat tempat parkir sepeda motor itu. Heni melambaikan tangannya dengan semangat. Lisa menoleh, kemudian melambaikan tangannya ke arah Heni, lesung pipinya terpampang jelas ketika ia tersenyum dengan sangat manisnya.
Heni kemudian turun dari sepeda motor yang dikendarai oleh Randy.
"Kak, aku nyusul Lisa duluan ya. Mau ngomongin sesuatu," ujar Heni kepada Randy yang sudah menjadi kekasihnya itu, ia merapikan rok seragamnya sebentar.
"Okeee, duluan aja. Kalau sempat isi perutnya dulu ya di kantin, jangan nggak sarapan!" ujar Randy sambil mengelus kepala Heni yang lebih pendek darinya itu, tatapannya tampak begitu menyayangi.
"Siap, Bos!" sahut Heni sambil tersenyum lebar. Heni yang sekarang tampak jauh lebih ceria dan percaya diri ketimbang ia yang dulu. Ia memberikan hormat jenaka sebelum berbalik.
Sambil berlari kecil, Heni menghampiri Lisa, kemudian berjalan bersama menuju ke dalam sekolah.
"Mau ke kantin dulu nggak? Ngisi perut," ajak Heni sambil menyenggol pelan lengan Lisa.
"Ayuk aja, aku udah sarapan sih di rumah, tapi kayaknya mau minum sesuatu deh, yang anget-anget," jawab Lisa, ia mengeratkan pegangannya pada tali tas ranselnya.
"Oh iya kamu sih enak ya dimasakin sarapan sama Mamahmu. Aku sama Kak Mira cuman berdua di rumah, Papah Mamah sering ke luar kota terus. Huuhh," ujar Heni cemberut, ia menghela napas panjang.
"Hihi, enak nggak enak sih, setelah Papah meninggal rumah jadi sepi juga sih, Hen, cuman ada aku sama Mamah," ujar Lisa dengan nada yang sedikit merendah.
"Loh, kakakmu mana??" Heni penasaran, ia menoleh menatap wajah sahabatnya itu.
"Kan waktu masuk SMA Kakakku ikut tinggal sama keluarga Mamah di luar kota, sekalian bantuin kerjaan di sana," Lisa menjelaskan.
"Oh iyaaa, waktu kita masih SMP ya," ujar Heni, lalu menyengir kecil. "Kakakmu seumuran Kak Mira 'kan? Aku lupa, hehe."
Lisa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, lalu berkata, "Iya, seumuran sih harusnya."
Sesampainya di kantin, keduanya pergi memesan dan memilih menduduki meja untuk empat orang yang ada di pojok kantin itu.
"Aku udah ngobrol sama Kak Mira kemarin. Katanya nanti hari Senin, pas pulang sekolah, kamu ketemu aja sama dia dan temen-temen QiBi-nya yang lain," ujar Heni membuka obrolan kepada Lisa yang duduk di seberangnya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Seriusan?? Yeyyyy! Eh, tapi... bakalan di-ospek nggak ya??" tanya Lisa bersemangat, matanya berbinar penuh harap.
"Ahh, Kak Mira tau kita deket kok, kayaknya cuman kenalan doang, nggak bakal dikerjain kayak member-member yang dulu, hihi," jawab Heni sambil mengibas-ngibaskan tangannya santai.
"Yeyyy! Makasih banget loh, Hen!" ujar Lisa sambil meraih tangan Heni dan menggenggamnya erat. Tersungging senyum lebar di wajahnya, seolah beban di pundaknya baru saja terangkat.
***
Jumat siang, menjelang waktu pulang sekolah...
Heni berjalan cepat ke bangunan toilet sekolah yang ada di sudut gedung sekolah itu sambil menahan rasa ingin buang air kecil. Langkahnya terburu-buru hingga sepatu ketsnya berbunyi nyaring di koridor.
Bangunan toilet itu tampak senyap, namun ada satu pemandangan yang menarik perhatian Heni ketika ia membuka pintu untuk memasuki toilet khusus perempuan itu. Tepat di atas wastafel di hadapannya ada benda kecil berwarna merah muda yang tampak familiar di matanya.
Ini kan wadah bedak punyanya Lisa? Ketinggalan ya? gumam Heni penasaran. Ia memungut benda itu dan memperhatikannya sejenak.
Heni lalu memasukkannya ke dalam saku baju seragam sekolahnya, telinganya kemudian menangkap suara yang khas dari arah bilik WC yang terletak paling ujung di toilet itu.
Cupph, slrrphh, cup cup cup. Suara kecapan yang basah itu membuat bulu kuduk Heni meremang.
Heni melangkah perlahan untuk mendekati bilik kelima yang letaknya paling ujung, namun baru sampai di depan bilik ketiga, Heni menghentikan langkah kakinya. Ia menahan napas, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
"Udah ah, Kak. Jangan di sini juga deh kayaknya, kalau ada yang liat gimana??" ujar suara pelan perempuan dari dalam bilik WC kelima yang pintunya bahkan tidak ditutup sempurna itu.
Lisa...? Dia ngobrol sama siapa??
Heni yang penasaran kemudian memilih untuk memasuki bilik WC ketiga diam-diam dan merapatkan pintunya hingga hampir tertutup semua, sambil mencoba menguping obrolan di bilik ujung sana. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kayu bilik itu, jantungnya berdebar kencang.
Terdengar kemudian langkah kaki milik dua orang yang secara bergantian keluar dari dalam bilik kelima itu.