Langit malamnya begitu indah. Aku suka udaranya, udara di negeri para dewa-dewi. Kuhirup lagi, benar-benar udara yang kurindukan. Tercapai sudah challenge-ku pada diri sendiri, yang tidak akan pulang sebelum menyelesaikan kuliahku di Eropa. Dan hari ini, saat semua telah tercapai, aku mengambil hakku untuk menginjakkan kaki di tanah airku. Aku tersenyum lebar menatap langit. Hello Indonesia, my great beloved home. Kurentangkan kedua tangan ke atas lalu kuteriakkan dalam pikiranku.
'Buyuang dah pulang ....'
---
Mahalini A.: Sampai mana, Ella?
Maharani D.: Nih, nyampe Pasteur.
Mahalini A.: Dijemput Erik?
Maharani D.: Enggak, pakai Blue Bird.
Mahalini A.: Lha, kenapa enggak minta dijemput?
Maharani D.: Sengaja, kan mau nginep di Rea dulu, dijemput besok aja.
Mahalini A.: 🥰🥰🥰 Jadi merasa spesial.
Maharani D.: Iya dong. Eh, lagi ada Razi?
Mahalini A.: Indak, masih dua minggu lagi pulangnya. Tenang aja, bobo bareng Rea, ya?
Maharani D.: Haha, kok tenang aja ... oke, sayang.
Mahalini A.: 🥰🥰🥰
Kupandangi kilasan-kilasan jalan di luar jendela. Kangen memang dengan Cirebon, tapi karena sekarang Angrea pindah ke Bandung dan mumpung aku mendarat di sini, kenapa tidak menginap dulu semalam di rumahnya? besok baru dijemput, lagian kasihan kan Erik malam-malam kalau kuminta jemput.
"Mau liburan di Indonesia, Neng? tadi bisa bahasa Indonesia, kan?" tanya si sopir.
"Bisa dong Pak. Enggak, saya malah baru pulang dari luar negeri," jawabku.
"Oh, bukan turis, Neng, tuh?" si sopir bertanya lagi.
"Haha, bukan, Pak. KTP-nya Indonesia, muka doang hybrid," kujawab lagi pertanyaan si Bapak.
Wajar, sih. Bukan salah si Bapak. Kalau yang baru bertemu denganku, ya, enggak aneh mereka agak menyangka aku turis asing. Jadi ingat dulu pernah ngeprank sopir taksi pas pulang bareng Papa setelah merayakan Natal di rumah keluarga Le Blanc'. Si sopir mencoba ramah pakai bahasa Inggris, kami malah pakai bahasa Minang meski Papa enggak terlalu bisa, dan pura-pura enggak bisa bahasa Inggris. Papa lumayan klop kalau aku lagi pengen gokil.
"Si Eneng senyum-senyum terus, ingat pacarnya, ya?" tanya si Bapak.
"Enggak punya pacar, Pak. Jomblo saya," jawabku sesuai kenyataan.
"Ah, masa? cantik banget gitu masa jomblo?" ujar si Bapak.
"Benar kok, Pak. Lurus aja, kira-kira sepuluh meter ada persimpangan, ambil kiri, nanti sampai masuk komplek, ya, Pak," ucapku seraya menunjukkan jalan.
"Oke, Neng, siap," sambut si Bapak.
"Kalau jomblo, mah, sama anak Bapak mau? ya, lumayan ganteng," si Bapak malah menawarkan anaknya.
"Haha, makasih, Pak, tapi belum tertarik punya pacar. Mau meniti karier dulu," jawabku mencoba terdengar sopan dan wajar.
"Oh, iya, ya, Neng. Benar sih," untung saja si Bapak tidak bersikeras menawarkan anaknya.
Kami pun sampai di depan rumah Angrea.
"Jadi berapa, Pak? masih pakai rupiah, kan? saya lama enggak balik ke Indonesia," Aku menanyakan ongkosnya dengan agak bercanda.
"Masih, Neng. Haha, jadi Rp346.000,00," jawab si Bapak.
Kuserahkan empat lembar seratus ribuan.
"Sisanya ambil aja, Pak," kubuka pintu mobil si Bapak lalu beranjak keluar.
"Wah, alhamdulillah, makasih banyak, ya, Neng. Semoga makin berlimpah rezekinya," ujar si Bapak seraya menyelipkan doa.
"Aamiin, Pak," jawabku tersenyum ramah.
Kutarik koperku menuju gerbang depan. Pajero-nya terparkir di halaman, menandakan ia ada di rumah.
Maharani D.: Sudah sampai, nih, Mah.
Mahalini A.: Oh, wait.
Dua menit kemudian, pintu terbuka dan ia muncul.
"Ella," ia tersenyum senang sambil melambaikan tangan dan bergegas menuju ke gerbang.
Angrea membuka gerbangnya dengan satu tangan, dengan hanya jari-jarinya yang mendorong. Hmmm, 'Mahalini memang kuat-kuat,' ujarku dalam hati.
"Ella ... kangen," ia langsung bergegas memelukku.