Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #2

Maradirga Arutala

​Cinta memang datang dengan cara yang berbeda. Maksudku, bisa saja kita bertemu dengan orang baru, berkenalan, lalu mengenalnya. Namun, cinta sejati hanya datang dari orang yang benar-benar ditakdirkan untuk kita.

​"Dek Daniella... iya, benar kan, Dek Daniella?" sebuah suara memanggilku dari arah belakang.

​Aku pun berbalik untuk melihat sosok tersebut. Seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun, mengenakan hijab dan berkacamata. Wajahnya begitu ramah, begitu "adem", dan terasa familier dalam ingatanku.

​"Bu Hesty? Ya ampun, sudah lama ya baru bertemu lagi." Aku yang mengenali wanita tersebut lantas langsung akrab dengannya.

​"Iya, betul... masya Allah, kamu cantik banget, padahal baru dua tahunan tidak bertemu," ia memelukku erat, lalu memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​Ibu Hesty Purwaningsih, itulah namanya. Dulu, waktu semester dua di Eindhoven University of Technology, ia sempat menjadi dosen tamu untuk mata kuliah e-business. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya di acara "Women, Future, and Business: South East Asia Co-working" yang kuhadiri ini. Sebuah acara yang memberi ruang bagi para wirausahawan muda, khususnya wanita, untuk saling menjalin silaturahmi dan kerja sama.

​"Ibu juga cantik, awet muda lagi," pujiku sesopan mungkin.

"Ah, bisa saja. Beneran pangling lho, Sayang, Ibu melihatnya," ujarnya. Ia sudah terbiasa memanggil "Sayang" padaku karena kedekatan kami selama satu semester dulu. Mungkin karena sesama orang Indonesia, kami jadi cepat akrab di perantauan.

​Kami pun larut dalam obrolan, melahap menit demi menit. Aku memang merasa nyaman dengan Bu Hesty. Ia tipe orang yang pengertian dan solutif.

​"Jadi, setelah lulus rencananya bagaimana?" tanyanya.

"Ya, masih terjun di RAGE. Kebetulan mau mengembangkan bisnis hilirnya, RAGE's Store. Ini masih rahasia, lho. Dan terus mengembangkan Le Viral.id. Kalau Velvet sih sudah berhenti, dilanjutkan oleh junior-junior," jawabku terbuka. Bu Hesty sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.

​"Hmmm, good... terus?" ia kembali bertanya, seakan jawabanku tadi bukanlah yang ia cari.

"Terus apa lagi, ya, Bu? Haha, itu saja sudah cukup sibuk," jawabku sambil tersenyum lebar.

"Maksud Ibu, sudah punya calon belum?" Tiba-tiba Bu Hesty bertanya hal yang sangat klasik.

"Hehe, belum, Bu. Kelewat sibuk jadi lupa kalau masih jomblo," jawabku sedikit tertawa.

​Bukannya tidak bertemu pria. Banyak sebenarnya. Selama perkuliahan, pun setelah enam bulan lulus dan memperoleh gelar sarjana untuk Expert in Data Science. Beberapa memang ada yang berusaha melakukan pendekatan, baik secara resmi maupun lewat pergaulan biasa. Hanya saja, aku belum ingin, atau mungkin belum siap untuk terluka lagi.

​"Kalau Ibu bantu, mau?" ia menawarkan sesuatu yang tidak kupahami maksudnya.

"Bantu apa, Bu?" tanyaku agar ia memperjelas.

"Cari calonnya lah. Kamu itu sudah cukup mapan, mau sampai kapan?" desak Bu Hesty tanpa memaksa. Ia tersenyum, lalu celingukan mencari seseorang. "Nah! Yuk, ke sana," ajaknya menggandeng tanganku.

​Aku menurut saja. Sikapnya yang seperti ini memang sudah biasa; ada kemiripan antara kepribadianku dan beliau. Kami menuju seorang pemuda yang tengah dikerubuti wanita-wanita muda dan ibu-ibu.

​"Permisi ya, Nyonya-nyonya sekalian. Dirganya mau Ibu bawa dulu," ujar Bu Hesty, membuat kerumunan itu bubar.

"Dek Ella, kenalkan ini anak bungsu Ibu. Dirga, Maradirga Arutala," ujarnya memperkenalkanku pada seorang pemuda tampan.

​Maradirga Arutala. Aku suka namanya; terkesan anggun namun gagah di saat bersamaan.

"Daniella Maharani," kujabat tangannya sambil tersenyum mengenalkan diri.

"Maradirga Arutala," ia pun memperkenalkan diri dengan senyum yang cukup manis.

​Bu Hesty lanjut menceritakan tentangku padanya, begitupun sebaliknya. Dari Bu Hesty, aku tahu kalau Dirga ini adalah seorang perwira TNI AD yang bertugas di kesatuan khusus. Usianya lima tahun lebih tua dariku, cukup muda untuk pangkat yang ia sandang. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya adalah seorang perwira anumerta di Angkatan Laut. Dan, ya... dia cukup tampan dengan senyum manisnya.

​"Gimana, A? Cantik kan Dek Daniellanya?" Bu Hesty menggoda kami. Dirga hanya tersenyum dan mengangguk.

Lihat selengkapnya