Siang itu, kala aku sedang disopiri Erik dalam perjalanan ke kantor Hyper Label, aku mendapat panggilan telepon yang tidak kuduga-duga. Panggilan dari Dirga langsung, dan ini juga panggilan telepon pertama darinya.
"Halo, selamat siang, Maharani. Maaf mengganggu, boleh telepon sebentar?" ia berkata melalui telepon.
"Iya, silakan, Mas Dirga. Ada yang bisa Ella bantu?" jawabku.
"Dirga mau minta tolong, tapi agak merepotkan, boleh?" ujarnya mulai mengutarakan maksud.
"Minta tolong apa, Mas?" tanyaku dengan perasaan penasaran bercampur senang.
"Begini, tiga minggu lagi unit saya hendak melaksanakan latihan kenaikan tingkat. Rencananya akan dilaksanakan di daerah Pesawahan. Kami butuh tempat untuk jadi pos monitoring. Kalau Maharani tidak keberatan, bolehkah Dirga menempatkan posnya di rumah Maharani?" Panjang lebar namun lugas ia menjelaskan.
"Oh, ya, boleh saja. Tapi memang cukup? Luas rumah Ella cuma 29.540 meter persegi, Mas. Buat latihan militer, kan?" tanyaku.
"Hmmm ... wah, cukup banget. Buat pos monitoring saja, jadi semacam base panitia. Untuk latihannya sendiri ada beberapa titik di sekitar situ, juga termasuk bumi perkemahannya," ia kembali menjelaskan.
"Iya, boleh, Mas. Pakai saja, semoga cukup, ya," ujarku memberikan izin.
"Oke, baik, terima kasih, ya, Maharani," ucapnya.
"Iya, sama-sama, Mas Dirga," jawabku.
Wah, Dirga mau berkunjung ke rumahku. Ya, dalam rangka kerjaan, sih, tapi ya kunjungan tetap kunjungan. Aku harus jadi tuan rumah yang sempurna untuknya.
---
(Tiga minggu kemudian)
"Aawww, banyak bapak-bapak tentara berotot, jadi anget," ujar Vero sambil mengelus-elus perutnya, bertingkah konyol.
"Kakak tuh bikin malu," Vior protes.
"Yuk, sambut dulu," ujarku pada Vero dan Vior yang sedang main ke rumahku dalam rangka konsultasi pengurusan perizinan Hyper Label.
Kami pun menghampiri para panitia acara ini.
"Selamat siang, Pak. Gimana ... apa fasilitasnya cukup?" ujarku sambil menyalami seorang tentara berkumis tebal dengan seragam yang "ramai".
"Oh, iya, Mbak, iya, cukup. Kami berterima kasih sudah diberikan izin memakai tempatnya," jawabnya sambil tersenyum ramah.
Vero dan Vior pun ikut beramah tamah menyalami si Bapak.
"Syukur kalau gitu. Kalau butuh sesuatu, bilang saja jangan sungkan," balasku.
"Baik, Mbak, sekali lagi terima kasih, ya," jawabnya.
"Lapor, Ndan! Persiapan sudah siap semua!" Dirga datang dan lalu memberikan hormat ala militer pada si Bapak.
"Bagus. Sekarang kita bagi dua. Dirga di sini bersama tim monitoring. Saya dan Badra ke lapangan," ujar si Bapak memberi arahan.
"Siap, laksanakan!" jawab Dirga dengan tegas.
Kami hanya berdiri mematung selama keduanya bicara.
Tim lapangan yang dimaksud pun bergegas berangkat. Di rumahku tersisa tim monitoring yang dikomandoi oleh Dirga.
"Ayo, pada duduk," ujar Dirga dengan ramah, kemudian menyuruh seorang tentara muda mengambilkan kursi untuk kami.
"Acaranya tiga hari, ya, Mas? Kalau boleh tahu, kegiatannya apa aja?" tanyaku sambil lalu duduk di kursi plastik yang disediakan.
"Untuk hari pertama akan dilaksanakan apel, pengarahan, long march, dan pembinaan. Kalau hari kedua kegiatan inti kenaikan tingkat untuk para Tamtama muda. Lalu hari ketiga pelantikan dan penutupan," jawabnya lugas.
"Oh, gitu, saya baru tahu. Soalnya kurang paham militer," jawabku yang memang awam soal ini.
"Tamtama itu semacam pangkat, ya?" tanyaku.