Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #3

We think he is good

​Siang itu, kala aku sedang disopiri Erik dalam perjalanan ke kantor Hyper Label, aku mendapat panggilan telepon yang tidak kuduga-duga. Panggilan dari Dirga langsung, dan ini adalah komunikasi suara pertama kami.

​"Halo, selamat siang, Maharani. Maaf mengganggu, boleh telepon sebentar?" suaranya terdengar di seberang sana.

"Iya, silakan, Mas Dirga. Ada yang bisa Ella bantu?" jawabku.

"Dirga mau minta tolong, tapi agak merepotkan, boleh?" ujarnya mulai mengutarakan maksud.

"Minta tolong apa, Mas?" tanyaku dengan perasaan penasaran bercampur senang.

​"Begini, tiga minggu lagi unit saya hendak melaksanakan latihan kenaikan tingkat. Rencananya akan dilaksanakan di daerah Pesawahan. Kami butuh tempat untuk dijadikan pos monitoring. Kalau Maharani tidak keberatan, bolehkah Dirga menempatkan posnya di rumah Maharani?" Ia menjelaskan dengan panjang lebar namun lugas.

​"Oh, ya, boleh saja. Tapi memang cukup? Luas tanah rumah Ella cuma 29.540 meter persegi, Mas. Buat latihan militer, kan?" tanyaku ragu.

"Hmmm... wah, cukup banget! Buat pos monitoring saja, jadi semacam base panitia. Untuk latihannya sendiri ada beberapa titik di sekitar situ, termasuk bumi perkemahannya," ia kembali menjelaskan.

​"Iya, boleh, Mas. Pakai saja, semoga cukup ya," ujarku memberikan izin.

"Oke, baik, terima kasih ya, Maharani," ucapnya.

"Iya, sama-sama, Mas Dirga."

​Wah, Dirga mau berkunjung ke rumahku! Ya, memang dalam rangka pekerjaan, sih, tapi kunjungan tetaplah kunjungan. Aku harus menjadi tuan rumah yang sempurna untuknya.

---

(Tiga Minggu Kemudian)

​"Aawww, banyak bapak-bapak tentara berotot, jadi hangat rasanya," ujar Vero sambil mengelus-elus bagian bawah perutnya, bertingkah konyol.

"Kakak tuh bikin malu saja," Vior protes.

"Yuk, sambut dulu," ujarku pada Vero dan Vior yang sedang main ke rumahku untuk konsultasi pengurusan perizinan Hyper Label.

​Kami pun menghampiri para panitia.

"Selamat siang, Pak. Bagaimana... apa fasilitasnya cukup?" ujarku sambil menyalami seorang tentara berkumis tebal dengan seragam yang "ramai".

"Oh, iya, Mbak, cukup. Kami berterima kasih sudah diberikan izin memakai tempatnya," jawabnya ramah. Vero dan Vior pun ikut beramah-tamah.

"Syukur kalau begitu. Kalau butuh sesuatu, bilang saja ya, jangan sungkan."

​"Lapor, Ndan! Persiapan sudah siap semua!" Dirga datang lalu memberikan hormat ala militer pada bapak tersebut.

"Bagus. Sekarang kita bagi dua. Dirga di sini bersama tim monitoring. Saya dan Badra ke lapangan," ujar bapak itu memberi arahan.

"Siap, laksanakan!" jawab Dirga tegas.

​Kami hanya berdiri mematung selama keduanya bicara. Tim lapangan segera berangkat, menyisakan tim monitoring yang dikomandoi oleh Dirga di rumahku.

​"Ayo, silakan duduk," ujar Dirga ramah, kemudian menyuruh seorang tentara muda mengambilkan kursi untuk kami.

"Acaranya tiga hari ya, Mas? Kalau boleh tahu, kegiatannya apa saja?" tanyaku sambil duduk di kursi plastik yang disediakan.

"Hari pertama apel, pengarahan, long march, dan pembinaan. Hari kedua kegiatan inti kenaikan tingkat untuk para Tamtama muda. Lalu hari ketiga pelantikan dan penutupan," jawabnya lugas.

​"Tamtama itu semacam pangkat, ya?" tanyaku awam.

"Iya, pangkat awal."

Lihat selengkapnya