Aku kenakan sepatu ketsku. Pagi ini setelan luar yang kupakai adalah jaket ritsleting ungu dan celana longgar putih, lengkap dengan sebuah topi putih. Rambutku kuikat high ponytail agar memudahkanku ketika berlari. Aku suka berlari pagi di halaman rumahku ini. Untunglah Ama dan Regi membangun rumah di sini. Selain udaranya yang bersih, pemandangan di sini masih amat alami. Wajar, karena di luar pagarnya, di sekitar rumahku memang agak semi-hutan. Bahkan sesekali kita bisa melihat musang atau biawak lewat di luar pagar. Itulah mengapa sepanjang pagar sengaja dibangun tinggi, dipasangi kawat beraliran listrik, dan CCTV.
"Fffuuhhh..." Kuembuskan napas setelah satu jam penuh melakukan joging, lalu menyudahinya.
Aku duduk di sebuah batu lebar yang memang sering kupakai meditasi. Kutarik dan buang napas dari hidung, menenangkan pikiran serta tubuhku.
"Maharani?" Sebuah suara menyadarkanku dari meditasiku.
Kubuka mata, dan ternyata Dirga sedang membawa sebuah senter.
"Oh, ternyata benar, ya? Wah, lagi meditasi. Maaf saya ganggu, silakan lanjut," ujarnya.
"Eh, enggak apa-apa, Mas Dirga. Ini sudah selesai," ucapku, lalu bergegas berdiri menghampirinya.
"Saya mau patroli keluar pagar," ia menerangkan apa yang sedang dilakukannya.
"Ikut boleh? Saya jarang keluar rumah, mau lihat-lihat," pintaku, yang sebenarnya memang hanya mau menemaninya saja.
"Boleh saja... maaf, terganggu ya. Tadi saya hampiri karena saya kira siapa ada orang lari subuh-subuh. Kebetulan kan sedang patroli juga," ujarnya.
"Oh iya, sigap sekali. Eum... saya memang suka joging pagi-pagi dari kecil. Kalau dulu, lewat jam enam biasanya sudah berangkat ke sekolah sih," jawabku menjelaskan.
"Wah, rajin sekali, ya. Joging sebelum subuh, subuh sudah selesai. Mungkin setelah ini salat, persiapan pagi, lalu berangkat sekolah, dulu seperti itu?" tanyanya.
"Euummm... iya, aneh ya? Satpam-satpam sekolah juga pada bilang aneh sih," aku tersenyum geli sendiri. Memang aktivitasku yang satu ini agak tidak umum.
"Enggak, malah istimewa kalau menurut saya. Jadi melakukan lebih daripada orang pada umumnya, kan. Di sekolahnya melakukan apa untuk mengisi waktu sebelum bel masuk?" ia kembali bertanya, dan pujiannya membuatku senang.
"Belajar. Soalnya enak, hening, belum banyak yang datang," jawabku sesederhana mungkin.
"Dari SD sampai SMA?" ia lumayan antusias bertanya.
"Iya Mas Dirga, tiap hari kecuali libur."
Kami sudah berjalan di sekitaran wilayah hutan pinus. Udara di sini khas dengan bau pinusnya yang melegakan paru-paru.
"Maharani itu unik ya. Benar-benar cuma satu kayaknya yang seperti Maharani," ucapnya, entah antara pujian atau rasa heran.
"Haha iya ya," balasku singkat.
"Agak seram juga, ya, kalau keluar. Benar-benar tidak tahu, soalnya kalau pergi ya langsung naik mobil keluar pagar," kuperhatikan pemandangan sekitar yang masih agak berkabut.
"Memang masih agak gelap ini," jawabnya sambil mengarahkan senter ke sekitar.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, tiba-tiba dari dalam hutan aku melihat sepasang mata yang menyala kuning. Dan sepertinya Dirga pun menyadarinya. Makhluk apa itu? Lalu perlahan-lahan makhluk tersebut mulai menunjukkan dirinya. Sepertinya seekor anjing hutan yang berukuran lumayan besar. Tidak mungkin serigala, kan? Di sini bukan habitat serigala. Bentuknya mirip serigala, berwarna cokelat dengan bulu krem di bagian leher dan perut.
Kaget dengan kemunculannya, kami terdiam. Dirga langsung mengambil posisi di depanku, menghalangi si anjing dariku.
"Mas Dirga, itu apa?" ujarku sambil memegangi bagian belakang bajunya. Aku takut.
"Anjing hutan sepertinya, ternyata ada. Kita harus mundur pelan-pelan," Dirga memberi isyarat.
Tiba-tiba si anjing menggeram, mungkin terprovokasi oleh cahaya senter. Sejurus kemudian, ia langsung berlari maju. Dirga maju untuk menghalau hewan buas itu. Si anjing menghindar dan hendak menyerangku. Sepertinya ia mengincar lawan yang lebih lemah. Aku takut dan tidak bisa bergerak. Kututup mataku sambil mengangkat tangan dalam posisi bertahan.
Tapi tidak terjadi apa-apa. Kucoba membuka mata. Rupanya Dirga sudah menahan si anjing. Ia menggunakan tangannya sendiri untuk menahan gigitan hewan itu. Darah menetes dari lengannya. Dirga lalu mengeluarkan sebilah belati dari sepatunya dan menusukkannya ke punggung si anjing. Hewan liar itu terkejut, melepaskan gigitannya, lalu berlari terkaing-kaing masuk ke dalam hutan. Dirga memegang tangannya yang terluka sambil menatapku.
"Maharani, kamu enggak apa-apa? Ada yang terluka?" tanyanya, memastikan keadaanku. Aku masih syok. Dirga memegang pipiku dan mengecek bola mataku, memastikan seberapa parah syok yang kualami. Lalu ia menggendongku untuk kembali ke dalam rumah.
---