Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #7

I think we match each other

"Jadi nanti Dirga sama Ella pulang duluan saja. Bunda mau di sini dulu ah sampai minggu depan, kebetulan empat hari lagi ada job jadi pembicara di Luxton," ucap Bu Hesty kala kami berbelanja di pusat oleh-oleh.

​"Eum, kami duluan gitu, Bun? Nanti Bunda pulangnya bagaimana?" tanyaku.

​"Bisa pakai travel, atau ya minta antar kakak. Soalnya besok Dirga sudah harus masuk kan," jawabnya praktis.

​"Iya sih. Bunda yakin nih Dirga duluan?" tanya Dirga, tampak khawatir hendak meninggalkan ibunya.

​"Iya, enggak apa-apa. Orang di sini kok, kayak ditinggal di hutan saja," ujarnya sambil mengelus punggung anaknya itu.

​"Hmm, enggak tega Ellanya tuh," ucapku tulus kala mengambil lima belas bungkus basreng, lima belas bungkus keripik bayam, lima belas bungkus tempe crispy, lima belas keripik apel, dan lima belas keripik nangka.

​Dirga menatap tumpukan oleh-oleh yang aku beli sambil menaikkan alis, membentuk ekspresi 'wau'.

​Aku tersenyum rapat membalas ekspresinya saat kami bertemu pandang.

​"Santai, Sayang. Tapi jangan kemalaman, habis Isya lah sudah meluncur. Kalau kemalaman, nanti kalian iseng mencuri kesempatan menginap di hotel berdua lagi," Bu Hesty menggoda kami.

​"Iihhh, Bunda ..." Aku jadi malu sendiri.

​"Bunda tuh ..." Dirga juga terkena dampak usilnya.

​"Hahaha, lucu. Senang lihat kalian akrab begini," ujar Bu Hesty diiringi tawa jenaka.

---

​"Kami pulang duluan ya," ujar Dirga sambil melambaikan tangan pada keluarga Bu Hesty.

​"Teteh kontak-kontakan ya!" ucap Yuke dengan amat bersemangat.

​Kuacungkan jempol menjawabnya, sambil lalu melambaikan tangan, memberi kiss bye perpisahan.

​"Hati-hati ya Nak. Jangan ngebut! Antar Ellanya sampai rumah. Awas, jangan kepikiran iseng!" Bu Hesty masih saja menggoda kami.

​"Bunda tuh, masih saja ..." ujarku agak malu.

​Dirga pun menginjak gas mobilnya dan kami meluncur meninggalkan komplek perumahan Buah Batu tersebut.

---

​"Mas Dirga besok sudah harus masuk ya? apa enggak capek? kalau mau gantian, enggak apa-apa, Ella bisa jarak jauh kok," ujarku menawarkan untuk gantian menyetir.

​"Oh, enggak. Santai saja, tadi sudah istirahat kan. Hmm, ya jadi abdi negara memang harus siap kapan pun dibutuhkan," jawabnya, sungguh patriot yang membanggakan.

​"Tapi hebat lho, masih muda padahal tapi sudah banyak berprestasi. Mas Dirga tuh juara nasional menembak berturut-turut ya?" kucoba bahasan yang ringan-ringan.

​"Ya hobi sih, cuma ditekuni. Tapi sudah enggak boleh ikut kejurnas. Kasih kesempatan buat yang lain kata markas, haha," ia sepertinya bangga dengan bakatnya.

​"Beruntung banget bisa kenal Mas Dirga," ujarku.

​"Malah saya yang merasa beruntung kenal sama kamu. Maharani tuh justru jauh lebih hebat dari saya. Kamu perempuan mandiri dengan prestasi segudang. Dermawan dan pintar juga. Akan beruntung sekali pria yang bisa bersanding sama Maharani," ucapnya membuatku bingung harus jawab apa.

​Iyaaa ... lalu apa Mas Dirga enggak sadar kalau kita sedang dicomblangkan sama Bunda Hesty? memang enggak mau jadi si pria beruntung itu?

Pikiranku berceloteh sendiri.

​"Ah, ketinggian. Umum kok, tapi terima kasih ya Mas Dirga pujiannya," balasku sederhana.

​"Maharani ...?" ia memanggilku.

Lihat selengkapnya