Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #8

Till my last breath

Aku turun dari taksi dan segera menyerahkan sejumlah uang untuk membayar ongkos pada pak Supir. Ku berjalan menuju rumahku, rumah yang kubelikan untuk istri tercintaku dan kelak bersama anak-anakku. Ku masukan kunciku, seperti yang sudah kuduga pintunya dikunci. Baguslah, Sabaiku menjaga dirinya dengan baik. Sudah lewat seminggu tertunda sejak Lebaran, harusnya aku pulang kesini saat lebaran, hanya saja perusahaanku di Sawahlunto kemarin kedatangan klien yang lumayan penting. Dalam sebulan pun aku harus stand by disana selama satu bulan penuh lalu baru bisa libur seminggu. Sabaiku tidak bisa ikut kesana karena iapun bekerja di Bandung di perusahaan keluarganya. Ah rindu sebenarnya bertemu Sabaiku Angrea, tapi akupun punya masa depan bagi kelak anak-anakku untuk kuperjuangkan.

Lamat-lamat kudengar irama lagu dari ruang tengah. Lagu yang kami suka, lagu yang merupakan doa kami berdua. Thinking out loud by Ed Sheeran,

,,🎼

When your legs don't work like they used to before ....

🎶

Disanalah ia bernyanyi, aku selalu suka suaranya, begitu mengagumi merdunya, sepertinya memang aku selalu suka semua sisi dirinya. Suaranya begitu indah, ah memang Angrea adalah centre vokal di girl grupnya dulu. Aku perhatikan sosoknya yang masih belum menyadari kehadiranku. Rambut hitamnya begitu indah, kulitnya yang kuning langsat begitu eksotis, tubuhnya sempurna karunia semesta, Sabaiku kau begitu sempurna, sesempurna kisah cinta kita.

Ia bernyanyi sambil melihat slide show foto-foto pernikahan kami di layar televisi. Manis sekali sikapnya ini, tak jemu-jemu aku memandanginya.

Sabaiku yang kata mba Vero menyebutnya tsundere, ia memang gemar menyembunyikan rasa cinta dan sayangnya, tapi aku suka. Karena aku tahu dibalik sikap galaknya, ada rasa cinta yang begitu dalam padaku, aku tahu Sabaiku.

Kupeluk ia dari belakang berniat mengejutkannya. Tapi tiba-tiba ia membantingku ke lantai, dan untungnya lantainya dilapisi karpet tebal.

"Buaaaak ...."

"Razi? kenapa enggak ada suaranya sih," Angreaku terkejut.

"Addduuuuhh iya maaf, Razi ceritanya mau kasih surprize," jawabku memegangi kepala dan pinggangku yang terasa amat sakit.

"Kan bahaya," ia panik membantuku bangun.

"Hahaha iya sih, eh Razi bangun sendiri, Sabai lagi hamil jangan ngangkat berat," ujarku khawatir dengan kehamilannya.

"Angrea enggak lemah Razi!" ujarnya mantap.

Iya betul Sabaiku memang kuat sekali, waktu jaman sekolah ia memang juara karate. Bahkan sampai sekarang setelah ia hamil terisemester kedua, ia masihlah wanita yang kuat.

"Sabai, lanjut lagi, Razi mau dansa sambil dengar lagu ini, Razi kangen," ucapku yang sudah berdiri.

Ia menatapku, terdiam, lalu mengambil remote dan mengubah mode karaoke menjadi mode normal. Dan akupun mengulurkan tangan memintanya, ia menyambutnya. Dan malam itu di rumah ini kami berdansa dengan alunan lagu kesukaan kami ini.

Ia selalu begitu cantik, dan malam ini ia yang mengenakan piyama ibu hamil, dengan bayi kami dalam rahimnya adalah wanita paling cantik yang pernah ada di hidupku.

Kucium bibirnya yang merona, ciuman penuh kerinduan. Lalu ia menyandarkan kepalanya di dadaku, ah nyaman sekali. Rupanya iapun merindukanku, akupun amat merindukannya.

"Sabai kangen?" tanyaku.

Ia hanya mengangguk tegas dalam pelukanku, ia begitu pemalu menyatakan perasaannya. Oh sang waktu berhentilah, agar malam ini, saat-saat berdansa dengannya bisa terasa lambat. Aku ingin selamanya seperti ini, selamanya memeluknya penuh cinta, berdansa hingga usia tua. Mencintainya setiap saat hingga nafas terakhirku, karena cinta ini tidak akan pernah menua. Aku cinta kamu Sabaiku, Angrea Mahalini.

---

"Sabai udah makan? tanyaku," seraya merangkulnya di sofa.

"Sudah, Uda sudah?" ia bertanya balik.

"Belum, terakhir makan di BIM," jawabku.

"Angrea masak rendang, opor, sama ketupat Uda mau makan?" jawabnya.

"Owh wah, sengaja bikin menu lebaran? kan udah lewat? emm ... mau, Razi lapar," aku begitu antusias.

"Lebaran kemarin enggak bikin, buat apa juga kan? tunggu Angrea ambil dulu," ia lalu hendak berdiri.

Kutahan tangannya meski hampir saja aku yang tertarik. Ia menoleh padaku memasang wajah bingung. Kupegang pipinya lalu kudekatkan wajah kami. Kucium Sabaiku, sebuah french kiss yang romantis. Ia begitu hangat, begitu manis dan lembut, sisi yang hanya aku yang mengetahuinya.

Ia menunduk, wajahnya merona dan bisa kudengar nafasnya naik turun.

Lihat selengkapnya