"Assalamu'alaikum. Permisi, ada orang?"
Kudengar suara dari depan, dan sepertinya aku kenal suaranya.
Langsung saja kuhampiri karena memang saat ini hanya ada aku seorang di kantor.
"Iya, siapa?" tanyaku basa basi.
"Ini Razi, ada Biannya enggak ya? mau jemput Bian," ia menjawabku.
"Eh Bang Razi, Biannya lagi keluar sebentar sama yang lain, paling 15 menitan balik, masuk Bang," ujarku mempersilahkannya masuk.
Benar saja ternyata Bang Razi yang datang, duh aku harus touch up dulu.
"Duduk dulu Bang, Tania bikin minum ya, mau minum apa?" ujarku menyalaminya, latah saja, senang rasanya bisa menggenggam tangannya.
"Owh santai aja, apa aja boleh," jawabnya tersenyum tampan.
Akupun bergegas ke bagian belakang kantor, tapi sebelum menuju pantry. Sebentar aku ke ruang ganti, memoles wajahku, minimalis saja asal terlihat cerah. Aku tidak menyangka Bang Razi akan datang, kenapa Bian tidak bilang?
Aku suka Bang Razi, ya tentu saja perasaan ini tidak akan aku ungkapkan bahkan kalau sekedar cerita ke Bian. Ia adalah lelaki yang sudah beristri, mana suaminya kak Angrea lagi. Tapi boleh kan Tania hanya dalam hati sekedar suka? sekedar kagum?
Setelah dirasa cukup akupun keluar sambil membawa teh manis hangat. Cuacanya sedang agak mendung, tentunya teh manis hangat cocok.
"Ini Bang teh manisnya diminum dulu" aku coba seramah mungkin.
Tapi harapanku pupus untuk bisa puas memandangi Bang Razi. Rupanya ia datang bersama Kak Angrea yang sudah duduk di sebelahnya.
"Ditungguin, lama banget! ternyata lagi dibikinin minum," ujar Kak Angrea mencubit perut Bang Razi.
"Awww iya maaf Sabai, ini teh manis, tadinya dikira tinggal jemput aja," ujar bang Razi kesakitan.
Kak Angrea itu gemar menganiaya suaminya, kasihan bang Razi.
"Tania, bisa tolong bikinin satu lagi!" ujarnya menyuruhku dengan tegas.
Huft oke aku bikinin, kenapa Kak Angrea enggak tunggu di mobil aja sih kalo ikut.
Akupun segera menuju pantry untuk membuat segelas teh hangat lagi. Lalu bergegas kembali ke guest room dan menyuguhkannya.
"Silahkan kak," ujarku.
"Oke makasih," ucap kak Angrea sambil menyeruput tehnya.
Diam-diam kupandangi Bang Razi yang juga sedang menyeruput tehnya, mumpung kak Angrea nyeruputnya sambil tutup mata. Rambutnya hitam legam dengan potongan. Aku suka senyumnya dengan barisan gigi putih bersihnya dan sebuah lesung pipit yang membuat senyumnya terlihat cute. Bang Razi punya mata yang bening dengan kornea mata cokelat. Tinggi tegap seperti yang diharapkan dari seorang pria. Ia sempurna dari segala segi dan orangnya ramah.
"Koq tawar? emang enggak ada gula? woi koq ngelamun!" tanya kak Angrea memecah lamunanku.
Mampus, sepertinya aku lupa memasukan gula.
"Ah masa, punyaku manis Sabai" ucap bang Razi.
Gawat ketara sekali aku timpang sebelah.
"Eum gulanya abis kak," ujarku berdalih.
Kak Angrea malah menatapku curiga.
"Yaudah Sabai, sini yang itu buat Razi aja. Sabai yang ini saja," bang Razi selalu mengalah sama kak Angrea.
Kak Angrea lalu menyerahkan gelasnya pada bang Razi. Kenapa sih kak Angrea selalu berwajah galak, kan bikin deg degan. Padahal kalau di vidio-vidio Pink Velvet ia bisa ekspresif, actingnya cukup jago juga rupanya.
"Vero lagi kemana?" tanyanya.
"Lagi keluar kak sama yang lain, bilangnya sih beli makan," jawabku.
"Terus kenapa kamu ditinggal disini?" Kak Angrea kembali menginterogasi.
"Kalo ikut semua sempit kak, mending nunggu" jawabku praktis.
"Terus kenapa kamu dandan?" tanya kak Angrea sembari menaikan satu alisnya.
Wah iya, kelihatan ya, waduh harus jawab apa? masa jujur 'saya dandan karena biar terlihat menarik di hadapan suami anda', enggak lah, kak Angrea sabuk hitam, bahaya.