Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #10

Confession

​Sebuah mobil Mercedes Benz memasuki gerbang Wisma, lalu melaju dan terparkir rapi. Dari dalamnya keluarlah sesosok pria tampan dengan postur yang tegap, mengenakan setelan kemeja semi formal warna putih cerah, celana slim fit berwarna anchor, kacamata Armani, dan sebuah Rolex melengkapi penampilannya. Ia lalu berjalan menuju pintu rumah dan memencet belnya.

​Pintu lalu dibuka oleh seorang pelayan.

​"Silakan masuk Tuan Dirga. Nona Maharani sudah menunggu Anda," ujar si pelayan, diiringi senyum terbaik.

​Si pria tersenyum sopan sambil beranjak masuk. Ia lalu dipersilakan duduk di ruang tamu.

​"Mohon tunggu," ujar si pelayan kembali, lalu masuk ke pintu selanjutnya.

​Setelah si pelayan masuk, tidak lama, pintu dibuka dan keluarlah sesosok wanita cantik berwajah blasteran dengan potongan rambut half ponytail, lengkap dengan barrettes clip. Sebuah short sleeve maxi dress nan mewah berwarna biru muda dengan bahu terbuka menghiasi keanggunannya. Ia tampak memegang sebuah envelope clutch serta sebuah kain syal berbahan sutra melingkari kedua lengannya. Beberapa perhiasan mewah, termasuk kalung Amethyst, menghiasi tubuhnya dengan proporsional. Ia berjalan mendekati si pria yang sedang terpesona oleh kecantikannya.

​"Kamu memang cantik sekali, Daniella," ucap Dirga memuji gadis tersebut.

​"Terima kasih," Daniella tersipu dipuji olehnya.

​"Jadi, maukah menghabiskan hari ini bersama?" ujar Dirga seraya mengulurkan tangannya penuh kesopanan.

​"Eum, hmm ..." Daniella mengangguk yakin sambil menyambut uluran tangan Dirga.

​Keduanya lalu berjalan perlahan menuju mobil Benz S-Class hitam tadi. Dengan tetap masih menjaga attitude, Dirga merangkul pinggang Daniella, mendampingi jalan wanita di sampingnya itu. Dunia seakan menarik napas ketika keduanya berjalan bersama. Bahkan bunga-bunga terindah pun tahu kalau saat ini di hadapan mereka sedang berjalan raja dan ratu yang sepadan, yang serasi bersanding bersama.

---

​Hari ini aku sengaja tampil maksimal, ingin kuperlihatkan sisi dewasaku. Hari ini saja aku ingin dipandang sebagai seorang wanita dewasa di matanya. Ia pun, dalam pandanganku, terlihat amat gentleman. Seakan pesona seorang lelaki sempurna terpancar dari dirinya.

​Kuakui hatiku bergetar. Mataku bahkan tidak henti-hentinya menikmati sosoknya yang kini duduk di sebelahku. Untunglah aku sudah mempersembahkan usaha terbaikku untuk tampil cantik di hadapannya, agar cukup pantas bersanding berjalan bersama dengannya. Maradirga, kau memang pria yang menawan.

​"Ada tempat yang mau Ella kunjungi?" tanyanya yang kini sudah semakin akrab bicara denganku.

​"Ke mana ya? Dirga bosan enggak sih kalau Ella minta lihat situs Keraton Kasepuhan?" pintaku yang memang gadis tidak umum ini.

​"Wah, justru tadi sejalan-jalan kepikiran mau mengajukan ini, eh Ella duluan yang minta," jawabnya tersenyum senang.

​"Ya sudah, sepakat tuh, hehe ... great minds think alike ya ... ke situ saja dulu ..." ujarku seraya tersenyum lebar.

​"Oke, Nona manis," jawabnya yang makin terbuka dalam obrolan.

​Sepanjang jalan kami mengobrol banyak hal, dan aku baru tahu bahwa Dirga tergabung dalam satuan khusus yang secara eksklusif dibentuk untuk menangani urusan supernatural juga.

​"Memang ada ya kasus seperti itu?" tanyaku kala kami membahas soal fenomena bus yang menghilang tiba-tiba.

​"Ada, dan sudah beberapa kali," jawabnya memberitahuku, namun agak membatasi informasinya. Wajar, hal seperti ini memang harusnya bersifat confidential. Artinya saat ini ia cukup percaya padaku.

​"Bahaya enggak? Dirga tiap saat harus menghadapi hal-hal seperti itu," ucapku dan sejujurnya di hatiku agak muncul rasa khawatir akan keselamatannya.

​"Ya ... di mana pun bahaya tetap akan ada, tinggal kita pintar-pintar jaga diri," jawabnya mantap sambil tersenyum padaku.

​Kukembungkan sedikit pipiku, hal yang kulakukan secara latah jika aku mengkhawatirkan sesuatu. Dan sepertinya Dirga paham ekspresiku itu.

​"Hey, Daniella, tenang ... Pekerjaanku enggak seberbahaya itu ..." ujarnya kala sepertinya ia latah menggenggam tanganku, membuat jantungku agak berdegup.

​"Iya ... Ella cuma agak khawatir saja ..." jawabku yang memang sudah setidaknya pernah tiga kali kehilangan orang yang kusayangi. Dan kini, diakui atau tidak, di hatiku sudah ada perasaan spesial padanya.

​Kubalas menggenggam tangannya, terasa kekar sekaligus penuh kelembutan. Tanpa sadar, sepanjang jalan kami sudah saling menggenggam tangan.

---

​Ini kali keempat aku datang ke situs ini dan selalu bisa menikmati pesona sejarahnya. Sebenarnya ada alasan lain mengapa aku memilih ke sini, tapi jika Dirga memang menyukainya juga, aku justru senang.

Lihat selengkapnya