Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #11

Blood for friendship

​"Haaah, serius Madam cerita ke Mas Dirga?" Aku terkejut mendengar ceritanya.

​"Iya … iya … huhuhuuu … ya gimana …" ia menangis sesenggukan sambil menghapus air matanya.

​Angrea merangkul Daniella, sesekali mengelus-elus kepalanya dan melingkarkan tangan lainnya ke dada sahabatnya agar ia tenang.

​Kami sedang berada di kamarnya karena tiba-tiba ia menelepon, meminta kami untuk datang ke Wisma Maharani. Dan ternyata ia ingin menceritakan apa yang baru kemarin terjadi.

​"Mau bilang bego tapi kasihan, Madam tuh ..." ujarku mencoba merangkai kata yang paling halus.

​Angrea memasang wajah cemberut galak padaku. Kuangkat tanganku lalu membentuk gestur 'peace' sambil tersenyum padanya.

​"Madam bilang jelas ke dia kalau Madam pernah eum melakukan hubungan badan sama Adrian?" tanyaku memperjelas.

​Ia mengangguk sambil menunduk.

​"Terus Madam juga bilang kalau Madam pernah menggoda Sabugha demi nembusin proyek?" pertanyaan keduaku.

​"Iya ..." jawabnya lesu.

​"Oh my ... terus reaksi dia bagaimana?" kembali aku bertanya.

​Daniella terdiam sebentar berusaha menghentikan tangisnya. Angrea hanya bisa terdiam dan mengelus-elus Daniella atau mengambilkan tisu. Untuk urusan begini, Angrea beku. Kisah cintanya kelewat mulus jadi dia tidak punya wejangan kalau soal permasalahan cinta.

​"Kami terdiam canggung selama perjalanan pulang. Dia kayak yang kepikiran begitu. Pandangannya fokus menyetir saja," jawab Daniella setelah agak tenang.

​"Jelas sih pasti kepikiran," jawabku apa adanya.

​"Terus setelah ini, rencana Madam apa?" aku bertanya lebih jauh.

​"Ya nunggu, nunggu jawaban dia," Daniella kini sudah bisa menatapku.

​"Lah, kalau misalnya dia enggak pernah jawab, mau menunggu seumur hidup?" kutatap serius matanya kala bertanya ini.

​Daniella hanya menggelengkan kepala lesu.

​Jelas dia dead end, sudah buntu tanpa solusi.

​Kami terdiam sejenak.

​"Sudah coba kirim pesan?" tanyaku lagi.

​"Sudah, terus dia balas singkat, katanya lagi sibuk banyak kerjaan," jawab Ella.

​Kutepuk jidat. Mampus, itu sih lagi menghindar namanya.

​"Kenapa sih enggak dirahasiakan saja?" tanyaku lanjut.

​"Kalau nanti misalnya kami lanjut terus dia tahu hal itu bukan dari aku, hasilnya bakal lebih parah kan? aku belajar dari kesalahan," jelasnya padaku.

​Aku terdiam, monyong lalu menoleh ke atas, tersenyum konyol tanpa maksud. Lah iya, dipikir-pikir ini salahku juga. Waktu dengan Adrian, hal ini juga yang jadi alasan rusaknya hubungan mereka. Kok aku secara tidak langsung jadi merasa dikritik ya? haha.

​"Oke, eum ... yang jelas dia juga enggak bilang hal kayak putus gitu kan?" aku coba memastikan.

​"Dibilang jadian juga enggak sih, Dirga kan enggak pernah nembak aku," jawab Ella, membuat segalanya jadi lebih complicated.

​Ini kasus persoalan cinta yang paling rumit yang pernah kutangani, sumpah. Mereka enggak pernah secara resmi jadian, tapi pihak keluarga juga belum pernah bertemu untuk meresmikan perjodohan. Sudah jalan setahun lebih ke ranah yang bisa dibilang serius tapi bukan pacaran. Boro-boro berciuman, pegangan tangan saja baru di kencan kemarin. Dan pas ada problem langsung jeder, mana ada hubungannya sama kesalahanku lagi. Dan sekarang si cewek merasa digantung, meski belum jadian, kan bingung.

​Oh, Daniella ... kamu itu genius sumpah! di umurmu yang masih muda, kamu sudah jadi calon pewaris sebuah perusahaan besar, membuat brand yang booming dan jadi franchise yang amat laku. Founding mother dari girlband yang hype dengan cepat lalu bersamaku mendirikan label musik sendiri. Lulus dengan peringkat summa cumlaude di bidang science di luar negeri serta memiliki banyak paten untuk barang-barang berteknologi tinggi. Tapi kok kalau persoalan cinta bego ya? kelewat polos, terlalu lempeng dan naif tuh.

​Haaah, harus bagaimana menyelesaikan hal ini? Daniella sepertinya sudah cinta mati dengan sosok Dirga. Kami pun setuju kalau Daniella bersanding dengan Dirga, ia sempurna dari segala segi.

​Ya Tuhan, turunkanlah kerajaan-Mu di surga ke otakku ini agar aku bisa menemukan jalan keluarnya.

​Kupejamkan mata berdoa pada-Nya.

​Dan tiba-tiba terdengar jutaan lonceng di kepalaku.

---

Lihat selengkapnya