Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #12

Imlek terindah

Hari ini aku mengantarkan New Velvet untuk tampil di acara Imlek Grage City Mall atau GCM. Suasananya meriah sekali, karena kebetulan hari ini selain momentumnya yang sedang Imlek, ada festival alutista juga. Banyak alutista dipajang mulai dari mobil lapis baja, Humvee, hingga tank.

"Ada pameran alutista ternyata, Mas Dirga ada disini enggak ya?" Ujar Vero ada benarnya, aku bahkan enggak kepikiran.

"Iya ya, enggak tahu tuh," jawabku mengingat kencan dengannya seminggu lalu dimana aku memberi tahunya tentang masa laluku.

Dan seminggu ini kami jarang berkontak, katanya ia sedang banyak kerjaan, haaaah klasik sekali ya. Tapi ya bukan salahnya juga sih kalau akhirnya ia memandangku rendah, keperawanan itu penting sih dalam budaya timur.

"Ellaaaa koq ngelamun?" Angrea membuyarkan lamunanku. Ia memaksa ikut meski sedang hamil besar, tidak ingin melewatkan momen Bianica tampil katanya.

Jujur, melihat Angrea hamil besar dan berpakaian khas ibu-ibu hamil seperti ini tuh sesuatu banget. Kenangan sejak pertama bertemu dengannya hingga saat ini. Anugerah terindah bisa mengenalnya, sahabat terbaikku Angrea Mahalini.

"Enggak Mah, nah Mamah, lagi hamil besar malah jalan-jalan," protesku.

"Justru karena perkiraan dua minggu lagi, harus cukup jalan kaki biar bantu kelahiran," jawabnya yang semakin pintar.

"Dua minggu lagi bakal ada dua Angrea??!!" tiba-tiba Vero berlagak bergidik.

"Maksudnya apa coba?!' Angrea mencubit pipi Vero.

"Berarti bakal tambah satu mahluk cantik lagi ke dunia ini," ucapku sambil memeluk Angrea.

"Ini laki Ella, belum bilang ya?" Angrea mengelus perutnya.

"Ow wah bakal mirip Abaknya nih Mah," senang mendengarnya.

"Hmmm Razi kecil, boleh lah kalo ini ..." Vero menjilat bibirnya sendiri lalu tersenyum licik.

"Ihhh apo lah nih orang." Angrea kini mencubit kedua pipi Vero.

---

Bianica, Fira, Sillo , dan Tania tampil dengan memukau. Sudah cukup matang rupanya mereka. Hanya perlu lebih meningkatkan kemampuan vokal dan koreo lagi untuk bisa menembus tangga musik nasional.

Banyak orang yang datang hari ini, seperti seakan-akan seluruh manusia se-provinsi Cirebon raya datang. Wajar harinya jatuh di akhir pekan dan ada dua momen yang diadakan bersama.

"Gila rame banget ya, ini tumpah semua," ujar Angrea melihat sekitarnya.

"Awas mah nanti bayinya dijambret," Vero memegangi perut Angrea celingukan seakan sedang berjaga.

Angrea menaikan alis sambil memutar matanya.

"Okey gimana tadi penampilan bandnya, bagus dong," ujar pembawa acara di depan panggung.

Kami baru saja menonton penampilan sebuah band indie di panggung utama.

"Wait ... kayaknya Lucky kenal tuh, ada Kak Daniella, Kak Angrea sama Kak Vero nih, Kak sini dong ke panggung, nyumbang lagu please," ujar pembawa acara yang ternyata Mas Lucky, MC yang kenal dengan kami karena beberapa kali satu panggung. Semua mata sontak memandang ke arah kami bertiga.

"Kamu aja Ella, takut pingsan, Rea lagi hamil besar," ujar Angrea.

"Vero aja yang nemenin Mamah, Madam yang nyanyi aja, kasih lah satu lagu," Vero memegangi tangan Angrea.

"Ya bener sih ... cuma kayak tumben ya ..." Aku merasa tingkah mereka aneh, Angrea si paling pendamping tiba-tiba mempersilahkanku nyanyi sendiri, dan Vero, hmm ... jarang saja.

Akhirnya kuputuskan naik panggung untuk menyumbang satu lagu. Tepuk tangan mengiringi naiknya aku ke panggung, agak nostalgia juga setelah lama sekali tidak manggung.

"Maaf ya, Angreanya enggak bisa naik panggung, jadi Vero juga harus nemenin. Tapi aku bakal nyanyi buat kalian," ucapku diiringi tepuk tangan para penonton.

"Karena momennya lagi Imlek, Ella mau bawain lagu nostalgia yang dulu sering Ella nyanyiin kalau lagi Imlek, Ni Yao De Ai dari Penny Tai," ucapku.

Band pengiring mulai memainkan aransemen lagunya

🎵

suīrán jīngcháng mèngjian nǐ, háishi háowú tóuxù ....

🎶

Para penonton terhanyut dalam lagu, Akupun ikut merasakan apa yang lagu ini coba sampaikan. Perasaanku saat ini, begitu berharap pada jawaban Dirga, meskipun bila akhirnya ia akan menolak setidaknya aku berharap ia mau menjawabnya. Karena saat ini aku begitu tersiksa menunggu, menunggu kepastian akan cintanya ....

Bila memang apa yang sudah terjadi di masa laluku menjadi batu ganjalan, aku ingin memperbaikinya. Aku berharap ia masih mau memahami bahwa aku yang terbuka padanya adalah karena aku begitu mencintainya. Dirga, jawablah secepatnya ... karena aku tidak sanggup bila harus lebih lama lagi.

Nyanyianku diakhiri dengan tepuk tangan dari para penonton dan Mas Lucky.

"Ya ampun lama enggak lihat tambah cantik, tambah enak nyanyinya, makin menjiwai ... ya enggak sih penonton?" Mas Lucky masih seperti dulu rupanya, selalu talkative, penonton bersorak dengan begitu ramai.

"Makasih, bisa aja, Mas Lucky juga tambah cetar nih," ujarku seraya tersenyum dan menjawab selayaknya di atas panggung.

Lihat selengkapnya