Hari ini aku mengantarkan New Velvet untuk tampil di acara Imlek Grage City Mall atau GCM. Suasananya meriah sekali, karena kebetulan selain momentum Imlek, ada festival alutsista juga. Banyak alutsista dipajang, mulai dari mobil lapis baja, Humvee, hingga tank.
"Ada pameran alutsista ternyata. Mas Dirga ada di sini enggak ya?" Ujar Vero ada benarnya, aku bahkan tidak kepikiran.
"Iya ya, enggak tahu tuh," jawabku mengingat kencan dengannya seminggu lalu di mana aku memberitahunya tentang masa laluku.
Dan seminggu ini kami jarang berkontak. Katanya ia sedang banyak kerjaan, haaaah klasik sekali ya. Tapi ya bukan salahnya juga sih kalau akhirnya ia memandangku rendah. Keperawanan itu penting dalam budaya Timur.
"Ellaaaa, kok ngelamun?" Angrea membuyarkan lamunanku. Ia memaksa ikut meski sedang hamil besar, tidak ingin melewatkan momen Bianica tampil katanya.
Jujur, melihat Angrea hamil besar dan berpakaian khas ibu hamil seperti ini tuh sesuatu banget. Kenangan sejak pertama bertemu dengannya hingga saat ini berputar di kepala. Anugerah terindah bisa mengenalnya, sahabat terbaikku, Angrea Mahalini.
"Enggak, Mah. Nah, Mamah... lagi hamil besar malah jalan-jalan," protesku.
"Justru karena perkiraan dua minggu lagi, harus cukup jalan kaki biar bantu kelancaran kelahiran," jawabnya yang semakin pintar.
"Dua minggu lagi bakal ada dua Angrea??!!" tiba-tiba Vero berlagak bergidik.
"Maksudnya apa coba?!" Angrea mencubit pipi Vero.
"Berarti bakal tambah satu makhluk cantik lagi ke dunia ini," ucapku sambil memeluk Angrea.
"Ini laki-laki, Ella. Belum bilang ya?" Angrea mengelus perutnya.
"Wah, bakal mirip Abaknya nih, Mah!" Aku senang mendengarnya.
"Hmmm, Razi kecil... boleh lah kalau ini..." Vero menjilat bibirnya sendiri lalu tersenyum licik.
"Ihhh, apo lah nih orang!" Angrea kini mencubit kedua pipi Vero.
Bianica, Fira, Sillo, dan Tania tampil dengan memukau. Sudah cukup matang rupanya mereka. Hanya perlu lebih meningkatkan kemampuan vokal dan koreografi lagi untuk bisa menembus tangga musik nasional.
Banyak orang yang datang hari ini, seakan-akan seluruh manusia se-Provinsi Cirebon Raya tumpah ruah. Wajar, harinya jatuh di akhir pekan dan ada dua momen besar yang diadakan bersamaan.
"Gila, ramai banget ya, ini tumpah semua," ujar Angrea melihat sekitarnya.
"Awas, Mah, nanti bayinya dijambret," Vero memegangi perut Angrea sambil celingukan seakan sedang berjaga. Angrea menaikkan alis sambil memutar matanya.
"Oke, gimana tadi penampilan bandnya? Bagus, dong!" ujar pembawa acara di depan panggung. Kami baru saja menonton penampilan sebuah band indie di panggung utama.
"Wait... kayaknya Lucky kenal tuh! Ada Kak Daniella, Kak Angrea, sama Kak Vero nih. Kak, sini dong ke panggung, nyumbang lagu please!" ujar pembawa acara yang ternyata Mas Lucky, MC yang kenal dengan kami karena beberapa kali satu panggung. Semua mata sontak memandang ke arah kami bertiga.
"Kamu saja, Ella. Takut pingsan, Rea lagi hamil besar," ujar Angrea.
"Vero saja yang menemani Mamah. Madam yang nyanyi saja, kasihlah satu lagu," Vero memegangi tangan Angrea.
"Ya benar sih... cuma kayak tumben ya..." Aku merasa tingkah mereka aneh. Angrea si "paling pendamping" tiba-tiba mempersilahkanku nyanyi sendiri, dan Vero... hmm, jarang-jarang dia begini.
Akhirnya kuputuskan naik panggung untuk menyumbang satu lagu. Tepuk tangan mengiringi langkahku, agak nostalgia juga setelah lama tidak manggung.
"Maaf ya, Angreanya enggak bisa naik panggung, jadi Vero juga harus menemani. Tapi aku bakal nyanyi buat kalian," ucapku diiringi tepuk tangan para penonton.
"Karena momennya lagi Imlek, Ella mau bawain lagu nostalgia yang dulu sering Ella nyanyiin kalau lagi Imlek, Ni Yao De Ai dari Penny Tai," ucapku.
Band pengiring mulai memainkan aransemen lagunya.
🎵
Suīrán jīngcháng mèngjiàn nǐ, háishì háowú tóuxù... 🎶
Para penonton terhanyut dalam lagu. Aku pun ikut merasakan apa yang lagu ini coba sampaikan. Perasaanku saat ini begitu berharap pada jawaban Dirga. Meskipun bila akhirnya ia akan menolak, setidaknya aku berharap ia mau menjawabnya. Karena saat ini aku begitu tersiksa menunggu kepastian akan cintanya.
Bila memang apa yang sudah terjadi di masa laluku menjadi batu ganjalan, aku ingin memperbaikinya. Aku berharap ia masih mau memahami bahwa keterbukaanku padanya adalah karena aku begitu mencintainya. Dirga, jawablah secepatnya... karena aku tidak sanggup bila harus lebih lama lagi.