Pernikahanku dan Dirga digelar di Wisma Maharani dengan konsep garden wedding yang berlangsung hingga malam hari. Dirga sendiri sudah mengambil cuti selama seminggu untuk pernikahan ini. Pre-wedding dan segala persiapan lainnya dilaksanakan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Thank God! Kami punya tim yang andal. Dan di hari keempatlah, tepatnya Rabu, 11 November 2020, pernikahan dilaksanakan. Konsep garden diambil menyesuaikan dengan bentuk rumahku yang memang 70%-nya berupa pelataran luas dan pepohonan, selain area parkir.
Total tamu yang datang mencapai 1.746 orang dari 1.600 undangan yang disebar, termasuk warga sekitar. Kebanyakan terdiri dari rekan-rekan Dirga dan petinggi militer, rekan bisnis Bu Hesty, rekan bisnisku di RAGE, keluarga besar Maharani, Mahalini, dan Mahandaru, para kenalan dari TJ High School, hingga perwakilan fandom Pink Velvet serta kolega di Rainbow Entertainment dan pejabat daerah setempat, termasuk bupati.
"Selamat ya, Ella. Kami alumni Excellent A senang banget dengarnya, kami doakan yang terbaik buat kalian," ujar Mikha berbarengan dengan Orlando.
"Yang lain titip salam, soalnya pada banyak yang jauh-jauh. Raviz sama Meydina sudah di Singapura. Kasyafan di Australia lanjut studi, Vivian sekolah modeling di Thailand—sekalian operasi plastik kali ya? Betrant ke Papua ikut Bapaknya. Pokoknya pada titip salam dan amplop saja," Julian datang bersama Alvaro, Aurelia, dan Marlintang.
"Katanya sebentar lagi giliran Julian sama Aurelia tuh?" Vero menggoda keduanya.
"Iya, semoga lancar. Rencananya empat bulan lagi tunangan, keluarga sudah oke," jawab Julian yang membuat Aurelia tersipu malu.
"Serius??! Wah, pada balap-balap sih kalian!" Vero terkejut. "Gara-gara Mamah Rea nih duluan!"
"Kok Awak yang disalahin?!" Angrea protes.
"Tapi memang Angrea duluan ya di angkatan kita yang nikah. Cewek paling cantik memang laku duluan," ucap Alvaro bermaksud bercanda.
"Cieee, masih belum ikhlas kuh?" Julian menggoda temannya itu.
"Apa sih... enggaklah, aku turut berbahagia kok," Alvaro men-tackle Julian ala kawan akrab.
"Alvaro..." Angrea tiba-tiba memanggilnya.
"Eh iya, kenapa Rea?" jawabnya terkejut.
"Mau gendong baby Mahalik enggak?" tawar Angrea.
"Ciaaaaa savage benar nih cewek! Disuruh gendong anaknya jeh. Yang tabah Ro, yang tabah! Hahaha!" ujar Julian tertawa puas.
"Eh Lintang, bagaimana? Enggak sama pasangannya?" Vero memancing Marlintang bicara.
"Memang ada? Haha, ya masih setia dengan kejombloan," jawab Marlintang tersenyum lebar sembari meletakkan lidahnya di gigi samping atas—pose khasnya.
"Alvaro jomblo, kan? Sebagai yang sama-sama bertepuk sebelah tangan, apa enggak... ya, PDKT gitu?" Vero nyengir lebar sembari menaik-turunkan alis.
"Yeeee..." wajah Marlintang merona.
"Ayo, Ro... kapan lagi!" Vero terus mengompori.
Alvaro terdiam, namun tiba-tiba ia memetik sekuntum bunga dari taman. Ia berjalan ke hadapan Marlintang dan lantas berlutut.
"Yuliani Marlintang, maaf kalau ini tiba-tiba, tapi aku mau kita bisa dekat. Mungkin kamu enggak bisa langsung menerimaku, tapi izinkan aku untuk setidaknya belajar mencintaimu... maukah kamu menerimaku?" ucap Alvaro yang membuat kami semua terkejut.
Kami menahan napas menantikan jawaban Lintang.
"Hmmm... iya boleh, aku mau Sulaiman Alvaro," jawab Marlintang seraya mengambil bunganya.
"Waaaaa asli enggak nyangka! Seriusan? Haha!" Julian terbelalak.
"Kamu kalau nembak memang gayanya nyeblak ya?" Mikha memasang wajah aneh. Orlando hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Lah, kalian sih bagaimana? Partneran dari kelas dua sudah klop lho," tanyaku menatap duet 'pasangan politik' Mikha dan Orlando.
"Memang sudah jadian, Madam. Enggak tahu ya? Kan Vero yang comblangin kok?" sela Vero.
"Lah, serius?" aku tidak pernah menganggap serius rumor itu.
"No no no... kami bukan jadian, cuma berkomitmen saja bakal menikah," jawab Orlando diiringi anggukan Mikha.
"Edun! Aku juga baru ngeh, Ella," Julian terus saja terkejut.