Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #16

Malam pertama

​"Ya, itu sudah semua," ujarku, menutup buku catatanku, lalu merapikan lingerie yang kupakai dan merapikan rambutku yang masih agak basah setelah sejam yang lalu mandi, perawatan wajah, lalu mencatat pembukuan.

​"Haaah, capek banget ... ternyata secapek ini ya sebuah resepsi," ujar Dirga. Tidak kusangka ia bisa kelelahan juga, ia sudah tengah berbaring di ranjang.

​Aku tersenyum mengangkat alis menatapnya.

​"Jadi mau unboxing malam ini atau nanti saja?" kuelus dadanya yang bidang. Aku ingin 'senakal' mungkin pada suamiku itu.

​"Haha unboxing, hmm tawaran yang amat sangat menggoda ... tapi boleh malam ini merecovery tubuh dulu?" ternyata ia sudah benar-benar kelelahan rupanya.

​"Ya sudah, kalau begitu Ella kasih servis khusus saja ya?" aku lalu beranjak dari tempat tidur menuju lemari alat-alat make-up-ku, mengambil sesuatu dari dalamnya.

​"Nih, manjur banget ... Ayank buka baju! eh, buka semua saja, terus balik badan gih," kutunjukkan sebotol minyak pijat dan memintanya menelungkup di tempat tidur.

​Ia tampak malu-malu membuka seluruh pakaiannya. Lucu sekali, ternyata ia pria yang polos.

​"Nikmati ya, pijat plus-plus Nona Daniella Maharani," kubisikkan dengan nakal di telinganya. Ia tersenyum sambil memejamkan mata.

​Aku pun memulai memijat tubuhnya, membalurinya dengan minyak pijat resep rahasia keluarga, dikirim langsung dari kampung halaman. Keluarga Mahalini yang sebenarnya membuat resepnya, amat ampuh memberikan rasa nyaman dan menghilangkan rasa pegal.

​Perlahan dan lembut namun juga dengan agak bertenaga. Kulemaskan otot-ototnya yang kelelahan dan kaku. Ia tampak nyaman dengan pijatanku. Aku cukup senang, karena aku sebenarnya tidak paham memijat. Ini hanya murni perasaan tulus dari hati untuk memberinya rasa nyaman.

​Tanpa sadar aku sudah memperhatikan tiap jengkal tubuhnya, rupanya banyak juga bekas luka bertebaran di sana. Beberapa tampak seperti luka kecil karena goresan. Namun ada dua yang tampak cukup serius.

​Kusentuh bekas luka terbesarnya di bagian rusuk belakang. Aku memang bukan ahli forensik namun aku yakin ini adalah luka tusukan benda tajam. Ya Allah, apa yang sudah pernah terjadi padamu, Dirga? seberbahaya itu kah tugasmu melindungi negara ini? sudah berapa kali kau berkorban demi melindungi orang-orang?

​Tanpa sadar air mataku menetes, hatiku seakan diiris-iris melihat barisan bekas luka ini. Masih terus kulanjutkan pijatanku, berharap setidaknya ini bisa melindunginya dari lelah yang saat ini membebaninya. Aku akan berusaha sebisa mungkin menjadi selimut bagimu, memelukmu dan menciummu saat kau pulang dengan rasa lelah, aku akan menjadi pelipur laramu. Aku ingin melindungimu, setidaknya sebagai istrimu, sebagai kekasih hatimu.

​"Yank, Dirga ..." Kucoba memanggilnya dengan lembut sambil kuhapus air mataku.

​Ia tidak menyahut, rupanya ia sudah terlelap dalam alam mimpi. Aku tersenyum menatap wajahnya, ia tertidur seperti seorang anak kecil. Aku tahu aku begitu mencintai pria ini. Kucium ia dalam tidurnya, dan kupeluk ia agar tidurnya hangat sembari menarik selimut untuk menyelimuti kami berdua. Tidurlah, Sayang, biar malam ini menghapus lelahmu, biarkan aku mencintaimu ketika kamu bersenandung di alam mimpi, melepaskan diri dari lelahnya urusan dunia.

---

​Sweet Twilight


​Mataku masih agak berat, tapi bisa kurasakan aku sudah mulai bangun sedikit demi sedikit. Terutama karena dari tadi bisa kurasakan tubuhku seperti digeser-geser. Ah iya, sekarang tidurku tidak lagi sendirian kan. Benar, sensasi hangat ini adalah tubuh istriku. Kubuka lebih lebar mataku ketika kesadaranku makin terkumpul. Ah, Daniella rupanya punya gaya tidur yang tidak bisa diam, lucu sekali. Tapi kenapa ada suara desahan juga?

​Aku cukup terkejut ketika jemari lentik itu menyentuh wajahku. Menyadarkanku sepenuhnya atas apa yang sedang terjadi. Rupanya ini ulahku sendiri yang kulakukan setengah sadar. Ia sedang menggeliat dalam pelukanku. Tubuhnya menempel membelakangiku sementara tanganku sedang memainkan buah dadanya yang terasa sangat lembut. Ia mendesah dan menggeliat menikmati apa yang kulakukan.

​"Aahh Dirga ... eeuhhh mmmhh Ayank ..." ujarnya dengan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan. Tangan kirinya tadi lalu berpindah menuju bagian bawah tubuhku, tepat di titik paling sensitifnya.

​Aku terkaget dan menghentikan apa yang kulakukan segera.

​"Maaf, eh ... kamu terganggu ya?" kutatap wajahnya khawatir jangan-jangan sedari tadi aku mengganggu tidurnya.

​"Kok minta maaf ...? Aku sudah istrimu, lanjut saja enggak apa-apa. Ini masih subuh," jawabnya berbalik badan lalu menciumiku.

​Iya juga, bodohnya aku, kami kan sudah menikah, jadi ketara sekali kalau aku tidak punya pengalaman sama wanita.

​Lantas aku lanjutkan saja, karena rupanya aku pun terpancing. Kini aku sudah tersadar sepenuhnya dan ingin menikmati apa yang sedang berlangsung. Kurangkul tubuhnya, aku ingin lebih berperan maka kuciumi ia sekujur tubuh. Ia tampak menyukainya, khususnya ketika mulutku bermain di titik-titik oasis tubuhnya. Suaranya membuatku semakin bersemangat. Jelas kejantananku sudah memberontak meminta segera dituruti keinginannya untuk segera melepas keperjakaanku saat itu. Kubaringkan ia saat kami sudah berkeringat, wajahnya merona menahan malu.

​"Je veux mon cherie, fais le maintenant," ucapnya seraya kedua tangan rampingnya menempel di wajahku.

​Aku belum begitu mengerti bahasa Prancis, tapi rupanya wanita yang berbahasa Prancis dengan lembut itu terdengar seksi dan sepertinya aku bisa menebak artinya.

​Dan di situlah ia menggigit bibirnya, seakan sedang kesakitan namun amat menyukainya. Ekspresinya menyiratkan banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan hanya beberapa kalimat saja.

Lihat selengkapnya