"Halllluuu, Madam... hmm, kayak yang fresh gitu deeeeh..." ujar Vero membahana menyapa Daniella yang baru saja tiba di kantor Hyper Label.
Vero menghampiri Daniella lalu cipika-cipiki memeluknya.
"Iya yaaaaa... kenapa jeh?" jawab Daniella dibumbui aksen Cirebon yang kental, meski terdengar agak dibuat-buat.
"Gimana... Arjunanya mantep?" ucap Vero sambil mengacungkan dua jempol menggoda Daniella.
"Mantap!!" jawab Daniella yang juga mengacungkan jempol sambil mengangguk tegas menanggapi guyonan Vero.
Vior tersenyum lebar menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah para seniornya. Ia lalu menghampiri Daniella untuk cipika-cipiki dan memeluknya.
"Duduak dulu, duduak dulu... cerita dong cerita..." Vero mempersilakan Daniella duduk setelah sebelumnya menepuk-nepuk sofa.
"Biasanya kalau begini tuh ada maunya tahu, Kak," ujar Vior sambil tersenyum pada Daniella.
Daniella mengangguk karena sudah paham tabiat sahabatnya itu.
Vero menempel pada Daniella sambil membawakan air mineral botol.
"Jadiiii... sehari berapa kali?" Vero tersenyum lebar sambil menaik-turunkan alis.
"Euuumm... ya se-metenge aja," masih dijawab dengan bahasa Cirebon seperti tadi.
"Hahahhahaha..." Vero dan Vior tertawa.
Tidak lama setelahnya, Ivory tiba sambil membawa tas besar.
"Eh, sudah sampai tuh Ivory..." Vior yang pertama sadar.
Daniella melongok ke arah pintu masuk.
"Fyuh, nih sudah Ivory pilih-pilihin... eh ada Kak Daniella, datang kapan, Kak?" Ivory meletakkan tasnya ke pojokan dan menghampiri Daniella lalu cipika-cipiki memeluknya.
"Itu apa, Say?" tanya Daniella melihat ke arah tas besar yang dibawa Ivory.
"Baju-baju preloved, Kak. Mau kita donasikan buat yang kurang mampu," jawab Ivory.
"Wah, tahu begitu tadi Ella bawa juga ya. Besok deh," Daniella tertarik untuk ikut menyumbang.
"Boleh banget, Kak. Acaranya masih lima hari lagi, nanti semuanya kita laundry dulu baru dibagikan," Vior menjelaskan.
"Oke kalau begitu... ini pada lowong, kan? Mau touch up enggak nih? Rea lagi enggak bisa, sedang ada keluarga Razi datang jadi cuti ngumpul dulu," Daniella menawarkan kumpul rutin di spa atau salon.
Mata Vero berbinar. "Madam the best memang, terbaik sumpah, cuss lah!"
"Asyik, terima kasih, Kak," Ivory senang.
"Kak Daniella memang dermawan," Vior juga ikut senang.
"Oke, cuss," sambut Daniella.
"New Velvet masih belum datang ya?" tanyanya.
"Namanya sudah ganti jadi Spicy Sisters, Madam. Mereka sudah moving kok, lagi ada dua job podcast di radio didampingi Bu Lulu," ralat Vero.
"Oh iya benar sudah ganti, oh ya sudah bagus makin hype," jawab Daniella.
Lalu keempatnya pergi ke klinik perawatan kulit dan wajah langganan Daniella.
"Pijat Swedia memang paling comfort," ucap Daniella yang terdengar begitu menikmati pijatan dari staf pemijat.
"So far sudah lancar ya, Ella?" tanya Vero di sela sesi pemijatan dan lulur.
"Lancar, cuma Dirga belum terbiasa sama suasana rumah. Minggu depan lah pindah ke Manoa," jawab Daniella.