Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #19

Syukurku akan hadirmu

"Ella, serius? eh, beneran?" ujar Vero terkaget dengan apa yang baru saja kukatakan.

​"Iya, masa bercanda? aku enggak kayak kamu Sayang," jawabku tersenyum padanya. Senyum yang datang dari lubuk hatiku karena rasa senang yang kurasakan.

​"Seriusan dia jawab gitu? masih enggak percaya," kini Vero mendekat padaku, menggenggam tanganku, namun kulihat titik-titik air mata mulai muncul dari mata indahnya.

​"Benar, Sayang. Ella cuma bisa bantu sedikit. Kapan Vero siap? Ustadz Ikhsan siap kapan saja," ucapku padanya.

​Vero menunduk, tangan kirinya menutupi mulutnya, berusaha menahan tangis yang tak terbendung.

​"Huuu, terima kasih, Ella, terima kasih ..." ia lalu memelukku erat sambil menangis haru.

​"Kamu berhak bahagia, Veronica. Kamu gadis yang baik." kuusap kepalanya sambil memeluknya. Rambut hitamnya terasa lembut dan harum mawar.

​Bahkan Bianica, Fira, Sillo, dan Tania ikut menangis haru, merasakan bahagia yang Vero rasakan.

---

​Aku bersama Vero berkendara menuju sekolah Islam terpadu Al-Mizan. Ia bahkan mengenakan jilbab scraft. Vero juga agak sedikit touch up dan mengenakan blus panjang yang cukup elegan.

​"Sengaja dandan total buat Ustadz Ikhsan?" tanyaku padanya.

​"Jilbabnya? kan mau masuk kompleks Islami, wajib dong Madam," jawabnya sambil menyetir mobilku. Aku tahu ia berusaha menutupi alasan sebenarnya.

​Aku hanya tersenyum saja. Sepanjang perjalanan, otakku terfokus memikirkan bagaimana bila hal ini benar berlanjut, sedangkan keduanya memiliki keyakinan berbeda? apakah salah satunya harus mengalah? Kubiarkan saja sang waktu yang akan memberiku jawaban.

​Setelah sekitar delapan belas menit perjalanan dari kantor Hyper Label, kami pun tiba di tempat Ustadz Ikhsan.

​Kami disambut dengan ramah oleh resepsionis di meja depan, lalu diantarkan menuju ruangan Ustadz Ikhsan. Ruangan kantornya agak khusus karena terletak sendiri. Dari papan nama di depan kantornya, aku baru tahu ternyata Ustadz Ikhsan menjabat sebagai sekretaris yayasan Al-Mizan. Resepsionis itu mengetuk pintu ruangan tersebut.

​"Ayo Vero sini. Lho, kok mojok gitu?" ujarku pada Vero yang tampak mematung di sudut lorong.

​Ia menatapku, menggeleng, wajahnya memerah, ragu untuk melangkah. Rupanya ia malu-malu untuk menemui Ustadz Ikhsan. Hatinya senang, namun tidak sepenuhnya siap.

​"Ayo masuk. Kenapa pada di luar?" tiba-tiba Sang Ustadz muncul, membuka pintu dari dalam.

​Vero langsung membalikkan badan membelakangi kami. Lucu sekali, baru kali ini aku melihat tingkahnya yang begitu manis. Kuputuskan menarik tangannya agar ia mau masuk. Resepsionis itu ikut tersenyum menahan tawa melihat Vero, sambil lalu pamit undur diri.

​Kami dipersilakan duduk di sebuah sofa berwarna cokelat yang terasa cukup nyaman.

​"Mas Ikhsan tinggal di sini?" tanyaku berbasa-basi sambil memperhatikan ruangannya. Interior di dalam ruangan kantornya semi seperti bisa ditinggali, itulah mengapa aku bertanya.

​"Oh, enggak. Rumah saya dua kilo dari sini. Cuma karena dekat, jadi lebih betah di sekolah. Maklum, tinggal sendirian. Orang tua ikut keluarga kakak pertama di Semarang," jawabnya sambil menuangkan teh hangat yang tercium harum sekali.

​"Silakan diminum," ucapnya.

​Aku pun mulai membuka obrolan.

Lihat selengkapnya