Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #20

White bride, white capel

Ia cantik sekali dalam balutan gaun pernikahan yang terlihat megah. Segala tentangmu begitu indah hari ini. Segala tentangmu begitu penuh kebahagiaan dalam kasih Tuhan.

​Dengan anggunnya, ia berjalan diiringi para adik kecilnya di belakang memegangi gaunnya. Senyumnya adalah hal paling hangat di ruangan ini. Veronica Wijaya, kamu adalah pengantin paling berbahagia yang pernah kulihat.

​Dan di sanalah Ikhsan berdiri mengenakan setelan pengantin pria berwarna putih bersih terbaiknya, tampak gagah. Kami, para bridesmaids-nya—Aku, Angrea, Vior, Ivory, Bianica, Fira, Sillo, dan Tania—adalah delapan gadis paling bahagia melihat Vero hari itu.

​Sebuah kutipan yang paling kusuka tentang pernikahan dari Alkitab tengah diucapkan oleh pendeta.

​"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

​Lalu di sanalah keduanya mengucapkan janji suci pernikahan.

​Ikhsan mengucapkannya.

​"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."

​Lalu disusul Vero.

​"Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."

​Dan ketika cincin pernikahan disematkan di jari keduanya, maka mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri. Semua hadirin bersukacita dalam acara yang penuh keberkatan itu.

Dan saat sang pendeta resmi menegaskan janji penyatuan keduanya, ​Ikhsan dan Vero berciuman. Ciuman paling indah yang pernah kusaksikan. Vero meneteskan air mata. Kebahagiaannya akhirnya tercapai, cinta yang tulus akhirnya merangkulnya. Menyembuhkan hatinya yang berkali-kali terluka. Memeluknya melalui kasih dan sayang. Hatinya kini terselamatkan. Dan selalu kukatakan tulus dari dalam hati, engkau berhak bahagia, Veronica Wijaya. Engkau berhak bahagia.

---

​"Pantas saja Daniella mudah mengurus perizinannya. Lupa kalau ada Bapak Letnan," Vero berkata penuh suka cita.

​"Terima kasih ya Yank," kugandeng Dirgaku penuh kebanggaan, lalu mengecupnya lembut di pipi. Oh, yeah, aku suka Dirgaku beserta segala wewenangnya.

​Ia tersenyum dengan senyum manisnya, membalas semua rasa terima kasih yang disampaikan padanya.

​"Tuh, kan. Tania itu cantik dan feminimnya kelihatan kalau pakai gaun," Vero menggoda Tania.

​"Huuu ... memang aku cantik, kok," jawab Tania.

Lihat selengkapnya