Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #21

Jawab-Nya dalam senyumku

​"Eh, Vero terbangun, kah? Maaf ya, jadi ikut bangun," ujarnya dengan penuh perhatian.

​Kugelengkan kepalaku, tersenyum padanya. Kuhampiri ia yang selesai dari salatnya, memeluknya, menciumnya, lalu kuulangi lagi dengan mencium tangan kanannya.

​"Maaf, belum biasa," ujarku.

​"Tidak apa-apa. Tidak buru-buru juga. Pernikahan ini seumur hidup, kok," ucapnya begitu romantis, membuat hatiku meleleh.

​"Boleh minta satu hal dari kamu?" tanyaku seraya menempel manja padanya yang lalu merangkulku dari belakang.

​"Boleh. Apa itu?" jawabnya menanggapi tingkah manjaku.

​"Panggil Vero dengan sebutan 'cintaku', Vero akan memanggil Ican yang sama juga," pintaku dengan manja.

​"Hehe, boleh. Kukira apa," Ikhsan menjawab sambil tersenyum lebar.

​"Terima kasih," kututup mataku, kuketuk-ketuk kening dan bibirku, memintanya menciumku.

​Cintaku menyambutnya, lembut bagai salju pertama di malam Natal.

​"Salatnya sudah selesai?" tanyaku.

​"Sudah. Setelah ini bisa ke kamar lagi menemani Cintaku," jawabnya.

​Aku menunduk terdiam, tersenyum, lalu menatapnya lama. Aku berdiri sambil menarik kedua tangannya, membawanya ke ranjang kami di rumahnya yang kini kutinggali setelah pernikahan kami kemarin.

​Aku berbaring, namun kutahan ia tetap berdiri. Kutatap wajahnya. Ia pun mengerti maksudku, maksud hatiku padanya. Perlahan-lahan ia menciumiku, dahi, pipi, hidung, bibirku, serta sebuah French kiss terindah. Cintaku lalu melanjutkannya pada leherku, memberikannya sebuah tanda merah yang akan membekas.

​Ia menatapku, tepat di mataku, langsung merasuk ke relung hatiku. Dibukanya kancing piyamaku satu per satu. Ada rasa takut, malu, haru, sekaligus bahagia saat ia melakukannya. Aku tetap membuka mataku, memastikan tak satu pun kenangan lamaku akan terlintas dan hanya ada hari ini, hanya ada saat bersamanya. Kupasrah saat cintaku menjamah tiap jengkal tubuh bagian atasku, dengan tangannya, dengan kelembutannya, dengan cintanya.

​Detik demi detik mengalir begitu saja kala kubiarkan ia membuka rasa maluku.

​Cintaku semakin bersemangat, kini wajahnya telah berubah merona. Aku lekatkan kedua tanganku di kedua pipinya, meminta sebuah French kiss lagi. Ia memberikannya dengan penuh gairah. Setelah ini, akan kupasrahkan semua padanya. Aku ingin se-innocent mungkin baginya, aku ingin agar ia setidaknya, melihatku bagai seorang gadis yang masih perawan. Untuk malam ini, tak akan kuminta lebih dari sebuah French kiss.

​Dan waktulah yang akhirnya menggerakkan kedua tangannya untuk melepaskan sisa pakaianku. Membiarkannya melihat semua sisi tersembunyiku, melihat mahkota kehormatan wanitaku. Tubuhnya terasa begitu hangat kala ia melakukannya. Aku benar-benar berharap akan ada darah dari milikku ini agar setidaknya ia bahagia mengetahuinya. Karena saat ini, hatiku begitu bahagia, jiwaku begitu haru bisa memberikan kehormatanku pada pria yang benar-benar kucintai, pada pria yang akan menemaniku hingga hanya ajal yang bisa memisahkan—hingga matahari terakhir dalam hidupku.

​Ini adalah malam terindah bagiku, bersamanya memelukku setelah kami berbagi hasrat suci, berbagi benih cinta kami.

​"Nanti, cintaku harus salat lagi, ya?" tanyaku, terus-menerus mengelus wajah dan dadanya. Entah mengapa aku begitu.

​"Iya, nanti subuh, tapi mandi besar dulu," jawabnya, masih memelukku erat.

​"Hmmm, sebesar apa?" tanyaku, berguyon tentu saja.

​"Hahaha... sebesar Gaban," balasnya tanpa salah paham sedikit pun.

​"Eum... Vero mau coba ikut yang nanti subuh," pintaku.

​"Boleh. Sepertinya ada mukena untuk tamu," jawabnya tersenyum lalu mengecup keningku. Kupejamkan mataku, begitu suka aku dengan sikap romantisnya.

​"Tapi belum tahu bacaannya apa," ujarku agak tidak percaya diri.

​"Tidak apa-apa. Nanti ikut saja gerakannya. Aku imammu, aku yang akan membimbingmu," jawabnya. Oh Tuhan, mengapa dia begitu romantis?

​Kuanggukkan kepala, lalu kembali memejamkan mataku. Begitu tidak sabar akan datangnya subuh.

​Aku begitu mencintaimu, wahai imamku.

---

Dirty rumor

​"Aku berangkat dulu, ya. Cintaku sendirian, tidak apa-apa, kan?" tanyanya, selalu penuh perhatian.

​Kuanggukkan kepalaku sambil tersenyum semanis mungkin, tidak lupa meminta kecupan darinya.

Lihat selengkapnya