Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #22

Where is he?

Aku sedang berjemur di Le Pirate Island, Labuan Bajo, bersama para Spicy Sisters dan Ivory. Ini adalah hadiah dariku karena Hyper Label berhasil mencapai target tahun ini. Hari ini adalah hari terakhir liburan kami, besok siang kami akan pulang.

​"Kak Vero pasti menyesal ini, haha," ujar Ivory.

​"Ya kan sudah diganti mentahannya saja. Lagian kan, dia sudah tidak boleh pakai bikini," jawabku menanggapi ucapan Ivory.

​"Kalau Kak Angrea kenapa tidak ikut? kalau Kak Vior sih, Ivory paham, alasannya sama kan seperti Kak Vero?" tanya Ivory.

​Kuseruput Singapore Sling-ku.

​"Angrea kan, sudah bekerja di Mahalini Air, dan musim liburan justru jadwal sibuk perusahaan transportasi. Kalau Vior, betul sekali itu alasannya," jawabku sambil menikmati lagi segarnya minumanku itu. Cocok dengan matahari yang bersinar penuh siang ini.

​Para Spicy sudah sedang bermain voli pantai. Cukup seru, sesekali terdengar suara tawa mereka dari sini.

​"Kakak, tuh, tidak mengajak adiknya? Marvellina," Ivory masih mengabsen yang tidak hadir.

​"Ina harus ke Eropa lagi mengurus kewarganegaraan. Kami memang punya dua kewarganegaraan, tetapi kalau sudah 18 tahun, atau sudah menikah, atau paling lambat 21 tahun, harus pilih. Ina memilih jadi warga negara Prancis, ikut Regi di sana. Lagian juga dia sudah dipercaya memegang RAGE pusat," jawabku menjelaskan pada Ivory.

​"Oh, iya ya. Okka-san juga begitu, tapi Okka-san memilih jadi orang Indonesia saja. Kakak kenapa lebih memilih jadi orang Indonesia?" tanyanya.

​"Eum, kenapa ya? kalau maksudnya dibandingkan Ina, ya, Ella waktu kecil sempat diasuh Ama meski cuma empat tahunan saja. Dan nanny yang membesarkan Ella tuh Maripona sama Bu Arunika yang notabene Sumatera banget. Ya, Ella lebih suka budaya Nusantara. Kalau Ina, dari baby asuhannya Barat sekali sama Regi. Dia kan, sampai umur 11 tahun lebih banyak di sana," jawabku jadi panjang lebar.

​"Memang Kakak tidak berbudaya Barat? Ivory tidak setuju, deh," ujar Ivory.

​"50:50 lah kalau Ella. Kalau Ina, tuh, 80:20 lah. Memang tidak kelihatan ya kalau kami tuh, hasil budaya campuran?" tanyaku memandang Ivory sambil melepas kacamataku.

​"Hmm, begini Kak. Pertama bertemu Kakak tuh, waktu di kantin habis Kakak mengagetkanku di toilet. Rin memang berpikir, 'Ini tuh orang Eropa tah?' apalagi Kakak ngomongnya belepotan dengan bahasa Prancis," ujarnya.

​Aku tersenyum geli mengingat saat itu.

​"Tapi semakin kenal Kakak, semakin dekat Kakak tuh, kayak membumi. Ivory lupa kalau Kakak blasteran," jawabnya.

​"Hahaha, iya ya ... Ya, begitu. Kalian jarang interaksi sih sama Marvellina, jadi tidak tahu bedanya aku sama dia," ujarku duduk memandang para Spicy yang sedang asik dengan permainan volinya.

​"Iya Kak, sungguh," ucap Ivory.

​"Kalau Aoki tidak diajak?" Ivory bertanya lagi.

​"Sakit sih dia. Kena demam. Ya sudah, dikirim uangnya saja lah. Kata Vero, menyesal banget dia enggak bisa lihat Bian pakai bikini," ujarku lalu menghabiskan minumanku.

​"Oh, begitu," Ivory juga menyeruput margarita-nya yang mulai berembun.

​"Rin kesepian ya, enggak ada candaan Vero?" tebakku.

​"Iihhh, haha ... apa iya ya? kadang sebal kalau Kak Vero bercanda ... tapi sepi sih tidak ada Kak Vero," jawabnya.

​"Haha, iya, memang ngangenin orang itu tuh. Tapi Ella senang dia sudah dapat suami yang sayang sama dia. Dia berhak bahagia," ucapku sambil tersenyum membayangkan wajah Vero.

​"Iya ya. Ivory tidak begitu tahu, tapi dulu Kak Vero menderita, katanya," ucap Ivory yang memang tidak aku maupun Angrea ceritakan tentang masa lalu Vero.

​"Penuh duka saja. Pernah sempat mau bunuh diri kok. Ella enggak bisa cerita detailnya, kasihan kan," ujarku sedikit bercerita.

​"Ya Tuhan, beneran Kak? kok sampai begitu," Ivory terkejut.

​"Ya, tapi sorry. Ella tidak bisa cerita detail. Yang penting sekarang kita tahu kalau Vero sudah bahagia dan Ella juga ikut berbahagia melihatnya." Segala hal yang bersifat private tidak akan begitu saja kami bagi, meski itu antar member, kecuali oleh orang yang bersangkutan sendiri.

​"Iya Kak. Ivory juga turut berbahagia," jawab Ivory.

​"Ah, mau tambah minumnya," ujarku bangun dari duduk.

​"Kakak tuh, sudah tiga gelas, lho. Nanti mabuk tidak?" ujar Ivory.

​"Ah, kan lagi liburan. Lagian di sini sudah kita pesan dan ini private banget. Ayolah, kalau ada Dirga, Ella enggak boleh banyak minum," ujarku.

​"Iihhh, Kakak badung juga ya ..." Ivory meruncingkan bibirnya.

​Aku tetap menuju tiki bar. Bagian pantai ini memang sudah kusewa selama tiga hari, khusus untuk kami. Di sini hanya ada kami dan satu orang pelayan. Pantai ini benar-benar private, bahkan tanpa akses internet. Hanya ada surat kabar dan telepon satelit. Sejujurnya aku memang bilang dan meminta izin untuk liburan ini pada Dirga, meski tidak bilang detailnya. I'm not naughty, just need a bit privacy.

​"More margarita, please," ujarku pada si pelayan.

​Dia memang dibayar untuk menuruti permintaan tamu resor dan menemani kami di sini selama tiga hari penuh. Pada kasus khusus, dia bahkan menerima jasa 'servis spesial' jika ada tamu yang minta. Tahu dari mana? Ya, dari mengobrol dengannya. But not me, I'm loyal with my Hubbie.

​"This is your margarita, Ma'am," ucapnya tersenyum sambil menyerahkan Singapore Sling keempatku.

​"Do I look old? call me mizzes ... please," ujarku. Sepertinya aku sudah mulai terpengaruh alkohol. Aku minta Gin sih untuk Margarita-nya. Maaf, Dirga, cuma tiga hari kok.

​"Yes, Miz," jawabnya seraya menebarkan senyum.

​Kulihat sebuah surat kabar di pojok tiki bar. Kuambil karena headline beritanya menarik perhatianku. Dan benar saja, judulnya membuatku membuka mata lebar-lebar dan bahkan membuat kesadaranku kembali.

Lihat selengkapnya