Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #23

Mystery of you

Aku sudah sedang mengutak-atik generator air terbaruku. Memperbaiki beberapa bagian yang mungkin menjadi masalah kinerjanya. Pengerjaannya sempat tertunda karena banyak urusan yang meminta didahulukan. Untungnya workshop di basement memang sudah dilengkapi berbagai fasilitas untuk 'menciptakan' benda baru.

​Regi memang amat menseriusi bidang ini dan kami anak-anaknya—aku dan Marvellina—ya, jadi tertular. Tapi, kata Regi, aku memang punya sesuatu dalam diriku yang membuatku handal dalam berinovasi. Di RAGE, juga ini jadi salah satu bagianku, menciptakan mesin baru ataupun pesanan konsumen. Tentunya bersama tim dengan sistem kerja yang independen. Aku semacam Jane Doe di RAGE, dan aku lebih suka begitu. Toh, credit-nya tetap masuk rekeningku.

​"Lagi sibuk?" ucap Dirga setelah mengetuk pintu lalu masuk.

​Ia sendiri terlihat jelas baru saja berolahraga. Tubuhnya berkeringat sambil menggenggam selembar handuk dan sebotol air mineral. Suamiku tahu saja aku lagi di mana.

​"Eummm, ya, sambil iseng saja sih. Sini-sini! mau minta cium biar semangat lagi," jawabku dengan manja.

​Ia tersenyum lalu menciumku mesra. Mungkin memang lucu saja ya, sikapku yang mendadak jadi manja semenjak dinikahinya. Ya, boleh kan?

​"Ini apa?" tanyanya memandangi generatorku.

​"Prototype generator air lanjutan. Mau buat yang efisiensinya lebih tinggi, jadi biar bisa pakai air apa saja. Kalau yang pertama kan, harus pakai air berelektron tinggi, kayak air laut atau belerang," jawabku menjelaskan.

​"Wow, aku tahu sih kamu memang di bidang ini, cuma masih terkejut saja. Kamu memang ilmuwan sih, ya," Dirga memandangku kagum.

​"Ayank, bukan 'kamu', kok 'kamu', sih, memanggilnya, hufft," aku masih saja bersikap manja.

​"Haha, iya, Ayank. Gugup memanggilnya," Dirga mencoba jujur dengan perasaannya yang bahkan sampai saat ini masih belum terbiasa.

​"Ya, kalau mau dibilang ilmuwan, ya, terserah. Ella sih merasa cuma mau bikin sesuatu yang berguna saja buat umat manusia. Kalau sekarang, Ella maunya dikenal sebagai istri cantiknya Dirga," kupandangi ia seraya mengeluarkan sebuah komponen dari alatku itu.

​"Wah, aus ... harus pesan lagi," kuangkat komponen itu ke arah cahaya lampu. "Rehat dulu, lah."

​"Wah, mau Dirga pijat?" tawarnya sambil langsung memijat bahuku.

​"Hmmm, enaknya gini kalau sudah menikah. Dulu kalau penat mengerjakan, ya sendirian saja, cuma ditemani cokelat hangat," kupejamkan mata menikmati pijatan Dirga.

​"Cokelat hangat saja, tidak pakai Jack Daniels, begitu?" tanyanya. Jebakan, nih. Kutepuk dadanya sambil menggigit bibir bawahku, merasa tersindir.

​"Nope ... not my cup of tea. Marvellina sama Ourson itu, sih ... sudah dulu ah mengerjakannya," jawabku.

​"Hehe ... sudah lagi mentok ya? Ini dibiarkan dulu?" ia melirik kembali generatorku.

​"Iya ... harus pesan komponen pengubah hidro-nya dulu. Nanti paling minta Regi kirim, ada di RAGE pusat. Tuh, yang masih mengantre ada tiga lagi," aku menunjuk tumpukan proyek tertundaku.

​"Kamu sibuk juga ya ternyata meski di rumah," ia masih memijatku.

​Kutatap ia tajam, cemberut.

​"Oh iya maaf. Ayank sibuk juga meski di rumah," ia menyadari maksudku.

​Aku pun tersenyum kembali.

​"Yaaa macam itu laa. Masih sempat istirahat kok ... palingan sekarang menambah melayani suami kalau pulang," kuelus wajahnya penuh rasa sayang.

​"Eh, lihat nih. Ini bisa jadi senjata tahu?" aku beranjak ke sudut ruangan mengambil beberapa buah prototype proyektil dari lemari pajangan.

​"Senjata? senjata bagaimana?" tanya Dirga, ia terlihat tertarik.

​"Kombinasi pemanen energi dan peluru. Jadi bisa buat daya tembusnya lebih kuat. Katakanlah ini bisa menembus perisai energi yang kuat sekalipun. Kan ada tuh tank-tank yang dilengkapi perisai energi. Bisa untuk itu. Ya, Ella pikir Ayank tertarik," ujarku agak sedikit berharap apresiasi darinya.

​"Oke, wow ini bisa berguna ya," dan Dirga ternyata benar-benar tertarik. "Bisa diaplikasikan ke senapan jarak jauh?"

​"Buat sniping ya? ya, harus bikin dulu senapannya. Ella harus belajar persenjataan dulu, soalnya kurang mendalami bidang arsenalia sih," kukatakan apa adanya.

​"Serius bisa? Dirga mau satu Yank," baru kali ini kulihat ia antusias sekali akan sesuatu.

Lihat selengkapnya