Vioretta Shanum Bachdim, namamu sarat akan doa, penuh keberkahan. Wanita muslim yang diberkahi Allah SWT, setia, ramah, gemar membantu, manja, dan senang memanjakan pasangannya. Begitu penuh harapan arti namamu, bisa kulihat betapa besarnya cinta kedua orang tuamu. Hari ini, hijabmu adalah hijab terindah yang bahkan membuat iri para bidadari surga. Di balik cadar itu, bisa kulihat wajah cantik yang tersenyum bahagia.
Calon suamimu adalah pria paling beruntung di dunia, karena calon istrinya adalah wanita yang istiqomah menjaga kesuciannya hingga hari pernikahan. Menjaga hati dan raganya di jalan iman. Baru kali ini aku merasa terlampaui dalam satu hal, Vior. Imanmu telah menjaga kehormatanmu hingga hari engkau disatukan dengan imammu. Vior, kamu adalah pengantin yang penuh keberkahan dalam indahnya agama keselamatan.
Ia berjalan diiringi dua orang pengiring lalu didudukkan di samping calon suaminya. Sebentar lagi ijab kabul akan dilaksanakan.
"Muhammad Yusuf Al Farizi, ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Vioretta Shanum Bachdim alal mahri kilw dhahaban hallan."
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq."
"Sah?"
"Saaaahhhhh!!!"
Dan lalu doa pun dibacakan, hati pun penuh sukacita. Aku, Angrea, Vero, bahkan Ivory begitu khidmat berdoa untuknya sesuai kepercayaan kami masing-masing. Doa terindah untuk bidadari surga kami, agar kelak rumah tangganya sakinah, mawaddah, warahmah.
---
Kuhampiri ia, hijabnya berwarna toska, dengan sebuah tiara dari mutiara dan safir. Kini cadarnya sudah ia buka, sehingga bisa kulihat kecantikannya dalam riasan yang sempurna.
"Kakak..." Vior memelukku erat, meneteskan air mata haru.
"Selamat, ya, Sayang. Haru banget, Ella bahagia lihat Vior sudah disatukan sama pria yang Vior cintai," ujarku tak ingin melepaskan pelukanku.
"Si bungsu kecil kita sudah jadi wanita dewasa. Rea ikut bahagia, sini mau peluk juga," Angrea tersenyum sambil membuka pelukan.
"Kak Angrea, terima kasih, terima kasih banyak," Vior menyambut pelukannya, air matanya menetes semakin deras.
Vero lalu mendekat dan merentangkan tangannya juga.
"Jangan kencang-kencang, ya, ada adiknya," ujarnya—masih Vero yang kami kenal.
"Kakaaaak, hehe... terima kasih, ya, selama ini sudah hibur Vior terus," Vior memeluk Vero haru.
"Baru kali ini tahu, Vero menghadiri pernikahan yang pengantinnya bidadari surga," ucapnya sambil mencium kening Vior.
"Ivory-nya mana? Peluk juga," pinta Ivory.
"Ivory Sayang, terima kasih ya, sudah melengkapi Velvet. Vior sayang Ivory," Vior lalu memeluk Ivory dengan erat sambil berusaha mengusap air matanya yang tidak kunjung berhenti.
"Huhuhu, iya Kak. Ivory sayang Kak Vior," ucapnya, ternyata sudah ikut menangis haru.
"Cepat menyusul, ya, biar bisa arisan ibu-ibu Velvet," ujar Vero.
"Huuu, iya Kak. Tahun depan, doakan lancar," jawab Ivory.
Kami pun saling tersenyum, senyum penuh syukur. Ya Allah, segala puji bagi-Mu Tuhan semesta alam atas segala berkah dan kasih sayang-Mu yang telah mempertemukan kami dan meniupkan kasih sayang di hati kami berlima.
---
Startling moment
"Boleh nyanyi, kan, ini? Vero mau nyanyi," ujar Vero yang padahal sedang hamil enam bulan.
"Boleh, memang mau nyanyi apa?" tanya Angrea.
"Ada deh," jawab Vero sambil berjalan menuju podium kecil tempat band hiburan tampil.
Vero lalu tampak berbicara dengan para band pengiring. Lalu ia diberikan sebuah kursi untuk duduk dan sebuah mic. Musik mulai mengalun, terasa sejuk dan lembut. Para hadirin mulai melihat ke arah podium. Dan di sanalah Vero menyanyikan lagu berjudul Deen Assalam.
🎼
Killa hadzil ard mataqfii masahah
lau na’isibila samahah
Para hadirin termasuk para member Pink Velvet terkejut. Tidak satu pun dari mereka yang menyangka bahwa Vero akan menyanyikan lagu tersebut. Selain karena fakta bahwa makna lagu tersebut bersifat khusus yang berbeda dengan keyakinan Vero, mereka juga bisa merasakan bahwa Vero menyanyikannya dengan sepenuh hati. Ia menyanyikannya seakan hati dan jiwanya menyelami makna dari lagu tersebut.