Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #26

I'am the one and only bitch for you!

​Kami sedang berada di lereng, hanya kami berdua di sini. Wajar saja, area ini bisa dibilang adalah halaman belakang Wisma Maharani. Dirga tampak begitu senang dengan "mainan" barunya. Seorang pria, mau sedewasa apa pun, tetaplah anak-anak—khususnya bila berurusan dengan benda yang ia sukai.

Frisbee khusus ini memang kurancang untuk latihan menembak Dirga. Ukurannya hanya sebola tenis, namun mengeluarkan medan energi tertentu yang mampu menahan hantaman hingga 240 kg/detik. Pelontarnya pun kudesain khusus agar mampu meluncurkan hingga 25 frisbee dalam waktu tiga detik.

​Dan wow, Dirgaku sanggup mengikuti kecepatannya. Ia menembak dengan tepat sepuluh buah frisbee yang melambung di udara.

​"Duuaaaarrr!!!"

​Suara ledakannya memekakkan telinga.

​Sebenarnya sudah sekitar satu jam aku menemaninya berlatih. Sumpah, ini membosankan dan membuatku sedikit berdebar, namun apa boleh buat? Aku mencintainya.

​"Bagaimana, asyik kan?" tanyaku setelah ia kehabisan amunisi.

"Wah, habis ya? Ini hebat banget. Pelurunya terutama. Padahal kalau pakai revolver biasa, frisbee-nya tidak tergores sama sekali, tapi bisa sampai meledak pakai peluru ini," ujarnya tersenyum lebar, persis seperti anak kecil yang baru mendapat kado istimewa.

​"Eum, hmmm..." Aku mengangguk, ada rasa bangga yang menyelinap. Kuminum jus pome yang setahun terakhir menjadi menu wajib harianku. "Prototype ini mendekati sempurna. Ella ingin kekuatan tembakannya bisa menghancurkan tank berlapis medan energi, tapi dengan suara yang sehening mungkin," tambahku.

​"Wow, ini saja sudah hebat. Mungkin ini senapan sniper paling berbahaya yang pernah Dirga gunakan," ucapnya memuji.

"Nope, still far from perfect," jawabku, kembali menyesap jus pome.

​Ia berjalan mendekat setelah menyimpan senapannya di meja lipat. Tanpa sepatah kata, ia menciumku mesra. Cukup lama.

"Hmmm, jus pome-nya enak ya," ucapnya, menyadari sisa rasa jus di bibirku.

"Yup, dan berkhasiat katanya. Bagus untuk membantu kelancaran proses pembuahan," aku terlanjur menjelaskan.

​Ia mengecup keningku, lalu duduk merangkulku dari belakang. Tangannya menyelinap masuk ke balik spaghetti tank top-ku, mengelus perutku lembut hingga aku kegelian.

"Semoga membantu, ya," bisiknya mesra.

"Iya," jawabku singkat.

​"Terus kenapa Ayank cemberut?" tanyanya. Rupanya ia menyadari perubahan ekspresiku.

Aku menengadah ke langit. Matahari siang itu terasa menyilaukan, padahal biasanya halaman belakang Wisma Maharani ini cukup teduh.

​"Eum, empat tahun delapan bulan, dan Ella belum bisa memberi Dirga keturunan. Vero dan Vior saja sudah punya satu," aku mengutarakan kegelisahan yang selama ini kupendam.

"Memang Dirga kelihatan seperti orang yang meributkan hal itu?" tanyanya sembari mengeratkan pelukan.

​Kutatap wajahnya, tersenyum kecil, lalu menggeleng.

"Tapi tetap saja, Ella merasa sisi perempuan dalam diri Ella belum sempurna sebelum bisa memberikan keturunan. Wajar kan kalau Ella khawatir Ayank kecewa?" Aku kembali menatap barisan burung yang terbang bebas di angkasa.

​Ia mengecup keningku lagi.

"Kalaupun takdir memutuskan kita hanya akan berdua saja, Dirga akan tetap mencintai Ella," ia menatapku begitu dalam. Aku bisa merasakan ketulusan di setiap kata-katanya.

Lihat selengkapnya