Kami sedang berada di lereng, hanya kami berdua di sini. Ya, wajar sih, area sekitar ini bisa dibilang adalah halaman belakang Wisma Maharani. Ia tampak senang dengan "mainan" barunya. Ya, seorang pria mau sedewasa apa pun tetaplah anak-anak, khususnya bila berurusan dengan benda yang dia suka.
Frisbee-frisbee khusus yang memang kurancang untuk latihan menembak Dirga. Frisbee kecil seukuran bola tenis yang mengeluarkan medan energi tertentu yang membuatnya bisa menahan hantaman hingga 240 kg/detik dengan pelontarnya yang kudesain sendiri agar bisa menembakkan hingga 25 frisbee dalam tiga detik.
Dan wow, Dirgaku sanggup mengikuti kecepatannya dan menembak dengan tepat sepuluh buah frisbee yang dilontarkan.
"Duuaaaarrr!!!"
Suara ledakannya memekakkan telinga.
Sebenarnya sudah sekitar satu jam aku menemaninya "bermain" tembak-menembak. Sumpah, membosankan dan bikin deg-degan sebenarnya, cuma ya aku cinta dia.
"Bagaimana, asik kan?" tanyaku setelah ia sepertinya kehabisan peluru.
"Wah, habis ya? ini hebat banget. Pelurunya terutama. Padahal kalau pakai revolver biasa, frisbee-nya tidak tergores sama sekali, tapi bisa sampai meledak pakai peluru ini," ujarnya tersenyum senang, persis seperti anak kecil dapat mainan baru.
"Eum, hemmm ..." Aku mengangguk, agak bangga dengan karya buatanku.
Kuminum jus pome yang memang setahun ini jadi menu wajib harianku.
"Ini prototype yang mendekati sempurna. Ella mau kekuatan tembakannya sampai bisa menghancurkan tank berlapis medan energi, tapi dengan suara yang sehening mungkin," tambahku.
"Wow, ini saja sudah hebat. Ini mungkin senapan sniper paling berbahaya yang pernah Dirga gunakan," ucapnya, mungkin bermaksud memujiku.
"Nope, still far from perfect," jawabku, kembali meminum jus pomeku.
Ia berjalan mendekat setelah menyimpan senapannya di meja lipat yang kami bawa. Tanpa mengatakan apa-apa sebelumnya, ia menciumku mesra, cukup lama.
"Hmmm, jus pome-nya enak ya," ucapnya, rupanya ada jus pome yang masuk ke mulutnya.
"Yup, dan berkhasiat katanya. Bagus untuk membantu kelancaran proses pembuahan," aku terlanjur menjelaskan.
Ia kembali mengecup keningku lalu duduk sambil merangkulku dari belakang. Tangannya masuk ke dalam spaghetti tank top-ku, mengelus-elus perutku, membuatku kegelian.
"Semoga membantu, ya," ujarnya dengan mesra.
"Iya," jawabku.
"Terus kenapa Ayank cemberut?" tanyanya, rupanya ia memperhatikan ekspresiku dari tadi.
Aku menengadah ke langit, merasa bahwa matahari siang hari itu cukup silau padahal di halaman belakang Wisma Maharani ini biasanya cukup teduh.
"Eum, empat tahun delapan bulan, dan Ella belum bisa memberi Dirga keturunan. Vero dan Vior saja sudah punya satu," ucapku padanya mengenai kegelisahan hatiku.
"Memang Dirga kelihatan seperti orang yang meributkan hal itu?" tanyanya kala merangkulku dengan lebih erat.
Kutatap wajahnya, memberikan senyum, lalu menggelengkan kepala.
"Tapi tetap saja, Ella merasa sisi perempuan dalam diri Ella belum sempurna sebelum bisa memberikan keturunan. Wajar kan kalau Ella khawatir Ayank kecewa?" Aku menengadah lagi ke arah langit melihat barisan burung yang terbang di langit.
Ia mengecup keningku lalu menciumku.