Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #27

Question

"Halo, Ver. Kosong tidak minggu depan?" tanyaku.

"Kosong sih, Madam. Memang mau mengajak treatment ke mana?" tanya Vero antusias.

"Ke Surabaya," jawabku singkat.

"Eemmm, Surabaya... jauh juga. Ke mana?" Vero mulai menebak-nebak.

"Temani Ella ke mansion Sabugha, yuk. Ada perlu," aku pun menyatakan maksudku.

​"Ya Allah, Madam! Vero sudah menikah dan punya anak. Madam juga punya suami. Tobat!" balas Vero konyol.

"Eeeeehhh, sembarangan! Bukan seperti dulu... ini urusan kesehatan," aku mencoba menjelaskan.

"Kesehatan siapa? Madam tidak sedang sakit, kan?" Suaranya terdengar khawatir. Seperti biasa, otak Vero langsung melakukan deduksi.

​"Kata Dirga—ini Dirga lho ya yang merekomendasikan—Sabugha punya terapi untuk mengatasi masalah sulit keturunanku. Aku mau coba," jelasku.

"Ya Allah... tuh kan, ujung-ujungnya begitu," Vero kembali usil.

"Jitak nih! Bukan Sabughanya, tapi dokter pribadinya. Aku belum tahu detailnya, tapi Sabugha itu teman baik Dirga dan aku tahu kredibilitasnya bagaimana."

"Teman baik suami sekaligus mantan... hmmm," ucap Vero.

"Iiihhh, Veroooo!" sanggahku gemas.

"Hehe, iya, iya. Oke, nanti Vero temani, tapi Baby Theo ikut ya?"

"Oke. Perlu bawa nanny?" tawarku.

"Enggak usah, Madam. Mending beliin Theo hadiah aja," ucap Vero melancarkan jurus negosiasi.

"Oke, siap," jawabku mantap.

---

​Kami duduk di ruang tamu mansion Sabugha, menyesap imperial tea—sesuatu yang khas setiap kali bertemu dengannya. Namun, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Seorang wanita. Ia bukan sekretaris, pelayan, apalagi keluarga Sabugha. Wajahnya oriental, mengenakan penutup kepala, mungkin seorang mualaf. Ia menuangkan teh dengan sangat sopan, lalu mempersilakan kami menikmati jamuan.

​"Silakan dinikmati," ujar Sabugha.

"Banyak lho yang ingin aku tanyakan," ujarku menatapnya tajam.

"Pastinya," jawab Sabugha. Ia jelas sadar aku sedang kesal.

​"Ke mana saja? Tiga tahun menghilang. Bukan cuma tidak bisa dihubungi, tapi benar-benar totally disappeared," tanyaku.

"Complicated," jawabnya singkat.

"Aku tidak bisa menerima jawaban itu. Yang jelas!" aku memaksanya.

"Haaah... oke. Cast away to another planet," jawabnya.

​Apa-apaan Sabugha ini? Bercanda terus? Aku terdiam menatapnya lurus.

"Iya, aku terdampar di antah berantah tanpa akses untuk kembali, dan baru bisa pulang sekarang," jawabnya, kali ini terdengar sedikit lebih masuk akal—dalam standarnya.

Lihat selengkapnya