"Halo Ver. Kosong tidak minggu depan?" tanyaku.
"Kosong sih Madam. Memang mau ngajak treatment ke mana?" tanya Vero dengan antusias.
"Ke Surabaya," jawabku.
"Eemmm Surabaya, jauh juga. Ke mana?" Vero mulai menebak-nebak.
"Temani Ella ke mansion-nya Sabugha yuk. Ada perlu," aku pun mengatakan maksudku.
"Ya Allah, Madam. Vero sudah menikah dan punya anak. Madam juga sudah punya suami. Tobat!" balas Vero dengan konyol.
"Eeeeehhh, sembarangan! bukan seperti waktu dulu ... urusan kesehatan," aku coba menjelaskan.
"Kesehatan siapa? Madam tidak lagi sakit, kan?" Suaranya terdengar khawatir, seperti biasa otak Vero akan melakukan deduksi.
"Kata Dirga, ini Dirga lho ya yang merekomendasikan. Sabugha punya terapi untuk mengatasi masalah sulit mendapat keturunanku. Aku mau coba," jelasku.
"Ya Allah ... tuh kan ujung-ujungnya begitu," Vero kembali usil.
"Jitak nih ... bukan Sabughanya, tapi dokter pribadinya. Aku juga belum tahu detailnya, tapi Sabugha kan teman baiknya Dirga dan aku tahu kredibilitas Sabugha bagaimana," Kembali kucoba menjelaskan.
"Teman baik suami sekaligus mantan ... hmmm," ucap Vero.
"Iiihhh Veroooo," sanggahku gemas.
"Hehe iya, iya, iya, oke. Nanti Vero temani, tapi Baby Theo ikut ya?" ujarnya mengajukan syarat.
"Oke. Perlu bawa nanny?" tawarku.
"Enggak usah, Madam. Mending beliin Theo hadiah saja," ucap Vero melancarkan jurus bernegosiasi.
"Oke, siap," jawabku mantap.
---
Kami duduk di ruang tamu mansion Sabugha, dan sudah sedang disediakan imperial tea. Sesuatu yang khas setiap bertemu Sabugha. Namun, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Seorang wanita, ya! Seorang wanita yang bukan sekretaris Sabugha, bukan pelayannya, bukan keluarganya juga. Ia berwajah oriental, jelas keturunan China atau Korea, entah, dan mengenakan penutup kepala, mungkin seorang mualaf. Wanita itu dengan hati-hati menuangkan teh ke cangkirku dan Vero, lalu dengan amat sopan ia membuat gestur mempersilakan kami untuk menikmati jamuannya.
"Silakan dinikmati," ujar Sabugha.
"Banyak lho yang mau aku tanyakan," ujarku seraya menatapnya tajam.
"Pastinya," jawab Sabugha, jelas nampak ia sadar bahwa aku agak kesal.
"Silakan," lanjutnya.
"Ke mana saja? tiga tahun menghilang, bukan cuma tidak bisa dihubungi, tapi totally disappeared," tanyaku.
"Complicated," jawabnya singkat.
"You know, don't you?! I can't bare with that answer, yang jelas!" aku paksa ia menjelaskan.
"Haaah oke. Cast away to another planet," jawabnya.
Apa sih nih Sabugha? bercanda terus? sesulit itu ya memberitahuku? aku terdiam menatap lurus padanya.
"Iya, aku terdampar di antah berantah, tanpa akses untuk kembali ke sini, dan baru bisa kembali sekarang," jawabnya agak lebih masuk akal.
"Terus bisa balik bagaimana?" tanyaku lagi.
"Itu kalung amethyst yang kamu pakai. Itu dipasang nano tech yang hebatnya memberiku koordinat untuk kembali," kembali Sabugha membeberkan penjelasannya.
"Oh, oke. Emm ... Qui est-ce?*" aku melirik sekilas ke si wanita di sebelah Sabugha, berasumsi saja ia tidak paham bahasa Prancis.
"Ma femme**," jawab Sabugha agak lambat.
Oohhhh, rupanya seleranya yang sipit-sipit begini. Pantas saja, terjawab sudah penasaranku selama ini.
"Oke ... ke mana pria yang bilang tidak kepikiran nikah karena sibuk mencintai bumi?" sedikit protes, tapi ya sudahlah.
"Ini juga demi tujuan itu kok," jawabnya, sungguh absurd.
"Try to joke me? Vero do better at joke," jawabku yang agak tidak bisa menerima alasannya.
Vero menatapku, lalu tersenyum lebar. Ia masih sedang menggendong baby Theo yang tertidur.
"Bagaimana kalau coba fokus ke terapi yang akan kita lakukan?" tawar Sabugha.