Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #28

Sister is a pair

"Maaf Ella, aku tidak bisa ikut menemani, ada urusan mendesak. Semoga operasinya lancar," ujar Sabugha sembari menaiki double cabin-nya.

​"Lha, aku ditinggal sendiri sama Nindy? dia bahkan tidak bisa bahasa Indonesia Lana," protesku.

​"Ada para asisten, dan lagi Nindy sudah lebih dari cukup untuk melakukan operasinya, I'm sure. Aku juga sudah menyetel Astraz agar bisa membantu kalian berkomunikasi. Selama masih di dalam rumah, kalian bisa mengobrol," jawabnya sembari mengenakan kacamata hitam.

​"Oh, automatic translation?" ujarku agak lega.

​"Iya, semalaman lho aku mengerjakannya," ujar Sabugha pamer sambil menyalakan mesin mobilnya.

​Aku mengangguk-angguk dengan raut 'oke, kuakui kamu hebat'.

​"Oke, aku berangkat ya Ella," ucapnya berpamitan padaku.

​"Oke, hati-hati Lana," ucapku mengiringi kepergiannya.

---

​Nindy: "Mohon buka semua pakaian dan aksesorismu."

​Kami sudah sedang ada di ruangan operasi. Hanya aku dan Nindy, serta berbagai alat medis untuk keperluan tindakan ini.

​Kubuka semua pakaianku dan melepaskan semua aksesoris yang kupakai. Nindy lalu menyimpannya di dalam sebuah kotak yang lalu disimpan di sebuah lemari. Kami berkomunikasi melalui Astraz, AI buatan Sabugha.

​Nindy: "Kita bisa berbicara melalui gelombang otak yang langsung diterjemahkan ke dalam bahasa kaum-mu lalu dipancarkan langsung pada penerima. Selama operasi ini berjalan, aku akan membiusmu dari tulang punggung hingga ujung kaki. Kau tidak akan merasakan sakit."

​Daniella: "Operasi ini butuh waktu berapa lama?"

​Nindy: "Estimasinya delapan jam menurut waktumu."

​Daniella: "Wow, lama juga. Aku kira ini operasi kecil karena hanya ada kita berdua saja?"

​Nindy: "Ini operasi besar tentu saja. Harusnya jadi yang tersulit kedua yang pernah aku lakukan. Tenang saja, tingkat keberhasilannya 87%."

​Daniella: "Ini serius kamu bisa melakukannya sendirian? kamu tidak butuh asisten begitu ... untuk mengambilkan alat atau menyuntikkan obat ketika kedua tanganmu sibuk?"

​Nindy: "Aku bisa melakukannya dengan enam tanganku yang lain."

​Apa sih nih? kok aku berasa dibercandain, ya, padahal sedang akan dilakukan pembedahan besar berdasarkan penjelasannya sebelum ini. Ya, anggap saja ia percaya diri dengan kemampuannya. Lagipula, aku sudah tidak punya ide lain untuk masalah kesuburan ini.

​Nindy: "Berbaringlah menelungkup. Kamu bisa memasukkan wajahmu ke lubang di ranjang itu. Selama operasi, kamu diharapkan tidak mengangkat lehermu karena mungkin bisa berpengaruh."

​Daniella: "Baiklah. Ini berarti selama operasi aku dalam keadaan sadar? selama delapan jam."

​Nindy: "Betul."

​Daniella: "Kalau aku bosan bagaimana?"

​Nindy: "Kita mengobrol saja atau kau bisa tidur."

​Aku pun berbaring seperti yang dibilangnya. Ini sudah seperti sesi pijat saja. Perlahan-lahan efek bius mulai terasa. Tubuhku mati rasa dari perut, selangkangan, ke kaki. Dan sepertinya operasinya sudah dimulai saat sebuah pendar lampu berwarna hijau muncul. Aku kesulitan bisa melihatnya karena wajahku menghadap lantai.

​Daniella: "Nindy, kau kangen kampung halamanmu tidak?"

​Nindy: "Sedikit. Aku sudah tidak punya orang yang kurindukan di sana."

​Daniella: "Serius? memangnya kau anak rumahan?"

​Nindy: "Aku tidak pernah keluar kecuali untuk mengambil spesimen. Satu-satunya orang terdekatku hanya Azalea."

​Daniella: "Azalea itu siapa?"

​Nindy: "Saudariku, tapi lebih muda. Dia jauh lebih berani untuk keluar tempat tinggal kami."

​Daniella: "Oh, adik. Lalu apa dia tidak apa-apa kau tinggalkan?"

​Nindy: "Azalea sudah meninggal."

​Aku jadi merasa tidak enak hati, tapi mana aku tahu, kan.

​Daniella: "Oh, maaf. Aku turut berbelasungkawa."

Lihat selengkapnya