"Maaf Ella, aku tidak bisa ikut menemani, ada urusan mendesak. Semoga operasinya lancar," ujar Sabugha sembari menaiki double cabin-nya.
"Lha, aku ditinggal sendiri dengan Nindy? Dia bahkan tidak bisa bahasa Indonesia, Lana," protesku.
"Ada para asisten. Dan lagi, Nindy sudah lebih dari cukup untuk melakukan operasinya, I'm sure. Aku juga sudah menyetel Astraz agar bisa membantu kalian berkomunikasi. Selama masih di dalam rumah, kalian bisa mengobrol," jawabnya sembari mengenakan kacamata hitam.
"Oh, automatic translation?" ujarku agak lega.
"Iya, semalaman lho aku mengerjakannya," ujar Sabugha pamer. Aku hanya mengangguk-angguk—oke, kuakui dia hebat.
---
Kami sudah berada di ruang operasi. Hanya aku, Nindy, dan berbagai peralatan medis yang tampak asing. Melalui Astraz—AI buatan Sabugha—kami berkomunikasi.
Nindy: "Mohon buka semua pakaian dan aksesorismu."
Aku menurut. Nindy menyimpannya dengan rapi di sebuah kotak steril.
Nindy: "Kita bisa berbicara melalui gelombang otak yang diterjemahkan langsung ke bahasa kaummu. Selama operasi, aku akan membiusmu dari tulang punggung hingga ujung kaki. Kau tidak akan merasakan sakit."
Daniella: "Operasi ini butuh waktu berapa lama?"
Nindy: "Estimasinya delapan jam menurut waktumu."
Daniella: "Delapan jam? Aku kira ini operasi kecil karena hanya ada kita berdua."
Nindy: "Ini operasi besar. Tingkat keberhasilannya 87%. Harusnya jadi yang tersulit kedua yang pernah kulakukan."
Daniella: "Kamu serius bisa melakukannya sendirian? Tidak butuh asisten untuk mengambilkan alat?"
Nindy: "Aku bisa melakukannya dengan enam tanganku yang lain."
Aku tertegun. Enam tangan? Apa aku sedang dibercandai tepat sebelum pembedahan besar? Namun, aku sudah tidak punya pilihan lain. Aku ingin hamil.
Nindy: "Berbaringlah menelungkup. Masukkan wajahmu ke lubang ranjang itu. Jangan mengangkat lehermu selama prosedur."