"Wow Madam, serius kelihatan tambah muda deh," ujar Vero antusias.
"Haha makasih. Yang dioperasi tumorku, bukan plastic surgery. Guyon saja tuh Vero," jawabku menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan Vero yang masih suka bercanda di segala situasi.
"Lha, serius Madam, sudah lihat cermin belum sih?" Vero masih bersikeras sambil memicingkan mata. "Perasaan Vero tidak minus seperti Ivory deh," ujarnya dengan raut wajah tidak percaya.
"Aztras, cermin," ujarku memberikan perintah pada AI buatan Sabugha.
Lalu sebuah cermin hologram muncul. Kalau tidak melihat sendiri, aku tidak akan percaya. Sebagai orang yang menyukai sains, kritis adalah dasar mindset-ku. Aku tidak akan memercayai sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Dan kali ini, aku percaya perkataan Vero.
"Owh, woow..." ucapku, kagum melihat wajahku yang menjadi jauh lebih muda, seperti waktu aku masih usia sekolah. Bagaimana caranya? Apa yang Nindy lakukan? Pengangkatan tumor bisa meremajakan kulit? Ataukah selama aku tertidur ia mengutak-atik wajahku? Tapi masa hasilnya seinstan ini? Mana Nindy?
"Kok bisa ya? Ella tidak tahu lho Ver, serius," ucapku jujur.
"Madam minta perawatan apa? Vero juga mau sih," Vero malah jadi tertarik.
Tiba-tiba layar hologram muncul bertuliskan 'panggilan oleh Sabugha'. Lantas kuangkat saja. Penampakan video call dari Sabugha muncul.
"Ya dengan rumah sakit jiwa, ada yang bisa dibantu?" jawab Vero bercanda. Sabugha hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Nindy bilang operasinya berhasil, selamat ya," ujarnya.
"Lihat Lana, ini Nindy yang lakukan kah?" aku menunjuk wajahku.
"Owh bukan, itu efek karena energimu sudah bebas tanpa resistor. Regenerasi selmu jauh lebih baik," jawabnya.
Aku lumayan paham maksudnya meski terdengar aneh. "Berarti selama ini energiku terhambat? Harusnya aku secantik ini?"
"Yep," jawab Sabugha singkat.
"Vero juga mau, Mas Sabugha," ujar Vero tidak segan-segan.
"Ah, hmmm... kasus ini khusus ke Daniella saja. Mbak Veronica bukan turunan keluarga Mahaseroja, kan?"
"Bukan," jawab Vero.
"Ya tidak bisa. Pola energinya beda. Nanti saya kasih tips untuk meningkatkan regenerasi sel lewat metode pernapasan saja ya," saran Sabugha.
Vero menggembungkan pipi, cemberut. Aku menatapnya sembari menaik-turunkan alis.
Nindy: "Ya, jadi memang harusnya wujudmu seperti ini."
Daniella: "Wow, masih terkejut saja. Padahal aku sudah mau 28 tahun, tapi wajahku kembali seperti umur 20."
Veronica: "Vero lebih terkejut lagi, kenapa Vero tidak bisa, huuhh." (Daniella memelukku yang masih kesal).
Nindy: "Ah ya, ya... kamu masih muda ya. Aku sudah 2.900 tahun dari menetas."
Sumpah, ini cewek jayus bercandanya. Bilang saja 29 tahun, mana 'menetas' lagi.