"Daniella ya? benar kan Daniella?" sebuah suara memecah konsentrasi Daniella yang sedang memeriksa laporan.
"Eh, Teh Diah! ya Allah, sehat Teh?" tanya Daniella.
"Alhamdulillah sehat. Ya Allah, kamu tambah cantik aja, lama enggak ketemu," ujar Teh Diah seraya tersenyum.
"Bisa aja, Teteh juga kok. Ini Fattur ya? sudah gede aja," Daniella mengelus kepala seorang anak di sebelahnya.
"Iya, sudah bisa minta jajan. Ini mau beliin es krim mumpung Teteh sudah gajian sama ada voucher diskon, nih," ucap Teh Diah.
"Oh, yang ini tidak bisa dipakai. Sudah lewat tanggal promonya Teh," Daniella menjelaskan.
"Yaaah, enggak dapat potongan harga dong," Teh Diah menyesal mendengarnya.
"Teteh tuh gimana sih? ngapain pakai voucher? tinggal pesan saja maunya apa, sama jangan lupa bungkusin buat Ibu," jawab Daniella disertai sebuah senyum.
"Eh, yang benar Ella?" Teh Diah merasa tidak enak hati atas tawaran yang Daniella berikan.
"Ya, benar dong," ucap Daniella lalu memanggil seorang karyawan.
"Kak, tolong buatkan apa saja yang dipesan Mbak ini ya. And it's free," ujar Daniella, dijawab dengan anggukan oleh si karyawan mengerti maksud atasannya itu.
Setelah Teh Diah memesan, mereka pun duduk bareng dan mengobrol.
"Bagaimana kabar Ibu, Teh? Waktu nikahan Daniella datang tidak?" tanyanya.
"Duh, iya, maaf Ella. Kami datang, cuma pas sampai gerbang ditanyain undangan. Undangannya ketinggalan jadi tidak boleh masuk. Padahal sudah bilang kenalannya Daniella, tapi tetep aja," Teh Diah menjelaskan.
"Aaah ... sudah Ella duga. Ya sudah, maaf ya. Memang tugasnya satpam menyaring orang yang masuk, sih," Daniella mengepalkan tangan kiri dan menumbukkannya ke telapak tangan kanannya.
"Ya sudah. Lagian memang agak minder, yang datang mobilan semua, kelihatan mewah dan berkelas lagi," ujar Teh Diah.
"Eeh, ya tidak apa-apa, Teh. Kan Ella yang mengundang Teteh dan Ibu," jawab Daniella.
"Iya, kabar Ibu bagaimana?" Daniella kembali mengulang pertanyaannya.
"Ya namanya orang tua, sekarang kadang suka ngedrop. Lagi rutin sebulan sekali ke rumah sakit. Ibu masih belum sepenuhnya ikhlas sama kematiannya Adrian," jawab Teh Diah terlihat sedih.
"Ya Allah, Ella paham. Kita semua kehilangan Adrian," Daniella menahan dagunya dengan tangan seraya memandang ke luar jendela resto.
"Surat dari Adrian sampai, kan? Maaf Teteh telat memberikannya, itu juga enggak sengaja nemu," ujar Teh Diah menyinggung soal surat terakhir yang ditulis Adrian.
"Iya sampai Teh. Sedih sih pas baca. Ya, ambil hikmahnya saja," jawab Daniella seraya memandang Teh Diah.
"Teteh kurang paham sih kenapa kalian putus. Padahal Ibu sama Teteh merestui hubungan kalian," Teh Diah tampak menyayangkan.
"Ya, mungkin belum jodoh aja, Teh. Kita doakan saja Adrian tenang di alam sana, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya," ucap Daniella seraya memegang tangan Teh Diah dengan maksud menghibur.
"Iya, terima kasih. Kamu memang wanita yang baik. Beruntung banget yang jadi suami kamu, Ella," Teh Diah menyambut dengan menggenggam balik tangan Daniella.
"Terima kasih Teh," Daniella memberikan balasan dengan tersenyum hangat.
Pesanan take away Teh Diah pun sudah tiba dan diantarkan oleh seorang karyawan. Daniella juga lalu membisikkan sesuatu pada karyawan itu. Dan setelah si karyawan mengangguk lalu menutup antar pesanannya dengan menyapa Fattur, ia pun bergegas kembali.
"Warungnya bagaimana, Teh?" tanya Daniella.
"Alhamdulillah jalan, membantu buat memenuhi kebutuhan harian. Terima kasih, ya, jasanya Ella itu," ujar Teh Diah penuh rasa syukur.
"Tidak seberapa Teh. Yang penting ada manfaatnya," jawab Daniella tanpa melebih-lebihkan.
Tidak lama kemudian si karyawan datang membawa sebuah amplop putih yang agak besar. Daniella pun mengambil sejumlah uang dari tasnya lalu memasukkannya ke dalam amplop kemudian menyerahkannya pada Teh Diah.
"Ini untuk bantu pengobatan Ibu. Maaf Ella tidak bawa cash banyak," ujarnya.
"Ya Allah, tidak usah. Jadi enggak enak ngerepotin Ella terus," Teh Diah merasa segan.
"Tidak apa-apa. Ella malah tersinggung nih kalau Teteh tidak menerima," Daniella memaksa.
"Ya Allah, ya sudah. Terima kasih ya. Ini banyak banget," ujar Teh Diah terkejut dengan tebalnya amplop yang diberikan.
"Teh, doakan aku ya, biar cepat ngisi," pinta Daniella.
"Siap, tiap salat akan selalu Teteh doakan. Semoga Ella cepat dikaruniai keturunan yang saleh salehah, membanggakan orang tuanya, cerdas, berguna bagi bangsa dan negara, serta agama," ucap Teh Diah diiringi doa.
"Aamiin Teh, terima kasih ya," jawab Daniella tersenyum.
Keduanya lalu berpisah kala Fattur menyelesaikan menyantap makanan dan es krimnya.
---