Life of Maharani 3

Wachyudi
Chapter #32

Met again somehow 2

Malam hari di sini memang indah, tidak seperti di rumah kami di Manoa. Meski sama-sama cerah berbintang, namun di Wisma Maharani langit berbintangnya tampak jelas, bersih, dan luas.

​Aku terbangun, mungkin sekitar pukul tiga pagi sekarang. Aku beranjak ke arah gazebo di rumah ini. Spot di sini memang paling bagus dan lagi sepertinya aku ingin menikmati segelas wine setelah tujuh ronde melayani Daniella tadi malam.

​"Tu n'arrives pas à dormir?" tanya suara wanita dari belakangku ketika kutuang wine-nya, yang ternyata adalah Francoise. Aku cukup terkejut tidak bisa merasakan kedatangannya, meski mungkin karena aku memang sedang mode santai saja.

"C'est quoi?" balasku berusaha menggunakan bahasa Prancis yang aku paham.

"Wow, tu commences déjà à parler un peu Français," balas Francoise semakin tidak kumengerti.

"Ah I will show my Indonesian too ... tidak bisa tidur Dirga?" ujarnya cukup membuatku terkejut ia bisa berbahasa Indonesia.

​"Ah, tadi terbangun saja. Francoise bisa bahasa Indonesia?" jawabku sekaligus bertanya.

​"Aku belajar dari Paman Reginald, perlu juga ... untuk, ya ... pekerjaan," jawabnya sambil tersenyum kecil.

Sejujurnya memang caranya mengucapkan bahasa Indonesia terdengar Prancis sekali. ​Ia sudah sedang menikmati sebatang rokok.

"Cigarette?" tawarnya sambil menyodorkan sebungkus rokok.

​"Maaf, aku tidak merokok, tapi terima kasih," jawabku sambil tersenyum bermaksud menolak dengan sopan.

"Oh sure, Daniella pasti marah ya, haha," ucapnya sambil tertawa geli. Kujawab lewat anggukan dan juga ikut tersenyum geli mengingat bagaimana marahnya Daniella kala dulu melihat security di rumah kami kepergok merokok di dekat rumah.

​"Di sini memang pemandangannya bagus, aku suka bintang-bintangnya," ucapnya menengadah ke langit ke arah gugusan bintang Pleiades.

​"Iya, aku dan Daniella juga suka duduk di sini untuk sekadar memandangi bintang-bintang," timpalku menjawab ucapannya.

​Kami terdiam cukup lama, ini wajar. Aku sebenarnya hanya sedikit mengenal keluarga Tuan Reginald. Daniella juga jarang menceritakan tentang mereka, hingga cukup canggung bila harus duduk berbincang berdua seperti saat ini.

"You know, eum Paris February 9, 2013, aku mendapatkan misi untuk menyingkirkan seorang delegasi dari Indonesia. Dan misi itu gagal kutuntaskan," tiba-tiba Francoise bercerita.

​Apa ini, misi? menyingkirkan delegasi dari Indonesia? dia sedang mengarang atau apa?

"Kau tahu mengapa misiku gagal?" tanyanya memandangku.

​Kupandang wajahnya sambil berusaha mengingat-ingat ada apa di tanggal 9 Februari 2013 yang berhubungan denganku. Dan dalam waktu kurang dari seperempat menit aku ingat bahwa aku pernah melakukan misi pengawalan menteri luar negeri untuk kerja sama di bidang teknologi transportasi.

"Kutembakkan peluru pertama, sasaran tepat, arah angin bagus, altitude sempurna. Itu harusnya jadi kerjaan yang bersih. Tapi apa ... sebuah peluru bertabrakan dengan peluruku seakan itu sihir," Francoise menarik napas sejenak.

"Aku cukup kaget, dan lalu kucoba menembakkan peluru lagi, mencoba peruntunganku. Namun bahkan tembakan kedua dibatalkan oleh tembakan yang sama, oleh penembak yang sama ... pelurunya mengenai senapanku sebelum aku sempat menembak. Posisiku ketahuan sehingga aku harus membatalkan misinya," ujarnya.

Lihat selengkapnya