Life Of Maharani 4

Wachyudi
Chapter #1

Patience has paid off.

"Hmmm oke okey ...okey ...." kubaca instruksi yang tertulis di kemasannya. Lalu kusiapkan semuanya. Kubaca ulang, karena aku tidak mau sampai salah melakukannya. Padahal empat tahunan yang lalu aku terus menerus melakukannya. Paling tidak sebulan sekali aku akan iseng melakukan ini.

Semua yang kubutuhkan sudah kusiapkan dengan maksud agar tidak ada satupun yang terlewat. Oh Ya Allah ini rasanya begitu mendebarkan, perasaan ini begitu terasa membuncah di dada.

"Ok urin sudah, pregnant testnya sudah, handphone buat foto ready, and now saat yang paling mendebarkan," ujarku ngomong sendiri, berceloteh sendiri, merasa gemash sendiri.

Aku sedang berada dalam kondisi paling greget dalam hidupku. Momen yang baru kali ini bisa kurasakan seumur hidupku. Hal yang memang sedang amat kunikmati. Dan begitu amat kutunggu-tunggu dengan sabar.

Aku bahkan mengeluarkan lidahku dan menyentuhkannya ke philtrumku saking tegangnya. Dahiku mengkerut saat dengan hati-hati kufokuskan pandanganku pada satu titik.

Pelan-pelan kucelupkan ujung pregnant test ke cairan urin yang baru saja kutampung, urin setelah baru kusadari sudah dua minggu lebih empat hari berhenti menstrulasi.

Ini benar kan ya seperti ini? ujungnya yang dicelupkannya tidak kebalik kan? urin memang harus berwarna emas kan? kenapa aku jadi bodoh. Manusia memang cenderung menjadi bodoh saat terlalu senang atau terlalu marah. Fenomena ini sering disebut sebagai "Emotional hijacking" atau pembajakan emosi. Secara biologis dan psikologis, ada alasan kuat mengapa kemampuan berpikir logis kita menurun drastis saat berada dalam kondisi emosi yang ekstrem, baik itu positif maupun negatif.

Saat terlalu senang, otak dibanjiri oleh dopamin yang membuat kita fokus pada kesenangan itu sendiri. Hal ini membuat kita mengabaikan risiko atau konsekuensi jangka panjang, yang sering berujung pada keputusan impulsif yang konyol. Ah kenapa juga otakku berpikir tentang hal ini? sepertinya benar! dopamin sedang membanjiri otakku dan menutup prefrontal cortexku.

Kuangkat pregnant testnya, dan dengan cepat hasilnya keluar, pelan-pelan lah aku suka deg-degannya.

Aku yakin bahwa mataku normal, sehat, dan dalam keadaan prima. Dan aku tidak ragu atas apa yang sedang kulihat dengan mata kepalaku sendiri ini. Dua ... dua garis ... berwarna merah ....

Aku hamil ...

Iya! aku hamil ...

Dirgaaaa aku hamil ... hahaha!

Maunya sih aku berjingkrak sambil koprol kebelakang, meski bisa-bisa saja, tapi tentu tidak boleh dong. Saat ini aku setidaknya harus menenangkan diriku agar tidak ada hal berbahaya yang akan kulakukan karena tadi ... terlalu senang.

"Hahahhaaaa ... aku hamiiiiillll ..." Teriakku memenuhi seisi rumah. Tidak peduli akan terdengar oleh para asisten atau tidak. Bukan ... aku mau mereka semua mendengarnya! Aku mau semua manusia yang saat ini bisa kutemui mendengarnya.

Aku mau Marvellina mendengarnya, Aku mau Erik mendengarnya. Aku mau Mbok Rum mendengarnya. Aku mau Mira mendengarnya. Aku mau Nengsih mendengarnya Aku mau Pak Handoko mendengarnya. Aku mau Pak Joko mendengarnya. Bahkan kalau bisa, seluruh warga desa Pasawahan ini mendengarnya.

Aku hamil ya aku hamil dan aku bahagia.

Aku ingin mengucapkannya terus seakan sedang bertasbih. Aku akan mengucapkannya terus hingga ini menggaung se-antero jagad raya. Hingga satu Bimasakti ini mengetahuinya. Dengan perasaan penuh di dada. Dengan seluruh rasa syukur yang bisa kuhaturkan pada-Nya. Wahai alam semesta dengarlah Daniella Maharani hamil! Benar! Daniella Maharani hamil!

---

(Dalam percakapan grup chat)

Lihat selengkapnya